BAGIKAN

Hei, kau makhluk bumi laknat! Apa kau tahu apa itu laknat? Ha? Tahu gak oiii? Gitu aja nggak tahu. Ya sudah aku kasih tahu ya, laknat itu kamu, makhluk bumi yang punya kartu identitas. Sedikit-sedikit mengandalkan identitas dalam bentuk kartu.

Baru bikin yang namanya “negara” saja sudah mewajibkan memiliki identitas. Mau hidup saja harus ada tanda kependudukan. Itu cuma negara lho. Cuma! Memang apa yang bisa dibanggakan kalau punya negara?

Padahal dulu ini ya… dulu, benar-benar dulu. Negara tidak ada di zaman Brontosaurus ataupun Pithecanthropus Erectus (teman saya mengartikannya sebagai manusia kera yang suka ereksi). Meski tidak ada negara, apakah mereka tidak ada yang dibanggakan? Ada. Mereka masuk buku sejarah.

Lalu apa yang manusia kekinian banggakan? Tentu saja masih sama: identitas. Punya komunitas langsung bikin kartu anggota. Punya keluarga, bikin kartu keluarga. Punya masalah dengan kondisi fisik, bikin kartu Indonesia sehat. Punya keresahan dengan keberagaman pola pikir, bikin kartu Indonesia pintar. Punya duit untuk memonopoli hutan, sawah dan laut, lalu bikin kartu Indonesia sejahtera.

Menikah, di KTP langsung ubah status identitas: kawin. Lantas setelah punya itu, mau apa? Mencari hotel melati dengan pasangan. Berharap digrebek. Setelah digrebek kamu akan dengan songong memamerkannya di depan petugas: nih, kartu!

Tapi ingat, sebagai makhluk humanisme universal, ada yang perlu kalian catat mengenai identitas. Identitas seperti sebuah hal yang supranatural.

Mari ambil contoh. Saya akan ceritakan seonggok makhluk. Orang tuanya memberikan nama Adib (bukan nama samaran) padanya. Dia punya nama lain Aidhip. Lebih lengkap lagi Aidhip Aegypti. Kadang kala orang menyebutnya DN Aidhib. Kapan-kapan akan saya kasih tahu kenapa dia dipanggil Aidhip Aegypti atau sejarah DN Aidhib. Saya kasih tahu kutipan sejarah DN Aidhib saja. Begini bunyinya: hidup itu fana tapi begitu terasa.

Dia pernah menjadi preman yang disegani di terminal Pulogadung. Da terlibat perkelahian yang amat dahsyat dengan kelompok preman lain. Kelompok preman itu dendam padanya dan dia masuk dalam Daftar Pencarian Orang. Dia merasa seperti public figur sekaligus public enemy. Pergilah dia ke suatu daerah yang jauh dari Pulogadung untuk menyelamatkan diri. Di tempat barunya ini, ia dikenal dengan julukan Embah.

Suatu hari Embah bermain tanpa memakai pakaian di tengah hujan, berlari-larian, kencing di celana sambil menahan dingin, dan tertawa-tawa. Di sisi lain, orang-orang berteduh di emperan bangunan atau di bawah jembatan penyebrangan. Orang yang berteduh menarasikan Embah, betapa enaknya menikmati kebebasan tanpa ikatan etika, ritus sosial, jam kerja, dan keberanian pada air hujan. Di mata mereka Embah seperti anak kecil.

Runtutan perjalanan hidup Embah di atas menyiratkan identitas. Bahwa identitas mahluk sebagai Adib, Aidhip Aegypti, DN Aidhip, preman, Embah, dan anak kecil, semuanya supranatural. Identitas hanya sekumpulan penilaian. Dia dikuasai narasi. Narasi yang dibangun oleh keluarga, preman Pulogadung, orang di emperan dan jembatan, bahkan oleh negara. Narasi itu muncul karena manusia memaksa banyak hal menjadi relevan. Identitas, yang disadari atau tidak, menjadi kebanggaan dalam diri seseorang sehingga membuatnya layak untuk memberi penilaian terhadap suatu hal. Keduanya disangkut-pautkan pada sesuatu yang dianggap krusial.

Kecerdasan dinilai dengan IQ. IQ dinilai untuk mendapat kerja. Kerja dinilai dengan uang. Banyak uang dinilai sebagai kebahagiaan. Pada akhirnya semua berlomba-lomba mengejar nilai, mengumpulkan pengakuan-pengakuan, lalu mendapat predikat tertinggi.

Identitas manusia tidak akan menemui titik henti, karena dia adalah penilaian. Hampir semua memiliki otoritas untuk menyematkan narasi.

Maka mari kita kembali ke pembahasan kartu identitas. Kartu hanya salah satu media untuk mempersempit narasi. Ia juga bisa menjadi titik henti yang dipaksakan oleh komunitas, keluarga, kondisi fisik, penyeragaman pola pikir, orang yang punya duit banyak, bahkan pasangan hidup. Jadi apa yang perlu kita banggakan dari titik henti yang semu itu? Setelah semua, lalu apa lagi?

Ini kan tampak seolah-olah bahwa konstruksi sebuah kontradiksi ada pada paradigma yang riil. Bukankah ini substansi yang esensial strategis berkorelasi positif dengan eksistensi kumulatif rambut pubis? Maaf, terlalu sia-sia memikirkan dua kalimat sebelumnya, apalagi sampai menuliskannya, dan ada yang menyebarkan tulisan ini untuk dibaca. Tapi jangan anggap ini serius, apalagi bercanda. Jadi, jangan menikmati sendiri kesia-siaan waktu anda. Bagikanlah itu, supaya kesialan menyebar dan kita sama-sama menertawainya.