BAGIKAN

“Kalau kampus tak mau mendidik yang nakal, maunya hanya yang baik-baik saja, lalu kepada siapa mesti kutitipkan ia untuk belajar ?”

~Bapaknya Sawal kepada Rektorat  (Revolusi dari Secangkir Kopi)

Masih ingat berita tentang bajingan bernama Sadam Husaen, yang diajak masuk ruang sidang oleh pihak kampus, bukan untuk makan siang, tapi memberi klarifikasi mengenai tulisan berjudul “Kegagapan Pembangunan Fakultas Sastra Universitas Jember” atau jika Sadam terlalu asing bagimu, mungkin kamu tahu Wiji Thukul? Seniman yang digelari penyair pamflet karena kegemarannya menulis puisi-puisi subversi, dan penggalan puisinya banyak dikutip oleh kakak-kakak aktipis dalam berbagai demonstrasi.

Setelah beberapa tahun hilang tanpa kejelasan, Wiji dihadirkan kembali dalam sebuah film festival dengan berderet penghargaan sampai kemudian dibioskopkan. Tapi percayalah, tulisan ini sama sekali tidak akan mengulas Wiji dan filmnya. Bukan juga tentang bajingan bernama Sadam, yang asing itu. Isi tulisan ini sungguh benar-benar mengkhidmati kenyinyiran pada pepatah yang akrab kita dengar “semakin berisi, semakin merunduk”. Pepatah lama yang berisi anjuran tawadhu alias rendah hati, terutama bagi orang-orang berilmu. Pepatah manjur andalan para pendidik, jika ingin menjinakkan murid yang kebanyakan kritik.

***

Pada tanggal 17 Maret 2014. Al-Ghazali, Mahasiswa STIKES Mega Rezky Makassar, karena berani-beraninya menanyakan transparansi biaya Praktik Kerja Masuk Desa (PKMD) sebesar Rp. 980.000. Melalui Surat Keputusan (SK) No: 1327 B.3145/SK/III/2014, dengan resmi dijatuhi sanksi skorsing. Bersamaan dengan terbitnya SK tersebut, ikut berlaku aturan lain, bahwa dalam masa skorsing Al-Ghazali tidak boleh menginjak kampus. Tapi apa jalang, atas permintaan 5 himpunan mahasiswa, Al selaku demisioner ketua BEM mesti mengambil tanggung jawab untuk melantik pengurus baru BEM Mega Rezky, yang celakanya dilakukan dalam kampus.

Tindakan Al kemudian dinilai ilegal, karena dianggap melanggar ketentuan yang sebelumnya telah ditetapkan pihak kampus melalui surat skorsing nomor sekian-sekian. Lalu akibat terlalu bandel dan kebanyakan tanya, Al secara resmi dipecat sebagai mahasiswa melalui surat DO nomor sekian.

Dua tahun kemudian, tiga orang mahasiswa Fakultas Teknik UIM atas nama Bakrisal Rospa, Henry Foord, dan Dzulhilal. Dalam upaya bertanya pada Kopertis Wilayah IX perihal pengangkatan rektor dan masa jabatan rektor skala Perguruan Tinggi Swasta (PTS), berkaitan dengan terpilihnya Dr. Majdah Muhyidin Zain untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sebagai Rektor UIM.

Menanggapi upaya ketiga mahasiswa tersebut, pihak Kopertis Wilayah IX memberi jawaban melalui selebaran tentang aturan masa jabatan rektor skala PTS dan mengatakan kepada mahasiswa yang bersangkutan, bahwa pengangkatan Rektor PTS harus tetap mengacu pada aturan SE-Dikti 2075/D/T/1998 dimana salah satu isinya membahas masa jabatan rektor yang hanya sampai dua periode dan dalam satu periode masa jabatannya berkala empat tahun. Sementara untuk landasan hukum yang lain adalah PP RI No. 60 tahun 1999 dan Permendiknas No. 67 tahun 2008.

Atas dasar hukum tersebut, maka digelarlah aksi demonstrasi yang diinisiasi oleh tiga mahasiswa penasaran itu. Kampus yang tak terima, mungkin karena ditanyai bukan dalam ruang kuliah, atau mungkin karena pertanyaannya tidak dibarengi tentengan parsel dan amplop, lalu menerbitkan SK NO : 863/UIM/SKEP/II/2016 yang tidak lain berisi instruksi pemecatan mahasiswa atas nama Henry, Bakri, dan Hilal berlaku sejak tanggal 17 Februari 2016. SK ini terbit sehari setelah pemanggilan ketiga mahasiswa untuk mengklarifikasi mengenai kegiatannya mempertanyakan keabsahan jabatan rektor.

***

Dua cerita di atas meski diceritakan dengan gaya yang sedikit kaku, oke memang kaku. Tapi, demi Tuhan apapun yang kamu sembah, hal tersebut benar-benar terjadi, dan masih tetap saya ikuti perkembangannya sampai hari ini. Selain itu, dua cerita tersebut juga menjadi gambaran, bahwa betapa pertanyaan dari mahasiswa yang penasaran, sungguh jauh lebih berbahaya daripada peristiwa ditikung teman, atau mantan yang menikah duluan.

Meski sebenarnya janggal juga, jika di ruang belajar macam kampus, kegiatan bertanya jadi perkara yang diharamkan. Jauh lebih haram dari orang-orang yang marah agamanya dinistakan, tapi membiarkan tetangganya kelaparan. Juga diam saja menyaksikan perampasan lahan. Padahal, bukannya semua teori yang digunakan dalam kampus, terbangun atas sebuah pertanyaan? Lalu kenapa kampus bisa sebegitu takutnya pada mahasiswa yang bertanya? Bahkan para pemimpin kampus pun jadi Doktor karena bertanya.

Kemudian, dalam kondisi yang demikian. Daripada disebut sebagai institusi pendidikan, kampus jadi lebih mirip sebuah kamp konsentrasi ketimbang ruang belajar. Atau barangkali ada niat terselubung dari kampus-kampus masa kini, untuk mendirikan sebuah agama baru, agar dapat menjadi mutlak dan terkuat. Dugaan ini beralasan, karena sejauh ini hanya agama dan adat yang tabu untuk dipertanyakan.

Jika sudah begini, perlu dipertanyakan, apa makna pendidikan bagi kampus kita. Apakah seperti pertanyaan bapaknya Sawal pada rektorat, yang saya kutip di bagian awal tulisan? Ataukah seperti yang kebanyakan kampus hari ini tunjukkan “ruang penghakiman dan seleksi kepatuhan?” Atau justru se-iya dengan sarkasme yang lebih purba “the will to power” seperti Nietzsche bilang? Tapi bukannya sudah terang, dalam pembukaan undang-undang menjelaskan jika tujuan pendidikan adalah mencerdaskan segenap kehidupan bangsa. Lalu jika memang sebegitu jauhnya makna pendidikan dalam kampus, bergeser dari penjelasan  undang-undang. Maka dapat disimpulkan. Pendidikan dalam kampus, bukannya menunjukkan kemajuan, justru mengalami kemunduran.

Pada akhirnya, karena lagu Darah Juang adalah nyanyian terlarang. Mari bersama-sama membaca Sajak Suara gubahan Wiji Thukul ;

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
dialah yang mengajariku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan