BAGIKAN

Pada satu titik, mereka yang berumah dalam tas adalah tualang sejati. Bagi mereka tas adalah lemari pakaian, ruang penyimpanan alat mandi, alas kepala untuk tidur malam hari dan tentu saja kepulangan paling pasti. Mereka yang berumah dalam tas, adalah samurai tanpa tuan. Ninja tanpa kesetiaan kecuali untuk keyakinan. Juga nomaden sehormat-hormatnya. Bagi mereka yang berumah dalam tas, setiap tempat adalah naungan untuk istirahat, tiap tempat; mulai dari ruang sekretariat, rumah teman, kosan teman, rumah pacar, kosan pacar, warnet, sampai tempat rental PS yang buka 24 jam. Tapi hotel bukan, karena hotel adalah simbol kesenjangan, penghisapan, sebagai bangunan hotel merupakan salah satu biang dari bencana kekeringan akibat monopoli air skala besar, dan tentu saja karena hotel merupakan sarang perkenthuan bagi yang berpunya dan kepengen berzina dengan mewah.

Mereka yang berumah dalam tas adalah simbol kebebasan, simbol perlawanan, dan simbol kemelaratan pada saat yang bersamaan. Mereka sadar sepenuhnya bahwa kemampuan mobilitas tingkat tinggi adalah aset berharga di masa depan, jadi apapun dia kelak. Entah jadi pejabat yang khianat dan dibenci rakyat, atau aktipis buronan aparat, atau jadi pengusaha tamak yang ketahuan memainkan pajak.

Mereka yang berumah dalam tas adalah mereka yang gagah melawan kebijakan jam malam buatan kampus. Sebuah kebijakan yang dalam prasangkanya diciptakan untuk mematikan gerakan mahasiswa.  Mereka selalu siap dengan resiko pencabutan status kemahasiswaan demi dapat menginap di sekretariat. Karena hanya sekretariat yang tidak akan mengeluh jika direpotkan. Sementara teman, maupun pacar tentu punya batas kesabaran.

Pada titik yang lain, mungkin, mereka yang berumah dalam tas adalah akibat dari sebuah sistem dan kebijakan yang gagap. Korban kejalangan orang-orang tamak. Beberapa dari mereka bisa saja anak seorang petani yang harus merelakan kenikmatan tempat tinggal permanen di rantauan, karena biaya kuliah yang kemahalan. Sementara orang tua di kampung harus berhadapan dengan resiko perampasan tanah, yang belakangan digalakkan pemerintah atas nama pembangunan. Atau kalaupun momok perampasan tanah masih jauh panggang, masih ada tengkulak yang harus diwaspadai si bapak.

Bisa saja, salah satu dari mereka adalah anak nelayan yang kehilangan mata pencarian, karena aktivitas menguruk laut. Mereklamasi pantai, sepertinya jadi simbol pembangunan yang kekinian, tidak peduli apakah pembangunan yang dimaksud menyejahterakan atau menyengsarakan. Sementara biaya kuliah masih tetap mahal.

Memang benar bahwa di tiap kota yang jadi tujuan belajar di rantauan, ada asrama yang disediakan oleh pemkab, pemkot, hingga pemrov masing-masing. Tapi siapa yang bersenang hatinya menerima perlakuan menindas dari kakak-kakak senior sehari penuh. Seperti diulas dalam tulisan bung Taufik Nurhidayat yang jadi trending itu. Kalau hanya ditindas beberapa jam dalam kampus mungkin bisa ditolerir meski sedikit, tapi sehari penuh dan setiap hari, siapa yang mau? Siapa yang menyangkal bahwa di setiap asrama organisasi kedaerahan binaan pemerintah itu, ada bersarang kumpulan senior frustasi yang menjadikan aktivitas menindas baik verbal maupun tidak sebagai hiburan pelipur laranya.

Meski demikian, tetap ada kemungkinan, bahwa beberapa dari mereka yang berumah dalam tas justru merupakan anak orang berada, yang sayangnya terlalu mencintai kebebasan dan membenci kemapanan, atau sekedar ekspresi kolektif untuk bersolidaritas kepada rekan-rekan sekampus yang kurang beruntung. Atau mungkin terinspirasi dari kisah Sidharta Gautama, sang pangeran yang menggelandang demi mencari kesejatian dan memilih hidup melarat sebagai tanggungan.

Bagaimanapun, hal-hal tentang mereka yang berumah dalam tas, beberapa diantaranya hanyalah kemungkinan. Mungkin tidak layak diperbincangkan, tapi tidak ada salahnya dipertimbangkan. Mungkin buang waktu jika didiskusikan, tapi ada benarnya untuk dipikirkan.