BAGIKAN

Bulan Mei bulan yang penuh kengerian. Setidaknya demikian yang saya rasakan. Negeri ini tengah digonjang-ganjing. Orang-orang fasis dan penerus kaum Orbais sesuka hati main tuding. Dengan menganggap diri paling suci, mereka “mengkafirkan” orang-orang di luar golongannya secara tak manusiawi.

Salah satunya adalah apa yang dialami Adlun Fiqri. Hanya gegara atribut yang digunakan tak sama dengan atribut yang digunakan oleh orang-orang yang menganggap dirinya paling suci, dia diamankan. Jeruji besi jadi penentuan nasibnya. Tentunya, pelbagai cap dilabelkan pada dirinya.

Pecinta Kopi Indonesia, salah satu “oretan” yang menempel di kaosnya, dituding memiliki arti ganda. Bahkan, maksud yang sebenarnya dipelintir begitu saja. Meski Adlun menyatakan tak ada motif sama sekali menumbuhkan paham komunisme atau “membangkitkan” PKI, orang-orang yang mengaggap diri paling suci itu tidak mau mendengar.

Pecinta Kopi Indonesia didefinisikan secara sepihak menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia), salah satu partai yang besar nan jaya pada masanya. Selain kaos, ada beberapa barang berupa buku yang turut disita. Seperti; Nalar yang Memberontak (Filsafat Marxisme), Penjagal Itu Telah Mati (Kumpulan Cerpen), dan Lekra dan Geger 1965 (buku investigasi Tempo).

Kengerian macem apa lagi ini?!

Kengerian lain pun makin banyak bertebaran. Saya pun menyadari, sepertinya tak cukup waktu semalam untuk memetakan dan mengulitinya satu per satu. Maka alangkah baiknya, saya fokuskan diri untuk membicarakan satu bentuk kengerian yang menimpa Adlun saja. Kengerian yang menurut saya cukup mengusik masa depan negeri ini.

Pertama, soal kopi. Di negeri ini, siapa sih yang tak menyukai kopi? Saya yakin, pelbagai kalangan menyukai kopi. Bahkan, mungkin kecintaannya pada kopi melebihi kecintaannya pada pasangan. Tak tanggung-tanggung pula, berapa pun harganya tak jadi soal.

“Selama ada kopi hidup makin berwarna, damai dan tenteram,” seloroh seorang teman. Jika demikian, kopi mampu membangun impresi dalam benak kita. Tanpa kopi seakan-akan kita teperangkap dalam kegelapan: gundah-gulana, selalu bermusuhan, dan kerapkali melakukan kekerasan.

Kemunculan Adlun sebagai Pecinta Kopi Indonesia membuka mata dan hati kita. Di samping kita diajak untuk mengentaskan diri dari jurang kegelapan, kita diajak pula untuk menunjukkan kepada dunia betapa besar rasa cinta kita pada kopi. Jiwa nasionalisme kita pun makin tumbuh subur, sebab mencintai kopi asli Indonesia sama halnya dengan mencintai negeri ini.

Kedua, soal buku. Buku adalah jendela dunia. Kita memang tidak mampu mengarungi hamparan bumi yang begitu luas. Sementara kita ingin mendeskripsikan sebuah tempat yang tak pernah kita kunjungi, akan tetapi dengan buku kita diantarkan menjelajahi tempat itu. Maka, buku masih menjadi satu alternatif utamanya.

Kita dapat membaca sejarah peradaban manusia dari mana coba, kalau bukan dari buku? Kita berkenalan dengan filosof, ya, tak lepas dari membaca buku. Tanpa buku, tentu kita tak kenal siapa Ibnu Rusydi yang di dunia barat mashur dengan nama Averus, yang oleh Tan Malaka disebut sebagai Aristoteles Arab. Tanpa buku pula, kita tak akan kenal dengan sosok yang menyebut Averus sebagai Aristoteles Arab.

Bahkan, tanpa buku kita akan menjadi keledai di negeri sendiri. Tidak tahu sejarah, awam perkembangan dunia, lupa bahwa negeri kita pernah menjadi pusat peradaban dunia, dan lupa bahwa pernah ada tragedi mengerikan di tahun 1965. Patutlah kita berseloroh, penyita buku Adlun adalah orang-orang yang berupaya menghilangkan sejarah dari bumi pertiwi ini. Bahkan lebih parah, mereka ingin orang-orang Indonesia menjadi keledai di negeri sendiri.

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah jatuh ke jurang kegelapan karena tak minum kopi, jadi dungu seperti keledai karena tak membaca buku. Maka, sungguh mulia apa yang dilakukan Adlun. Namun semulianya suatu perbuatan tak lepas dari cobaan. Selalu saja  ada halangan, rintangan, membentang, jadi masalah dan jadi beban pikiran. Begitu pula dengan Adlun. Mereka, orang-orang yang menganggap diri paling suci itu menimpakan cobaan kepada Adlun.

Tuhan, apakah Engkau marah dengan perbuatan orang-orang yang menganggap diri paling suci itu? Adakah yang bisa menjawab pertanyaan saya? Walaupun Engkau marah, tapi hamba yakin, Engkau Maha Pemurah. Maka, ampunilah orang-orang yang menganggap diri paling suci itu.

Kelakuan mereka telah melangkahi kuasa-Mu. Pertama, mereka telah berani “mengkafirkan” sesama ciptaan Tuhan. Kedua, mereka berusaha melenyapkan ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan. Nikmat-Mu tak disyukuri. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang mereka dustakan?

Meski berdalih mengantisipasi kebangkitan PKI di negeri ini, yang jelas, pemberangusan buku-buku kiri yang dilakukan oleh mereka sangatlah melanggar titah Tuhan. Bukankah Tuhan memerintahkan hamba-Nya menutut ilmu agar tak pilah-pilih ilmu? Bahkan, Kanjeng Nabi junjungan umat Islam menganjurkan menuntut ilmu sekalipun sampai ke negeri Cina, bukan?

Kita diberi pengetahuan oleh Tuhan agar mengetahui salah dan benar. Kalau yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap diri paling suci itu salah, maka tak ada salahnya kita turut mengutuk mereka. Maka tak ada salahnya pula kita rapatkan barisan. Bersama membasmi orang-orang fasis penerus kaum Orbais.