BAGIKAN

Mari bayangkan semarak Natal tanpa Santa, pohon cemara, atau Home Alone. Rasanya sama seperti aku tanpa kamu. Sepi Mas, sepi!

Saya tinggal di sebuah gereja protestan. Semasa kecil, akhir tahun merupakan saat paling dinanti. Selain karena libur panjang, Natal dan Tahun Baru menjadi selebrasi paling meriah di rumah. Maklumlah, rumah saya didominasi para pendiam.

Biasanya pada malam menjelang perayaan Natal, ibu-ibu mulai sibuk memasak. Bapak-bapak membersihkan gereja. Pemuda begadang sepanjang malam membuat tiruan pohon cemara dari gabus atau barang bekas. Tiga sampai empat polisi sesekali datang memastikan kami baik-baik saja. Sedang yang saya lakukan hanya seliwar-seliwer mencari perhatian di tengah kesibukan mereka. Melihat keberadaan saya menggangu stabilitas, Ibu menyuruh saya duduk di depan televisi sambil melipat kotak nasi. Apalagi yang saya tonton kalau bukan Home Alone. Melalui apa yang saya lihat di televisi, Natal identik dengan hadiah, pohon cemara, salju, Santa, rusa, serta hiasan dedaunan yang didominasi warna hijau, merah, dan emas.

Menjelang tidur, saya berdebar, berimajinasi tentang Natal. Besok dapat hadiah apa? Apakah tahun ini Santa datang? Kunciran model apa yang cocok dengan topi Santa yang akan saya pakai besok? Seindah apa pohon Natalnya? Apakah teman sebaya saya memakai baju barunya? Kapan saya bisa ke tempat bersalju kemudian mencampur segenggam salju dengan sirup?

Perayaan pun tiba. Hanya saat Natal, gereja yang biasa diisi 15-20 onggok manusia, jadi dipenuhi undangan berjumlah sekitar 200 orang. Mulai dari warga sekitar, sampai jemaat di desa sebelah. Ritual favorit saya adalah menghampiri rumah-rumah tetangga, membawa nasi kotak dan jajanan. Saya jarang keluar rumah. Maka bisa dikatakan dalam kurun waktu 365 hari, hanya pada Natal saja saya berani mengunjungi mereka. Selain kebersamaan macam itu, kebahagiaan Natal bagi saya bukan karena Yesus piknik ke bumi, tapi karena hadiah (yang dulu saya percayai) diberikan oleh Santa.

Entah apa hubungan Yesus dengan Santa. Temenan, kakak-adek-an, pacaran, HTS, atau apalah. Saat itu saya tidak peduli. Bagaimana mereka dipertemukan dalam Natal juga saya tidak tahu. Mungkin mereka kenal lewat aplikasi Tinder, atau mensyen-mensyenan di Twitter, atau komen-komenan di Facebook, atau secara kebetulan ketemu di warung kopi. Sungguh, tidak ada yang menjelaskan kepada saya, gadis kecil unyu yang saat itu masih berusia delapan tahun.

Nahas! Pedih hati ini karena semakin saya bertumbuh, sosok Santa mulai menghilang. Pernak-pernik khas itu juga mulai pudar di gereja. Mulai memasuki usia SMP sampai usia layak minum bir, saya tidak pernah mendapati Santa di gereja saya.

Entah, si pendeta habis baca buku apa. Ia berusaha menjodoh-jodohkan Santa, Yesus, dan Natal. Menurut itungan primbon memang tidak jodoh. Kemudian ia mencari-cari ayat di Alkitab. Ternyata memang tidak ada Santa dan pohon cemara disana. Akhirnya gereja memutuskan menghilangkan Santa agar lebih Alkitabiah.

Sosok yang sempat membahagiakan masa kecil saya ditiadakan. Ia dikaitkan dengan kapital dan juga budaya barat. Saya dan Santa berpisah. Sekarang saya hanya bisa mengingat cuplikan-cuplikan kenangan saat bersamanya. Sedih. Rasanya sedihnya sama seperti nranskrip tanpa headset, tahun baru tanpa terompet, nikahan tanpa elekton, bus tanpa telolet, dan aku tanpa kamu. Hiks.

Saya memohon kepada semesta, jangan sampai kebersamaan yang terjalin saat Natal juga turut hilang. Tidak masalah kalau tidak boleh mengucapkan selamat. Tidak masalah kalau tidak ingin melihat pernak-pernik Natal. Hanya, jangan lupa, kita manusia. Itu saja.

Berbahagialah kita semua. Selamat Natal!