BAGIKAN

Dewasa ini kita acapkali menemukan di sosial media istilah bucin. Khalayak netijen secara sewenang-wenang dan cengengesan mengartikan bucin sebagai ‘budak cinta’. Entah siapa yang memulai hingga tercapai diskursus yang demikian dangkal dan sempit tersebut. Terlintas apa di pikirannya hingga terbesit untuk mengakronimkan dua kata yang menurut saya beda ranah penafsiran dan penempatan. Saya setuju apabila akronim tersebut hanya sebatas frasa ataupun kompositum dalam aplikasi gramatika bahasa untuk pengayaan dan pengkajian. Tetapi saya menolak keras apabila akronim ‘bucin’ diartikan sebagai pemahaman empiris yang dianggap selesai atau dikatakan sebagai kebenaran yang absolut. Huuu, gemes aku.

Oke, Anda boleh setuju pun tidak setuju dengan pendapat saya. Tapi sebagai manusia yang pernah mengalami tetek-bengeknya cinta. Entah konteksnya mencintai dan dicintai. Saya sekali pun tidak pernah mengalami apa itu tensi ukuran keadaan yang diartikan sebagai kategori perbudakan pada umumnya.
Kita ketahui perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain. Dari gagasan itu, kemudian muncullah istilah budak yang notabene sebagai orang yang dikontrol. Gerak-geriknya terbatasi dan dikendalikan penuh oleh pengontrol. Mengenai sejarah perbudakan Anda bisa cari sendiri di buku-buku yang membahas perbudakan, atau pada teknologi yang sering diaku-aku orang sebagai ‘mbah’, yakni gugel.

Menurut saya, ada yang salah ketika seseorang pencinta (uwuwu) begitu dalam terikat pada seseorang. Apalagi merasa dieksploitasi, sebaiknya Anda periksa ulang apakah itu cinta atau hanya sebatas nafsu birahi saja. Sebab, derajat atau kualitas tertinggi cinta manusia adalah perihal mengikhlaskan, atau cinta yang membebaskan (ini bukan ceramah karena saya tidak mempunyai otoritas).

Apabila, romantis dianggap ‘bucin’, perhatian dikatai ‘bucin’, merenung dibilangi ‘bucin’, melankolis dan puitis digasak sebagai hal ‘bucin’, saya takut suatu saat nanti kisah percintaan di negara kita akan mengalami paceklik. Kemudian sejarah kisah cinta kita akan buram dan menjadi absurd bahkan dianggap sebagai mitos saja.

Konklusinya, nanti ujung-ujungnya akan jatuh pada fenomena lebay, alay, letoy yang melahirkan manusia yang di hati dan perasaannya hanya didapati nafsu yang membara-bara saja. Dan nahasnya, kita akan kehilangan potensi cinta yang sesungguhnya dari para lelaki dan perempuan yang benar-benar sampai dalam esensi cinta itu sendiri. Tolong Anda tercinta memahami. Jangan asal-asalan ya, cinta dan budak itu elemen yang berbeda, beda konsep dan beda penafsiran makna.

Dunia banyak mencatat kisah cinta menakjubkan yang moncer. Mulai dari kisah Yusuf dan Zulaikha yang mengubah nafsu Zulaikha menjadi cinta yang menggelora. Muhammad dan Aisyah ketika saling menunggu di antara pintu sampai ketiduran sebab keduanya tak tega hati mengganggu. Ada Mark Antony yang menghunuskan pedangnya sendiri sebab mendapat kabar palsu bahwa Cleopatra sudah meninggal. Dalam contoh kisah cinta di atas apakah mereka merasa diperbudak ataupun merasakan cinta yang destruktif? Tidak! Mereka dengan senang hati melakukannya bahkan begitu amat bahagia, walau menurut sudut pandang kita kebanyakan cinta mereka berakhir tragis.

Saya mengutip dari blog yang bertendensi kekirian, jika filsuf Denmark, Kiekegaard (salah satu bapak filsafat eksistensialisme) yang kemudian melahirkan sikap kiekegaardian. Dia memberikan step yang cukup ruwet namun intelek mengenai pemaparan ‘bucin’, yang terbagi dalam 3 nosi khusus: cathexis, angst, privaten property. Pertama, sebagai suatu fenomena psikis. Kedua, sebagai fenomena onotologis, dan ketiga sebagai fenomena materialis. Walau filsafat Denmark tak sepelik filsafat Jerman seperti kata Marx, tetapi perlu saya tegaskan, nosi tersebut cukup sukar untuk dipahami. Ini menunjukkan, bahwa untuk mencintai kita harus belajar.

Okelah saya tidak menolak tanpa alasan mengenai fenomena ‘bucin’ yang semakin akrab dan menghegemoni pemikiran anak muda labil zaman millenial ini. Tetapi yang saya paparkan di sini adalah wujud kritik, bukan hanya nyinyir. Oleh sebab itu, saya mengajak Anda agar jangan dengan mudah menghakimi atau memarahi seseorang yang lagi kasmaran sebagai ‘bucin’
Karena sejatinya, sifat fitrah cinta adalah menguatkan walaupun tidak dilarang untuk bersedih atau menangis. Anak-anak kandung cinta adalah memaklumi kekurangan, memaafkan kesalahan, menghargai kebaikan, menjaga janji, merawat kasih sayang, dan bertahan pada suatu kondisi yang bahkan tak diinginkan sekalipun. Begitulah cinta, maka dari itu tak mudah bilang cinta. Balik ke nasihat filsuf di atas tadi “Untuk mencintai kita harus belajar.”

Sebelum saya undur diri, izinkanlah dan terimalah cium jauh saya. Emmuuuaah. Mari bercinta dengan cinta yang benar-benar.