BAGIKAN

Paket kuota sudah memasuki “injury time” ketika isi dompet ibarat kopiah terlipat milik kakek buyutku. Saya melakukan razia beberapa celana jeans dengan penuh harap ada beberapa rupiah yang terselip di kantong celana. Alhamdulillah wa syukurillah, ada 2 lembar goceng ditemukan, satu di antaranya hampir sobek. Namun you know lah, dengan uang segitu tidak cukup memenuhi hasrat stalking sana sini. Sudahi saja paragraf berisi curhatan pribadi ini karena pada akhirnya saya memutuskan pergi ke kontrakan kawan untuk mengemis teathring wifinya. Dengan dalih mengecek chat whatsapp, wifi didapat, lalu diam-diam merancang rencana mensearching update terbaru anime one piece.

Sebelum melaksanakan niat jahat itu, saya membuka akun instagram. Sontak saya kaget ketika akun IG @tanah.merdeka memposting sebuah video berisi pernyataan sikap segelintir orang yang mengatasnamakan Brigade Muslim Indonesia disingkat BMI, Waw kan namanya. Mereka merazia buku yang dianggap mengandung paham marxisme dan leninisme pada Sabtu, 3 Agustus lalu.

Aneh bin ajaib lagi, lokasi razia buku tersebut terjadi bukan di kedai buku kecil maupun lapak baca mahasiswa Misqueen, melainkan di Gramedia Trans Studio Mall Makassar. Amazing toh! Berbeda dengan razia buku yang sering terjadi. Yah mungkin saja agar lebih terlihat elegan dan eksklusif jika proses merazia buku di mall. Yah, seperti adegan film Hollywood gitu.

Sekilas info juga, tiga hari sebelum razia buku, ada peristiwa yang tidak kalah viralnya. Diduga kelompok yang sama telah menutup paksa rumah makan karena menjual masakan mengandung Babi. Menariknya, rumah makan tersebut bertempat di Pipo Mall (lagi-lagi Mall). Wah mereka anak mall ternyata.

Masih dalam video saat razia buku, sembari menenteng beberapa buku yang dirazia, dengan over confidence, salah satu dari mereka menjelaskan alasan mereka merazia buku. Alasan yang sungguh menyayat hati bagi orang yang masih berfungsi akal sehatnya. Mereka menganggap buku-buku tersebut akan menumbuh-kembangkan paham marxisme dan komunisme. Hadeh, sudah baca bukunya belum pak?

Setelah video tersebut viral di IG, muncul pelbagai pendapat, tentunya pro dan kontra. Ada yang mendukung dan banyak yang mengutuk keras tindakan razia buku itu. Sebagian besar netizen menganggap tindakan merazia buku itu sebagai simbiosis parasitisme. Mengasah kebodohan paripurna di kala sulitnya perjuangan dalam membangun budaya literasi pada *bangsa yang belum usai ini (*Rosa Luxemburg yang bilang yah, bukan saya).

Saya sendiri menanggapi fenomena razia buku tersebut dengan serius. Serius menggagapnya sebagai kelucuan yang maha dahsyat. Saya menganggap demikian bukan tanpa alasan, menonton video razia itu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan kawan saya mengatakan gaya dan suara tertawa saya laksana kuntilanak featuring Young Lex.

Mengapa saya tertawa? Karena memang perlu. Bagian yang perlu kita tertawakan adalah landasan yuridis mereka merazia buku ialah TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966. Aturan tersebut tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia dan juga pelarangan ajaran atau doktrin bermuatan komunisme atau Marxisme, Leninisme. Jika kalian paham aturan ya harusnya tahu dong, ada putusan Mahkamah Konstitusi No 20/PUU-VIII/2010. Isinya menyatakan pelarangan peredaran barang cetakan termasuk buku yang harus dilakukan berdasarkan putusan pengadilan dan dilakukan oleh aparat penegak hukum. Kalian sudah jelas-jelas melanggar hukum.

Ya maklumi saja deh, sudah jadi naluri mereka untuk memilih mana aturan yang dapat melancarkan urusan dan tidak. Padahal sebelumnya, saya pikir mereka adalah bagian dari aparat negara, karena ada kata “Brigade” pada nama organisasinya. Barangkali mereka sejenis satuan “bayangan” taktis kali. Yah, mungkin saja. Apa sih yang tidak mungkin di republik ini.

