BAGIKAN

Ridwan Kamil mendapatkan penghargaan sebagai duta #HeForShe dari UN Women Indonesia, dengan penyematan symbol #HeForShe oleh Presiden Jokowi, Desember 2016 lalu. Tidak hanya Ridwan Kamil, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun mendapatkan penghargaan yang sama.

Mereka mendapat penghargaan karena dinilai sebagai sosok yang ikut memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia. Sebenarnya, yang ditulis PR adalah ‘kesetaraan gender bagi perempuan‘, padahal kesetaraan tidak hanya ditujukan untuk perempuan namun semua pihak di dalamnya termasuk non-binary gender.

Saya heran kenapa mereka yang terpilih, padahal rekam jejak ketiga pejabat publik di atas tidak menunjukkan komitmen yang kuat dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Tjahjo Kumolo dengan kebijakan diskriminatifnya, Ganjar Pranowo dengan ketidakpedulian terhadap petani Kendeng, last but not least Ridwan Kamil suka menjadikan mantan pacar sebagai bahan bercanda dengan nada seksis.

Jadi sebenarnya, mungkin, yang dilakukan Pak Jokowi adalah sebuah sarkasme bagi ketiga pihak tersebut untuk lebih belajar lagi terkait kesetaraan gender kali ya. Atau sindiran agar mereka tidak menyakiti perempuan. Hehehe

Menurut Ridwan Kamil, arti HeForShe artinya sama dengan pembela perempuan. Kalimat selanjutnya ia mengajak lelaki gentleman’ untuk bergabung dalam gerakan HeForShe karena perempuan wajib dibela lahir batin tidak hanya oleh sesamanya tapi oleh kaum lelaki juga. Ia pun sering memakai istilah seksis seperti ‘keren, cantik, single’ untuk caption dalam foto Instagram atau dalam Twitt-nya.

HeForShe adalah sebuah kampanye internasional yang diusung oleh UN Women untuk mendorong keterlibatan laki-laki dalam penghentian kekerasan terhadap perempuan, pun kampanye HeForShe menekankan bahwa kesetaraan gender tidak dapat diraih apabila semua gender tidak bekerjasama untuk meraihnya.

Dari 182 foto yang Ridwan Kamil posting sejak dijadikan duta HeForShe, ia konsisten memposting foto yang lebih banyak mengobyektifikasi perempuan atau transgender dengan candaan seksis. Padahal ia juga gemar posting foto tentang ‘menghargai keberagaman’.

andai ia tau, bahwa dibalik kostum itu adalah pria berkumis. 😂😂lokasi: teras cihampelas

A post shared by Ridwan Kamil (@ridwankamil) on

Lelucon seksis yang sering dilontarkan oleh Ridwan kamil sama sekali tidak mencerminkan duta HeForShe. Keberagaman yang sering ia promosikan pun secara tidak langsung hanya berlaku bagi normatif yang memenangkan mayoritas saja, seperti heteronormatif dan atau binary gender.

Seksisme adalah perilaku berdasarkan stereotip tradisional akan peran gender; diskriminasi atau devaluasi berdasarkan jenis kelamin seseorang. Dampaknya bahkan bisa menuju pada percobaan bunuh diri. Akibat-akibat yang tidak diinginkan tersebut pun dapat terjadi karena lelucon seksis. Lebih ngeri daripada ditolak mantan saat kita mengajaknya balikan.

Biasanya, ketika saya memberi tahu seseorang bahwa lelucon ia merupakan seksisme, dia akan membalas dengan kata-kata “Ya kan bercanda. Ga usah baper gitu.”. Ketika seksisme mempromosikan budaya perkosaan, lalu teman kamu bunuh diri akibat lelucon tersebut, apakah kamu masih menganggapnya sebagai candaan? Menjawab seperti itu karena diri kamu sendiri berada pada normatif dan zona nyaman.

Penelitian dari Western California University menunjukkan bahwa orang yang kerap terpapar humor seksis dapat menyebabkan orang tersebut mentolerir perilaku memusuhi dan diskriminasi terhadap perempuan. Apalagi kasusnya berada pada normatif-patriarki. Dalam penelitian yang sama pun ditemukan bahwa orang yang terpapar gambar dan humor seksis cenderung menjadi korban secara tidak langsung akan budaya perkosaan dan diobyektifikasi.

Tidak hanya karena lelucon seksis yang sudah menjadi hal biasa. Well, karena yang sering bercanda adalah orang penting seperti Ridwan Kamil. Maka lelucon tersebut cepat atau lambat, sekarang atau nanti akan berujung pada bullying (perisakan), termasuk stigma dan labelisasi. Untuk kasus Ridwan Kamil, terhadap perempuan dan transgender.

Bullying (perisakan) adalah tindakan atau perilaku berulang dalam bentuk verbal, fisik, sosial, atau melakukan perilaku psikologis yang agresif oleh seseorang atau kelompok yang ditujukan kepada orang lain yang memiliki daya lebih lemah atau kelompok dan dapat menyebabkan bahaya, kesulitan, penderitaan, kesedihan, maupun keadaan sulit, hingga ketakutan.

Perisakan dapat dilakukan dalam bentuk verbal seperti tulisan yang bermuatan humor seperti: konten publikasi seperti poster; ancaman kekerasan; pelecehan seksual; homofobia; diskriminasi yang berdasarkan agama atau ras; dan cyberbullying.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil adalah sebuah bullying dan diskriminasi. Yang secara tidak sadar mengdiskreditkan obyek yang ia tuju dalam lelucon yang ia buat. Tidak hanya konten tersebut yang berbahaya, namun konsumen yang belum mengerti consent dan sexism tentu akan mengkotak-kotakan obyek tersebut sebagai hal yang liyan.

Normatif yang berlaku bagi kita sekarang, mau tidak mau masih diskriminatif bagi kelompok yang rentan (vulnerable groups) seperti hak-hak minoritas; anak-anak dan perempuan, lansia, pengungsi, ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), LGBT, stateless person, disabilitas, transgender/transseksual. Kelompok dominan inilah yang menciptakan nilai-nilai yang dianggap menyimpang atau liyan sehingga berujung pada labelisasi oleh kelompok yang nyaman dengan konstruksi mayoritas.

Kita tidak sadar telah membangun konstruksi sosial dari interaksi sosial setiap harinya dengan medium yang berbeda-beda. Entah itu interaksi langsung maupun tidak langsung seperti lelucon seksis yang berujung pada cyberbullying.

Ridwan Kamil dengan 5,7 juta followers di Instagramnya tentu dapat mempengaruhi setiap pemikiran pengikutnya. Bandung dengan wacana kota ramah HAM, seharusnya dapat dimulai dari ia sendiri sebagai wali kota untuk lebih banyak mempromosikan keberagaman. Pun memperbaiki empati dengan memanfaatkan keberagaman. Salah satunya yaitu tidak lagi bercanda seksis.

Tulisan ini tidak hanya untuk Ridwan Kamil, namun untuk kamu juga, wahai para mantan!