BAGIKAN

Minyak rambut Tancho membuat peluang para pria yang pernah muda di tahun 1990-an menjadi tampan semakin terbuka. Apalagi di depan teman perempuan. Tancho, minyak rambut atau pomade berbentuk cream ini seringkali saya pakai saat saya duduk di sekolah SMP. Hampir semua pria seumuran saya saat itu memakainya, terlebih lagi hanya demi sebuah penampilan.

Tancho merupakan salah satu merk pomade dari sekian banyak merk yang ada. Hanya saja pomade khas Indonesia ini memang memiliki bau yang sangat tajam. Saat ini pomade tersebut jadi hits kembali setelah beberapa tahun kemarin ‘mungkin’ sempat kendur.

Pomade menjadi dambaan pria sejak model rambut sapu ala pompadour dipopulerkan kembali. Gaya ini banyak diikuti oleh masyarakat urban di perkotaan. Sekarang, para remaja pengguna pomade diserbu oleh beragam merk dari lokal hingga luar negeri. Harganya pun beragam. Toko yang banyak menjual item pelengkap untuk menjadi tampan ini akhirnya semakin ramai. Mengalahkan salon kecantikan perempuan.

Saya adalah pemakai pomade, tapi banyak hal yang tidak saya duka benar-benar terjadi. Seperti pada beberapa waktu yang lalu, saya tidak habis pikir beberapa teman masih sempat pakai pomade sebelum main futsal. Pergi ke warung kopi hingga antri membayar tagihan listrik.

Terlebih lagi sebelum masuk kuliah hingga minta acc skripsi ke dosen. Mungkin yang terakhir ini saya masih sepakat kali ya, agar dosen memandang kita lebih srek. Tapi yang saya tidak habis pikir dengan pemakaian pomade saat futsal, kira-kira demi apa.

Apa yang menyebabkan mereka begitu percaya diri dengan tatanan seperti ini. Apakah sedang menyamakan dirinya dengan bintang sepak bola seperti Gareth Bale, Cristiano Ronaldo, atau mungkin Marco Reus. Ah, sepertinya berlebihan.

Mungkin inilah yang dinamakan kegandrungan dini. Apa saja yang kiranya menarik pasti banyak diikuti. Seperti pada medio 1970-an, gaya rambut yang paling digandrungi yaitu rambut jambul ala Elvis Peasley. Pada model ini, rambut bagian depan dibikin panjang lalu disisir ke atas. Ditambah lagi sedikit pelintiran menawan hingga terbentuk seperti daun kelapa sebagai pelengkapnya.

Lalu bergeser ke tahun 2000-an, rambut gaya mowhak merebak di kalangan muda semenjak David Beckham membawa style rambut ini ke lapangan hijau. Padahal rambut mowhak sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980-an yang dibawa oleh kalangan skinhead dan anak Punk.

Bagi banyak orang, sejarah pomade dan keklimisan rambut orang jaman dahulu tidaklah terlalu penting. Tapi berbeda bagi saya, pomade dan sejarah ketampanan via rambut adalah satu paket yang tidak boleh terlewatkan. Meski penghubung keduanya tidak terlalu signifikan.

Bolelahlah saya mengingat Friedrich Nietzsche. Filsuf kelahiran Jerman dambaan pria pemuja kenangan ini memiliki style yang sangat romantic. Ia bisa jadi saya sejajarkan dengan Marco Reus, pesebakbola asal Jerman yang termasyhur itu. Masa tahun hidup mereka sangatlah berbeda. Nietszche lahir di abad ke-18, sementara Reus baru lahir di abad ke-19. Hanya saja mereka lahir di negara yang sama, Jerman.

Nietzsche yang sejak muda selalu haus berpikir ternyata tidak melupakan secuil penampilannya. Baginya macam pengetahuan apapun itu selalu terkait dengan kehendak untuk berkuasa (The Will Power). Hal itu membuat Nietzsche selalu keluar dari pakem. Ia selalu berkontradiksi dengan pemikir-pemikir besar yang menjadi kekuatan mainstream saat itu. Termasuk soal gaya rambut, ia punya tatanan yang berbeda. Ia pun sempat berkata dalam karyanya, Sabda Zarathursta.

Wahai pohon anggur! Mengapa engkau memujiku? Tidakkah aku telah memotong dirimu? Aku kejam dan engkau berdarah: apa maksud dari pujianmu terhadap kekejamanku yang mabuk?

Bagi saya kata tersebut cukup magis. Seorang Nietzsche dengan imajinasinya yang tinggi telah memberikan pengakuhan kalau dirinya banyak dipuji, termasuk pohon anggur. Mungkinkah ini karena rambutnya yang klimis. Mungkin saja.

Baginya hidup itu harus dilalui dengan gagah berani, menghadapi resiko dengan jantan “Amor Fati”. Saat ini kata-kata tersebut cukup menyihir banyak orang, termasuk saya. Terlebih lagi saat dihadapan mantan.

Berbeda dengan Nietzsche, Reus memiliki niatan tulus untuk merubah gaya rambutnya. Ia banyak digandrungi perempuan sedunia, semenjak video saat berdandan diunggahnya ke akun youtube. Reus lebih terlihat klimis, jelas penampilannya lebih terlihat modern dibanding Nietszche. Sebagai pemanis, bagian rambut atasnya ia semir dengan warna kuning keemasan. Perempuan mana yang tidak kepincut olehnya.

Menilik dari sejarah yang dikutip CNN, sebenarnya pomade bermula sejak tahun 1800-an. Selama abad ini, lemak beruang adalah item yang paling umum digunakan. Sementara di awal abad ke-20, bahan lainnya seperti petrolium jelly, lilin lebah, dan lemak babi menggantikan lemak beruang.

Nah, saya baru bisa menerka jika Nietzsche hidup di abad 18 pastinya ia memakai pomade berbahan baku lemak beruang. Entah ia memilih merk seperti apa, yang jelas rambut klimisnya itu mampu menemani dirinya saat membuat karya-karya besar.

Berbanding jauh dengan Nietzsche, jenis pomade yang digunakan oleh Reus pastinya sangat berbeda. Mengingat banyak sekali pengetahuan tentang bahan yang dibuat untuk menciptakan pomade.

Namun, kedua tokoh yang memiliki keilmuan yang jauh berbeda ini layak menjadi inspirasi. Jika Nietzsche banyak digandrungi oleh lelaki pemuja kenangan yang seringkali berpindah warung kopi, tapi Reus banyak digandrungi oleh kaum hawa. Keduanya tetap menjadi simbol perlawanan. Bahwa pria akan lebih garang memakai pomade.[]