BAGIKAN

Lagi dan lagi, dunia pendidikan tinggi kita tercoreng. Kali ini kabar buruk datang dari organisasi yang menamakan diri mahasiswa pecinta alam (Mapala). Bagaimana tidak, meninggalnya tiga mahasiswa saat mengikuti pendidikan dasar oleh organisasi Mapala UNISI Yogyakarta beberapa waktu lalu, akibat tindak kekerasan oleh oknum senior mereka.

Kejadian ini mengundang perhatian dari banyak pihak. Menjadi pembahasan serius para netizen hinga penghuni-penghuni burjo. Nama Mapala diseret-seret dan dipertanyakan.

Pada suatu kesempatan ketika nongkrong di Burjo,  seorang kawan (mari sepakat untuk menyebut dia Bunga) bertanya, “Bang, sebenarnya Mapala itu mencintai atau menindas sih?”

Saya yang menikmati teh manis saat itu, diam. Saya yakin si Bunga bisa menjawab sendiri pertanyaanya. Dan benar, dia menjawabnya sendiri. Nah, tulisan ini adalah jawaban atas pertanyaannya itu.

Awalnya si Bunga ingin menulis soal hal ini, akan tetapi, katanya, dia tidak enak hati. Jadi dia meminta saya untuk menuliskannya.  Yaudah tak turutin.

Si Bunga bilang begini, mereka itu (oknum Mapala yang melakukan kekerasan) sebenarnya tidak tuntas belajar mencintai. Bagaimana mau mencintai alam, manusia saja tidak dicintai. “Padahal dalam kode etik mereka kan harus mencintai alam beserta seisinya.”

Ya, saya dan Bunga sepakat untuk tidak sepakat dengan tindakan kekerasan, baik secara psikis maupun fisik. Apalagi dengan dalih kepatuhan terhadap senior dan juga kedisiplinan. Omong kosong. Ini adalah representasi dari militerisme.

Bunga makin nyinyir. Dia mempertanyakan representasi dari mahasiswa pecinta alam itu. Apakah hanya naik turun gunung, berpetualangan, masuk keluar hutan, menyusuri sungai dan gua, panjat-panjat tebing dan selfie-selfie saja.

“Yah kalau begitu mah hobi, cuk. Mending dikasih nama mahasiswa penikmat alam saja, jangan pecinta,” kata Bunga makin nyinyir.

“Ya wong petani aja yang tanahnya dirampas untuk pertambangan, mereka di mana coba? mana ada bawa bendera Mapala terus mimpin demo gitu”

“Jelas-jelas tambang merusak alam. Kalau mereka mencintai alam, ya mereka ada di garda terdepan memimpin petani untuk melawan pertambangan dan mempertahankan tanah”.

Huufffttt! Begitulah kekesalan yang disampaikan Bunga. Bunga sebelumnya ingin mendaftar di organisasi Mapala di kampusnya. Akan tetapi setelah dia mengamati kegiatan-kegiatan Mapala di kampusnya, batal rencana untuk ikut Mapala.

Pikirnya saat itu, Mapala tidak hanya naik turun gunung, panjat tebing dan masuk keluar hutan. Akan tetapi terlibat dalam advokasi kasus-kasus agraria, terlibat dalam pengorganisasian masyarakat untuk melawan investasi-investasi pertambangan yang jelas-jelas merusak lingkungan dan merampas tanah rakyat. Baginya, itu bagian dari perjuangan ekologis dan mencintai alam serta lingkungan. “Malah lebih esensial,” katanya. Dan bukan hanya acara-acara tahunan tanam-tanam pohon lalu mengatasnamakan konservasi. Sementara di Kalimantan, Sumatera, Papua dan Maluku, ribuan kawasan hutan dijadikan lahan pertambangan.

Percuma nanam-nanam ratusan pohon di sini, kalau di sana jutaan pohon ditebang. “Mending dibubarkan aja lah, bang, percuma,“ usul si kawan (yang kita sepakati namanya Bunga ini).

Bagi saya pedas banget kritiknya. Saking pedasnya saya sampai keringatan. Walau ada benarnya juga, tentu kurang bijak jika kita menggeneralisir semua kegiatan Mapala seperti itu. Sayapun mecoba meluruskan (walau bukan anak Mapala) bahwa kegiatan-kegiatan Mapala, yang awalnya hanya hobi-hobi, sangat sangat bermanfaat. Terutama melatih diri di alam bebas untuk bertahan hidup. Karena dibekali dengan kemampuan lapangan. Mapala kerap menjadi garda terdepan dalam proses evakuasi ketika terjadi bencana. Kemampuan mana lagi yang kau dustakan.

Sekali lagi, kurang bijak jika si Bunga menuduh anggota-anggota Mapala apolitis dan apatis. Padahal banyak juga teman-teman Mapala yang terlibat dalam kegiatan advokasi lingkungan, pengorganisiran warga menolak pertambangan. Banyak alumni Mapala yang saat ini menjadi aktivis agraria dan pendidikan. Banyak. Tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Bahkan ada pula yang rela hidup bertahun-tahun di dalam hutan demi memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat adat. Kurang keren apa coba, cuk.

Ya, lagi-lagi saya dan Bunga sepakat untuk kegiatan-kegiatan seperti itu, yang seharusnya patut dicontohi dan dikenalkan kepada anggota-anggota baru dalam  pendidikan dasar. Agar menjadi inspirasi untuk meningkatkan cintanya kepada alam beserta isinya. Daripada menunjukan kegalakan dan melakukan tindakan kekerasan dengan dalih kedisiplinan, kepatuhan, melatih mental dan bla-bla lainnya. Omong kosong. Terpelajar kok mempraktekkan pembodohan. Ngaku mencintai alam, tapi menindas manusia. Cuk!

Akhir kata, kami turut berbelasungkawa atas meningggalnya tiga mahasiswa UII karena tindak kekerasan oleh oknum senior mereka (yang fasis itu). Semoga ini menjadi renungan, demi mewujudkan mahasiswa pecinta alam yang lebih baik lagi, kedepannya. Yang betul-betul mencintai. Love Forever.