BERBAGI

Saya baru saja berkenalan dengannya dalam sebuah sesi observasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)—program mengajar di sekolah bagi mahasiswa pendidikan—ketika ia berkisah tentang kesehariannya. Ia seorang gadis yang periang. Di antara kawan-kawannya, ia terbilang menonjol. Dalam praktikum merakit komputer yang pernah saya ikuti, ia jadi satu dari sekian orang yang paling tangkas. Saya cukup kaget ketika ia mengaku baru paham cara mematikan komputer setahun sebelumnya.

Ia adalah Marlina, satu dari tiga ratusan siswa yang bersekolah di salah satu SMK swasta—calon tempat saya PPL tahun lalu—di Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Ya, jumlah siswanya memang tak banyak mengingat gedung sekolah yang juga tak luas. Untuk tempat parkirnya saja, sekolah ini mesti berbagi dengan perguruan tinggi yang berada tepat di sebelahnya, dan masjid besar yang juga tak jauh dari keduanya.

Kalau kita menggunakan standar kecantikan versi model sabun muka, sabun mandi, atau sabun cuci piring sekalipun, Marlina bisa masuk di dalamnya. Namun bukan itu yang bikin ia menarik. Sebagai seorang gadis kecil yang digadang-gadang orang tuanya untuk segera lulus sekolah dan bisa bekerja agar ekonomi keluarga semakin baik, ia menampilkan aura kecantikannya sendiri. Kalau saja tidak ada masalah bernama you-know-what, presensi dalam beberapa mata kuliah, pasti saya akan mengenal Marlina lebih dari sekadar mahasiswa-observasi-PPL dan dedek gemes.

Sayangnya, ia jadi siswa yang cukup sial karena tiap sore ia bakal kebingungan bagaimana caranya pulang. Rumahnya di pelosok kampung di kecamatan Ngluwar. Waktu tempuhnya kira-kira lima puluh menit dari sekolah menggunakan angkot. Angkot yang punya rute melewati jalan raya paling dekat dengan rumah Marlina jumlahnya tak banyak. Karena jam edarnya juga tak lama, Marlina sering kali tak mendapat angkot ketika hendak pulang ke rumah.

Di titik inilah ia mulai bercerita—atau lebih tepatnya bertanya: “Apa pemerintah itu enggak tahu kalau aku selalu kehabisan angkot buat balik ke rumah tiap sore?” Ia memang baru selesai sekolah di sore hari. Kebijakan pemerintah Jawa Tengah untuk menerapkan sekolah lima hari dalam seminggu bagi sekolah-sekolah punya konsekuensi dengan perombakan waktu sekolah dalam setiap satuan hari. Pada dasarnya tidak ada jam yang dimampatkan meski jumlah harinya berkurang. Yang terjadi hanyalah pemindahan jam pelajaran ke hari lain.

Ditanya begitu, saya tentu tak siap menjawab. Pertama, karena saya memang bukan juru bicara Ganjar Pranowo untuk dedek gemes di sekolah-sekolah. Kedua, saya baru sekali itu bersentuhan dengan sekolah yang menerapkan kebijakan lima hari. Akhirnya, waktu itu saya cuma bisa bilang kalau beginilah boroknya pendidikan di Indonesia: kebijakan dibuat dengan retorika kemajuan, namun dalam praktiknya yang ada malah kemunduran. Jawaban yang sebenarnya bernada apatis, alih-alih menjawab kegelisahannya. Saya menyesal tidak meminta nomornya untuk bisa, ehem, saling bertukar jawaban yang lebih panjang.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah bisa selesai pukul dua siang. Mentok jam empat sore. Namun, dengan adanya kebijakan sekolah lima hari, kegiatan belajar mengajar baru bisa selesai jam lima sore. Tak jarang, setengah enam baru benar-benar selesai.

Bagi Marlina ini masalah. Bagaimana ia bisa terus bersekolah jika tidak ada transportasi yang memadai untuk mendukung akses pulang-perginya? Dari salah seorang guru, saya dikasih tahu kalau tidak sedikit anak yang merasakan nasib seperti Marlina. Alasannya serupa: rumahnya jauh dan jam edar angkotnya tak sampai sore. Apalagi kebanyakan anak yang bersekolah di sana punya latar belakang keluarga dengan ekonomi yang tidak kuat-kuat amat. Tidak ada anggaran untuk membayar tukang ojek setiap hari. Kalau sudah begini, biasanya akan ada guru-guru yang diminta jadi pahlawan kesorean. Mereka akan mengantarkan siswa-siswi ini untuk sampai ke rumahnya dengan selamat.

Apakah di hari Sabtu mereka tetap berlibur? Hmmm, saya tak yakin. Marlina dan kawan-kawannya memang tak bersekolah di hari itu. Namun, ia tetap harus ke sekolah jika ia berniat ikut ekstrakulikuler. Di tahun-tahun sebelumnya, ekstrakulikuler tersebar di antara hari Selasa, Rabu, dan Jumat. Tahun itu, tidak ada pilihan lain, semua ekstrakulikuler dilaksanakan berbarengan di hari Sabtu. Walhasil, Senin hingga Jumat sekolah sampai sore, Sabtu pun masih berangkat untuk ekstrakulikuler.

Mendengar Jokowi hendak memberlakukan sekolah lima hari di seluruh Indonesia, membuat saya teringat lagi tentang Marlina dan dan teman-temannya. Apa angkot yang mengantarkannya pulang-pergi bersekolah sudah mau “menarik” hingga petang hari? Apakah guru-guru masih mengantarkan mereka pulang di kala sore? Apakah jumlah siswa yang ikut ekstrakulikuler di hari Sabtu kian menurun? Apakah dia masih ingat dengan saya?

Tentu, masalah yang mengekor dengan sekolah lima hari bukan sekadar ada angkot atau tidak, Sabtu bisa leyeh-leyeh atau tidak. Ada banyak respons untuk menteri kita atas kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang katanya bukan Fullday School tapi tetap pulang di sore hari. Mulai dari jam bermain anak yang berkurang, bias pendefinisian karakter seperti apa yang hendak dibangun, hingga tubrukan dengan jam madrasah diniyah. Namun, atas dasar “berhasil diujicobakan di beberapa daerah”, kebijakan ini sudah akan dilakukan Juli 2017—bulan depan—meski hanya untuk sekolah yang sudah siap.

Kita masih sangat patut untuk bertanya: delapan jam yang jadi patokan akan dihabiskan untuk apa dan bagaimana bentuknya? Jika benar akan dihabiskan untuk kegiatan-kegiatan di luar sekolah seperti ekstrakulikuler, toh nyatanya tidak begitu di Jawa Tengah tahun lalu. Kita lantas meraba-raba: berapa lama kebijakan ini akan bertahan mengingat tidak sedikit program pendidikan tak berumur panjang? apa yang akan terjadi jika kebijakan ini benar akan dilaksanakan? Satu hal yang benar-benar bisa saya bayangkan, mahasiswa PPL akan punya satu pekerjaan tambahan: menjadi patriot bagi “Marlina-Marlina yang lain”.

  • Aaroniero Arruruerie

    oh marlina

  • Taufik Nurhidayat

    bener, Zis. sekolah lima hari itu bikin kita berjiwa “patriot”. aku pernah senin-jumat berangkat sekolah. lah pas hari sabtunya aku jd “patriot” dgn ngajak beberapa teman (min. 3 org) mbolos. aku serasa “patriot” krn membebaskan mereka dr sangkar; merasakn kemerdekaan dr penjara sekolah utk sejenak waktu.