BERBAGI

Kekuasaan tertinggi  dicapai melalui ‘dominasi’ dan ‘kepemimpinan intelektual serta moral’. Sepertinya kak Bintang sudah lupa akan warisan pikiran eyang Gramsci. Mengatakan dosen gila karena meminta mahasiswa memenuhi presensi yang masih kosong itu sama gilanya dengan berharap balikan sama mantan. Apalagi dia sudah bahagia dengan yang lain. Dosen adalah pemimpin intelektual di dalam kampus. Ya maklumi saja jika dia membuat jadwal-jadwal konyol. Atau mengomentari penampilanmu yang tidak eye catching sama sekali itu. Dia punya kuasa kok. Kamu mau minum es degan di pinggir jalan pada bulan Ramadhan pun, dosenmu tidak peduli. Wong kamu pakai uangmu sendiri.

Jangan mimpi dan berharap pada dosen kalau mau pintar. Toko buku, perpustakaan gratis, website penyedia buku-buku gratis sudah banyak. Luangkan waktu untuk membaca buku. Kalau kamu relijiyes, tambah baca kitab suci. Setelah itu penuhi warung-warung kopi, mimbar-mimbar intelektual yang sesuai selera. Lakukan diskusi rutin untuk mengisi kantung-kantung generasi bangsa yang sudah mulai kosong.

Saya ingin berbagi cerita proses skripsi di kampus Islam negeri di Jember. Ada quote menarik dari seorang teman bahwa ‘lu tinggal boker itu skripsi uda kelar sendiri’. Sekilas memang tampak khayal dan sombong. Hal ini tampak nyata ketika kamu melihat penggarapan skripsi yang hanya ditempuh selama dua minggu. Bagi kalian yang pernah ditikung oleh teman sendiri, tentu biasa dengan fenomena yang mengejutkan ini. Tapi tidak untuk saya yang relijiyes, santun, imut dan setia pada orang tua. Hal ini yang membuat saya sadar bahwa pacar itu fana. Yang nyata adalah kenangan. Tsah~~

Salah satu penyebab cepatnya proses penggarapan skripsi berasal dari desakan para dosen. Acuannya para birokrasi kampus yang kebelet akreditasi, alih status dari IAIN menjadi UIN. Untuk itu kuantitas lulusan sarjana digenjot setiap tahunnya. Genjotan berbuah kenikmatan ketika para mahasiswa merasa nyaman dengan kondisi seperti itu. Mereka berbondong-bondong untuk segera lulus tanpa memikirkan kualitas intelektual yang mereka miliki. Konsekuensi logisnya; menjadi kelabakan saat diminta seorang tetangga membantu proses perceraian di Pengadilan Agama. Tapi teriak kencang di sosmed untuk ‘bela ulama’ yang semestinya tidak perlu dilakukan. Apa ini hasil dari delapan semester kuliah di Jurusan Hukum Islam? Tay~~

Capek melihat teman seangkatan membagikan informasi berbau intoleran di sosmed. Saya membuat janji dengan beberapa teman untuk ‘ngopi’. Awal jumpa kami bermain catur dengan hasil imbang. Tiba-tiba seorang teman bertanya proses skripsi saya. Ia tercengang saat saya mengatakan format penyusunan skripsi menggunakan spasi ganda. Juga tentang isi skripsi yang tidak perlu jelas alur pikirnya. Penguasaan teori yang dipakai atau sekadar membedakan opini dengan karya ilmiah yang ketat akan sumber data. Sesungguhnya, kampus saya berpatokan pada batas minimal jumlah halaman yang berkisar 60. Bukan kualitas calon sarjana yang akan diwisuda nantinya.

Menanggapi itu, teman saya ingin pindah ke kampus saya. Ia merasa jengkel mengingat pengajuan judul skripsinya yang ditolak puluhan kali. Karena penguasaan teori dan problem penelitian masih dianggap kurang matang. Ini belum pada format penulisan skripsi yang menggunakan spasi ganda.

“Cuman butuh 40-an halaman, spasi 1,5 jadi skripsi?”

“Bisa jadi.”

“Pindah kampus mu wae lah.”

Sempat berkecil hati ketika ingat skripsi teman saya, di kampus yang berbeda, yang hampir 200 halaman menggunakan spasi tunggal. Menjadi jengkel ketika ingat teman satu kampus membuat biografi seorang tokoh tanpa ada referensi sama sekali. Jumlahnya satu halaman dengan spasi ganda. Modalnya dari internet. Ternyata ‘dunia tak selebar daun talas’ juga berlaku untuk intenet yang bejibun informasi. Mencari jurnal atau buku tentang biografi seorang tokoh kok sulit amat. Biografi tuhan aja banyak.

Jika ingin mencari mahasiswa yang bermutu secara intelektual, peribahasa ‘mencari jarum dalam jerami’ sangat tepat. Begitu sukar mahasiswa di kampus saya ini yang benar-benar bermutu. Karena orientasi mereka sejak awal adalah mencapai kekuasaan tertinggi di tingkat sosial. Maka jangan heran lulusan kampus saya mengisi dua tempat yang sudah disebutkan oleh Gramsci di atas: menjadi dominan atau intelektual dan moralis.

Kalian tidak perlu merasa gelisah dengan hal itu. Jika ingin masuk kampus ini, masuk saja. Para birokrasi kampus saya mempunyai kesempatan untuk merubah orientasi kuantitas menjadi kualitas. Penting adanya perombakan sistem kekeluargaan menjadi sistem yang lebih profesional. Seperti dosen-dosen yang memberikan janji-janji jabatan, ketika lulus harus diskors. Mahasiswa harus diajari mandiri untuk membuat keputusan dalam kehidupan intelektualnya. Agar mereka mampu mengadvokasi masyarakat yang terlibat konflik secara komprehensif dengan mengutamakan kebaikan bersama. Bukan melihat konflik masyarakat sebagai peluang untuk mengisi kantong pribadi.

Jika ada kesempatan, mampirlah barang sebentar ke kampus saya. Dengan kuasa tuhan, semoga penyakit di kampus saya tidak menular. Terlebih menghambat kemajuan generasi bangsa di masa mendatang. Oiya, kampus saya IAIN Jember.

  • Aaroniero Arruruerie

    “Jangan mimpi dan berharap pada dosen kalau mau pintar”, banyak tulisan bagus di siksakampus, opini bercitarasa ilmiah, relijiyes, kritis, udah itu aja