BAGIKAN

‘Pengalaman adalah guru terbaik’, Sebuah quote yang menurut saya begitu dekat dengan kita. Begitu mahsyur karena tercetak dengan narsis di bagian bawah buku tulis Sinar Dunia (Sidu). Sebelum buku binder menguasai pasar, Sidu cukup familiar bagi generasi staples. Entah dari siapa atau apa quote itu berasal, yang pasti bukan dari mata turun ke hati.

Orang-orang biasa, setali tiga uang akan manggut-manggut dengan kutipan tersebut sambil bergumam ‘hmmmm, iya juga yha~’. Lain halnya dengan kami mahasiswa filsafat. Sebagai spesies berbeda dari kalian, kami selalu berfikir lebih mendasar. Mengkaji kebenaran ‘pengalaman adalah guru terbaik’ sambil kembali ke masa awal kuliah. Membuka lembaran gagasan John Locke dalam buku An Essay Concerning Human Understanding. Ia mengatakan dengan santai bahwa tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Ups, santai dulu. Tulisan ini belum selesai.

Gagasan Locke kami bandingkan dengan gagasan René Descartes tentang Cogito Ergo Sum. Lalu rela begadang membaca Discourse on Method hanya untuk memastikan bahwa akal lebih utama dibandingkan pengalaman.

Hal-hal semacam itu sering terjadi dalam kehidupan kami sebagai pergumulan pemikiran intelektual. Ya menganalisa quote di lembar Sidu misalnya. Jika menjadi skripsi mungkin judulnya: Pengaruh quote-quote dalam buku Sinar Dunia terhadap mentalitas generasi bangsa menghadapi kenyataan bahwa dia sudah bahagia bersama yang lain. Sangat tidak penting. Dan seringnya diakhiri dengan tidur pulas di atas buku Dunia Sophie yang tebalnya naudzubillahimindzalik, sama dengan bantal tidur saya.

Tapi saya tidak merasa spesial-spesial amat menyandang gelar mahasiswa filsafat. Malahan geli sendiri ketika mendengar stereotip yang beredar bahwa mahasiswa filsafat itu ngeri. Bagi saya, menjadi mahasiswa filsafat itu bukan privilege jika kita hanya mengecer pemikiran-pemikiran filsuf terdahulu.

Bagaimana tidak geli ketika teman saya di Jurusan Filsafat tidak dapat membedakan antara Mikhail Alexandrovich Bakunin dengan Karl Heinrich Marx. Padahal namanya sophiscated, M Failosuf.

Lain hal dengan teman saya yang lain, Uqel. Dia bahkan tidak bisa menyebut dan menulis nama Friedrich Wilhelm Nietzsche saking rumitnya. Pun dengan gagasan nihilisme, pemahamannya nihil betul.

Saya tidak ada apa-apanya dibanding dua teman saya tadi. Saya lebih mengagumi senyum ukhti ketimbang bergulat dengan pemikiran Immanuel Kant, hasilnya nila mata kuliah filsafat ilmu saya C.

Jadi siapa yang salah? Ya betul striker liverpool.

Hal ini tidak seperti citra yang menguar di kampus. Penggambaran terhadap kami sungguh tak terbendung. Mulai dari menganggap kami atheis, menyangka kami dukun, menduga kami peramal dan tahu segala hal seolah kecerdasan kami hanya satu tingkat di bawah Einstein.

Percayalah kami tidak lebih pintar dari kalian. Lagi pula sejak kapan mahasiswa, kaum terpelajar memberikan penilaian kepada seseorang berdasarkan jurusan yang ia tempuh ketimbang kemampuan? Agent of change tabole hobi generalisasi.

Di Indonesia, dimana kampus masih kental dengan kultur feodal, filsafat hanya akan mengendap. Dan Cogito Ergo Sum hanya slogan belaka. Sangat sedikit dosen yang tahan akan kritik, tidak banyak mahasiswa yang berani untuk memberi penilaian baik-buruk. Padahal berpikir artinya membongkar hirarki, bukan justru melanggengkan.

Dalam ruang kelas tidak ada dosen atau mahasiswa, semuanya manusia. Status itu hanya berlaku di luar kelas. Di dalam kelas tidak boleh ada mahasiswa yang membungkuk berlebihan di hadapan dosen.

Jika modal didikan anti kritik masih langgeng tidak akan lahir Plato, Camus juga Sartre. Jurusan Filsafat tidak akan menumbuhkan mental berpikir, mereka hanya akan terjebak dalam kubangan lumpur feodalisme. Apakah kita butuh kembali masa pencerahan?

Jadi jika ada umur berjumpa, lalu kalian bertanya soal jurusan kami tak usah berdecak kagum. Kita sama-sama dididik oleh dosen bermental barbie, kita sama digembleng dengan kurikulum yang miskin esensi, kita sama tunduk di bawah sistem pendidikan yang dikomersialisasi. Jadi tugas kita hanya satu, yaitu banyak hohohihi~

Menjadi filsuf sejatinya adalah menempuh jalan sunyi, kamu tidak perlu setiap hari masuk kelas filsafat. Kamu hanya memerlukan tiga hal, membaca, membaca, membaca. Sudah itu saja.

Toh jurusan lain pun tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pemikir. Tidak ada profesi yang cocok untuk orang yang bergelut di dunia filsafat atau kita sebut saja pemikiran. Berpikir adalah fasilitas yang sudah disediakan alam secara cuma-cuma.

Kamu hanya tinggal menggunakan akal dan sistematika berpikir yang konsisten. Lalu tentukan kebenaran apa yang hendak kamu cari. Kebenaran metafisik, etik, logik, atau empirik. Dengan teori korespondensi, koherensi atau pragmatisme. Meski tentu, filsafat tidak sesederhana itu.

Sebagai catatan, orang hebat pun tidak banyak yang menempuh jurusan filsafat, tapi mereka mempelajari filsafat. Semoga kalian bisa membedakan ini. Dan orang lulusan filsafat seperti kami sudah terlampau nyaman untuk menjadi peternak lele setelah wisuda.