Kelucuan lainnya dari beberapa buku yang dirazia. Ada buku berjudul Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme dan buku lainnya Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka. Keduanya ditulis Franz Magnis Suseno. Setahu saya buku tersebut berisi kritik atas marxisme dan komunisme secara ideologi dan praktik. Eh, ini gimana sih. Mereka ini menolak atau justru mendukung komunisma.

Apa lagi-lagi kita harus memakluminya? Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Mereka tidak baca lalu melakukan tindakan yang hanya menilai dari kover doang. Please, read it again and again, choy. Saya harus bilang, ini aneh tapi lucu seumpama seorang pria berwajah pas-pasan dan berkatong pas-pasan pula, tega mutusin pacarnya karena menerima surat cinta dengan kalimat I LOVE YOU BERLIPAT GANDA, SAYANG. Aneh toh, iyalah.

Kelucuan berikutnya adalah kecurigaan saya sendiri. Maaf ya jika saya curiga razia buku hanya modus baru agar dapat buku gratisan. Kita sudah sama-sama tahu, jika harga buku Mall, apalagi toko buku kondang seperti gramedia memberatkan bagi kaum misqueen. Razia buku bisa saja sebagai metodologi signifikan dan efektif untuk menambah koleksi buku di perpustakaan pribadi. Kita kan tak tahu buku hasil razia itu di kemanakan. Yah, siapa tahu mereka berencana membuat komunitas literasi kecil-kecilan. Atau mereka mulai berminat mengonsumsi wacana marxisme dan leninisme secara diam-diam. Pengen belajar filsafat marxisme, namun masih malu-malu kucing. Bisa jadi toh!

Analisis ngawur saya berikutnya menilik kondisi negeri ini yang selalu ramai dengan berbagai hal berkaitan dengan polemik keagamaan yang sungguh tak substantif. Berbagai adegan sekelompok orang dengan heroiknya mengintimidasi orang lain demi kaplingan surga; Sindrom eksklusifisme religius tepatnya. Terbukti dengan berkembang biaknya kelompok populisme agama yang begitu masif dan terang-terangan menonjolkan arogansi dan superioritas mereka melalui tindakan semena-mena pada kaum minoritas maupun perihal-perihal yang berdiferensiasi dengan apa yang mereka yakini.

Mengutip buku when religion becomes evil, Charles Kimball, penulis sekaligus pendeta asal Amerika Serikat mengatakan agama di satu sisi kini telah menjadi bencana bagi manusia itu sendiri. Menurutnya, agama bisa saja menjadi bencana ketika teks-teks yang termaktub dalam wahyu digunakan sebagai dalih legitimasi dalam memproduksi setiap tindakan kekerasan, salah satunya tindakan intoleransi berupa razia sepihak, persekusi dan intimidasi lainnya. Jadi menarik, ia memaparkan mengenai beberapa penyebab terjadinya destruktif agama, salah satunya mengklaim kebenaran mutlak. Woeee, sadarlah. Kita sekarang hidup bukan lagi di zaman mesin uap. Prinsip perbedaan itu sudah Sunatullah. Kehidupan ini akan terus berdialektika, maka perspektif pun harus berubah.

Siapa pun kalian yang merazia buku kemarin, saya sarankan kalian menonton one piece chapter 479. Ada quote menarik yang patut kalian resapi baik-baik. Si bajak laut dan Yonkou Edward Newgate (Shirohige) pernah berkata pada anak buahnya kala diujung hidupnya bahwa “jangan pernah berpaling, karena era akan terus berganti”. Jika kalian masih berkutik dengan narasi sesat masa lalu yang didesain oleh rezim orde baru, maka yakin dan pasti, kalian akan tergerus dengan zaman yang terus berganti.

BAGIKAN
Artikel sebelumyaKritik Tanpa Perspektif
Sukrianto Kianto
Mahasiswa double degree fakultas ABA yang stambuknya telah almarhum. Pernah dijuluki "Boboho" van Maluku, pecinta kuliner dan musik jadul.