BAGIKAN

Pertarungan hampir mulai. Ipal, bocah lelaki 10 tahun itu berdiri sambil memasukkan kedua tangan di saku celana. Perempuan sebaya di hadapannya pasang kuda-kuda a la Taek Won Do. Angin kemarau membuat pasir dengan lihainya numpang lewat, memberi jeda pada mereka untuk sejenak saling tatap.

Beberapa murid kelas V menonton pertarungan tersebut. Masjid setengah jadi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Cisarua selalu jadi lokasi strategis begundal Sekolah Dasar (SD) Negeri Barukai untuk bolos atau sekadar main petak umpet. Kali ini mereka berkumpul nonton tarung bebas dua temanya, seperti orang kampung menonton adu ayam.

Bocah sontak bersorak-sorai begitu tendangan pertama menyambar pinggang kiri Ipal. “Anying siah kehed!” teriak Ipal pada lawannya.

Ia membalas dengan jotosan ke arah bahu, dagu dan perut. Rasa sakit di pinggang Ipal tidak meredam kelincahannya. Sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding pukulan ayah.

Ipal anak nakal. Sudah tiga kali ia hampir dikeluarkan pihak sekolah. Iya, hampir. Ayah Ipal seorang polisi yang pegang posisi penting di SPN Cisarua. Ia selalu berhasil membujuk kepala sekolah. Ipal tetap bersekolah di SD Barukai sampai lulus. Rutinitasnya kalau tidak menyingkap rok murid perempuan, merusak fasilitas kelas, teriak-teriak, manjahili murid lain, ya bolos. Lebih dari semua, ia paling sering malak.

Suatu hari seorang guru jengah. Ipal balas teriak ketika guru membentak. Si guru menampar pipi Ipal di hadapan seluruh penghuni kelas. Murid kelas V, termasuk anak perempuan lawan tarung Ipal menganggap itu biasa. Anak perempuan itu yakin, kekerasan baik untuk mendidik.

Anak perempuan itu sering kena cambuk Papahnya. Ia pernah bikin anak tetangga nangis, habis rebutan mainan. Papah langsung ambil cambuk kuda andalan. Itu cambukan paling sakit. Ia kapok main-main ke rumah tetangga lagi sampai sekarang, bahkan puluhan tahun kemudian. Anak itu dapat ide. Ia harus membuat Ipal kapok juga. Maka, berbekal sabuk kuning Taek Kwon Do, ia tantang Ipal.

Pertandingan tak sampai 10 menit itu membuat baju kedua petarung kucel penuh noda. Ipal menang.

Ipal tidak akan kapok dengan tamparan, pukulan, tendangan atau kekerasan fisik lain. Itu makanan sehari-harinya di rumah. Ia malah semakin percaya bahwa kekerasan adalah cara untuk hidup dan berinteraksi dengan manusia lain. Kemenangannya di pertarungan itu semakin membuat Ipal mantab menekuni jalur kekerasan hasil didikan ayahnya. Ia bisa bertemu lingkaran yang sepaham dengannya. Menganiaya, menyeret tubuh, membenturkan kepala di aspal dan melukai kelamin adalah hal wajar. Ia dan geng-nya tidak perlu agenda besar untuk melancarkan kekerasan. Siapa saja jadi sasaran. Bahkan orang yang tidak ada urusan sekalipun bisa kena. Mereka tidak perlu sosok khusus seperti ketua atau pimpinan. Selama ada komando untuk menyasar, langsung sikat.

Mereka meyakini norma sosial dapat dibangun dengan kekerasan. Ratusan juta hujatan netizen tidak ada apa-apanya. Ucapan atau tindakan fisik yang menyakitkan tidak bisa menggoyahkan keyakinan mereka. Malah bikin makin mantab.

Selasa, 9 April lalu kita sempat geger dengan kasus AY siswi SMP yang dianiaya dan dikeroyok sejumlah siswi SMA di Pontianak. Masyarakat marah. Dunia maya ramai dengan hashtag yang secara gamblang menyebut nama korban. Beberapa yang masih berpikir jernih menggunakan #JusticeforAY sebagai pembanding. Ipal bisa jadi gambaran dari siswi SMA tersebut. Tapi Ipal juga suatu saat bisa jadi AY.

Perundungan di bawah umur, baik yang dirundung dan yang merundung adalah korban. Sekolah dan orang tua bertanggung jawab atas pola pendidikan yang mereka terapkan.

Sayangnya kekerasan terlanjur jadi konformitas. Begitu lekat dengan kita. Ada saat dimana sapu lidi menghantui bokong kita kalau malas berangkat TPA. Ada saat dimana cubitan yang memelintir kulit perut bikin lebam berminggu-minggu, hanya karena rebutan remot sama saudara. Ada saat dimana paha kena ceples karena ketahuan ambil duit di lemari buat main Tendo. Cambukan, cubitan dan pukulan itu membuat kita sakit dan menangis.

Manusia begitu piawai merawat rasa sakit. Tanpa sadar, itu terpendam. Rasa sakit tersebut muncul kembali dalam bentuk kekerasan. Menularkan kesakitan yang lain. Begitu seterusnya sampai kita menganggap itu wajar.

Setelah lulus SD, si anak perempuan tidak pernah bertemu lagi dengan Ipal. Akhir kisah mereka tidak seperti Shoko Nishimiya dan Shoya Ishida dalam Koe No Katachi, anime yang berkisah tentang perundungan di lingkungan sekolah. Si anak perempuan masih jomblo. Sedangkan kabar terakhir, Ipal ganti nama. Bukannya memberi penanganan psikologis, orang tua Ipal malah mengira hal buruk terjadi karena salah nama. Mereka belum sadar siapa yang membuat Ipal seperti itu.

Belasan tahun berlalu, si anak perempuan itu menuliskan kisahnya di siksakampus.com. Sambil berharap rantai kekerasan berhenti membelenggu keluarga dan teman-temannya.

Ia masih ingat sakitnya di-ceples Mamah. Belakangan ia tahu, ada metode ceples yang bukan kekerasan dan tidak bikin sakit. Tapi bukan untuk anak-anak.