BAGIKAN

Dua orang sedang menonton berita penggusuran rumah warga di kawasan Pasar Ikan, Jakarta Utara, Senin 11 April 2016. Sedangkan saya sedang menunggu pesanan kopi datang. sAya perhatikan dua orang tadi, satu diam tanpa berkomentar atas pemberitaan itu. Satunya duduk dengan posisi yang selalu berganti. Kaki kiri diangkat, turun, lalu kaki kanan yang diangkat. Pantatnya bergeser kedepan, samping dan belakang. “Rakyat tidak akan diam saja,” komentarnya melihat perlakuan semena-mena aparat negara yang membawa senjata laras panjang dari siaran berita salah satu stasiun televisi.

Saat itu saya hanya sedang ngopi-ngopi bahagia tepat setelah menunaikan ibadah mendengarkan adzan isya’. Catatan buku harian saya penuh dengan jadwal adzan. Karena mendengarkan adzan waktu solat mendapatkan pahala. Baiknya saya mencatat kebaikan saya dari mendengar suara adzan di buku harian. Meringankan tugas malaikat dan proses kalkulasi dosa di akhirat adalah kebanggan. Toh di akhirat -sepertinya- membosankan, lantaran cuma bagi-bagi rapor amal di dunia. Saya sudah bosan menerima rapor sejak TK sampai SMA, wahai malaikat. Camkan itu!

Teman-teman memanggil seseorang yang berkomentar tadi dengan sebutan Pak Lek, dia adalah suami dari Buleck pemilik warung ternama di kawasan Universitas Jember; Warung Buleck. Pukul tujuh malam sampai satu dini hari Ia terus berkomentar tentang kegaduhan di Jakarta. Intinya menolak reklamasi. Karena dinilai hanya menguntungkan bagi para pengusaha kaya. Bukan rakyat miskin kota, juga jomblo-jomblo bahagia seperti saya. Ia mengajak saya mengomentari kegaduhan itu. “Rakyat harus bangkit Pak Lek. Revolusi!” respon saya atas puluhan komentar Pak Lek.

Caca Handika sudah meramalkan kondisi bangsa ini sejak tahun 90-an lewat lagunya ‘Angka Satu’.

Masak-masak sendiri
Makan-makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurku sendiri
~petikan lirik lagu ‘Angka Satu’ oleh Caca Handika

Rakyat Indonesia kini harus mengurus kebutuhan hidupnya sendiri. Negara tidak hadir atas usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya. Saat ada pemodal hadir secara tiba-tiba. Bukan untuk melakukan musyawarah dengan rakyat tapi sebaliknya. Negara membuat rakyat menjadi asing atas tanah, tempat tinggal mereka sendiri. Negara telah pergi dan membuat rakyat Indonesia kesepian, yatim, teralienasi, masak, makan, cuci baju, tidur dilakukan sendiri. Yatim betul rakyat Indonesia kini. Macam mane Tok a Tok!

Gejala ini mendera semua rakyat Indonesia yang suka akan kedamaian, ketentraman dan cinta. Menjadi pemandangan menarik sekaligus miris saat foto pejabat pemerintah duduk ‘ngakak’ bersama para pemodal yang sempat viral di sosmed. Mirisnya saat foto masyarakat miskin kota yang harus berhadapan dengan moncong senapan, peluru, pentungan, juga sepatu lars. Pemandangan di Jakarta sedikit menggambarkan kesedihan dari semua rakyat Indonesia yang ada di desa, pulau dan pelosok negeri atas absennya negara untuk melindungi rakyatnya.

Sedih saat menyadari negara yang makin kesini menjadi absen atas kewajiban melindungi rakyat. Tidak hanya Caca Handika. Ultraman, Power Ranger, P-Man sudah memberikan suri tauladan dalam menjalani hidup berkebangsaan dan bernegara. Negara harusnya menjadi sosok pahlawan yang datang saat rakyat membutuhkan bantuan. Kebanjiran yang disebabkan oleh monster penghuni sungai harus diselesaikan oleh sosok pahlawan. Atau pun monster penggali tanah harus dimusnahkan oleh Ultraman dengan sinar keabadian.

Keimanan Pak Lek akan kebangkitan rakyat atas perlakuan diskriminatif negara perlu kita dukung dengan penuh. Saya siap mengumpulkan para superhero Pak Lek. Engkau mengatakan bahwa rakyat adalah pembentuk negara. Tanpa rakyat, negara hanya kekopongan kulit maupun isi. Rakyat akan melawan tindakan diskriminasi seiring kesadaran dan pandainya menyikapi kondisi kekinian. “Kebangkitan rakyat sudah dekat. Waktu yang akan menjawabnya,” pesan Pak Lek saat saya pamit pindah ngopi. Tetap jaga kesadaran dan semangat Pak Lek!