BAGIKAN

Sudahkah anda mengisi KRS?

 

Akan tiba masanya, suatu minggu dalam satu semester mahasiswa akan disibukan dengan Kartu Rencana Studi (KRS). Saya bukan Kemendikbud yang dapat mendefinisikan KRS dengan baik dan benar sesuai ejaan yang terlanjurkan. Lain dengan namanya, KRS tidak berwujud kartu semacam Kartu Indonesia Pintar. KRS dapat kita print sendiri dengan kertas sejenis F4 atau A4. Esensi kata kartu menjadi pudar mengingat kartu menurut KBBI adalah kertas tebal berbentuk persegi panjang.

Setiap jurusan maupun program studi di perguruan tinggi tentu saja memiliki target Sistem Kredit Semester (SKS) yang sudah dirancangkan. Dalam satu semester terdapat beberapa mata kuliah wajib yang harus dipenuhi dalam semester tersebut. Bahkan banyak mata kuliah yang hanya dapat ditempuh secara temporal. Semisal mata kuliah pendidikan agama yang hanya dapat ditempuh di semester ganjil saja. Padahal saya berencana tidak menempuh mata kuliah macam ini. Atau KKN yang hanya bisa ditempuh mulai semester 5. Jadi jelasnya, pembuatan KRS ini semacam rencana yang dipaksakan.

Mahasiswa tidak akan pernah bisa, merencanakan perkuliahan mereka dalam arti yang sebenarnya. Contoh mudah, seorang mahasiswa tangguh sebut saja Dani. Dani ingin menyelesaikan skripsi di semester pertama. Setelah itu, ia dengan hati gembira menyusun mata kuliah yang ditawarkan sesuai kemampuan dan keinginannya. Namun hal tersebut tidak mungkin terjadi. Meskipun Dani sanggup menyelesaikan skripsi di semester satu, sistem tidak dapat menerima kenyataan tersebut. KRS dibuat agar mahasiswa dapat mengatur SKS yang harus mereka penuhi bukan yang mereka inginkan.

Sistem menuntut kita untuk menempuh maksimal 24 SKS di tiap semesternya. Namun ada pengecualian bagi mahasiswa cerdas. Mahasiswa cerdas ini biasanya selalu mengulang mata kuliah yang sama di semester berikutnya. Sungguh luar biasa. Sayangnya saya kurang cerdas. Mereka mendapat keistimewaan untuk menempuh SKS kurang dari patokan yang diberikan.

Kegemasan terjadi ketika terdapat SKS sisa saat mengisi KRS. Entah SKS sisa ini disengaja atau tidak, tapi tetap saja menggemaskan. Mahasiswa akan disuguhi Semester Antara (dulu Semester Pendek) jika dalam satu semester kurang memuaskan. Namun untuk mengambil SA mahasiswa diharuskan membayar sekitar 70-100 ribu per SKS-nya. Ketika SKS dapat diperjualbelikan, seharunya hal tersebut juga berlaku bagi SKS sisa. Satu SKS sisa dijual kembali seharga 50 ribu, saya rasa itu sudah cukup untuk makan satu minggu bagi mahasiswa.

Masalah KRS tidak hanya berhubungan dengan Sister UJ yang amburadul, tapi juga proses persetujuannya yang nothing tulus. Kita harus berhadapan dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA). Seorang agamis pernah berkata pada, DPA yang anda dapatkan sesuai dengan amal dan perbuatan. Saya hanya mengamininya. DPA saya tipe yang jarang cek TL (timeline), membaca lewat HP dengan jarak pandang dua meter, menceramahi sambil menyesuaikan KRS dengan buku akademik. Silahkan tebak semacam apa amal dan perbuatan saya.

Di suatu minggu dalam satu semester inilah mahasiswa hanya bisa menurut pada sistem. Entah mahasiswa kupu-kupu, pers mahasiswa, mahasiswa gerakan, aktipis kenangan, semua mahluk berstatus mahasiswa akan menyeruakan satu lagu. Aduh… aduh… aduh… mana tahaaan” best song film Senyap, The Look of Silence

Jadi, sudah selesaikah KRS anda semester ini?

 

 

Deskripsi dirinya diganti mas:

Rosy Dewi Arianti Saptoyo. Perantau Jember yang tak pernah ke Papuma.