BERBAGI

“Siapa yang mengambil celanaku?” pertanyaan ini muncul akibat dari hilangnya celana di kos-kosan setelah dua hari terjemur di jemuran belakang kosan. Karena terburu-buru untuk mengikuti seminar jurnalistik di UNIKA Soegijapranata, akhirnya saya harus memakai celana seadanya yang sudah sobek dibagian lututnya. Sudah lebar sekali.  Hingga terlihat lutut secara sempurna. Sebenarnya was-was menyelimuti, tapi dengan keteguhan mencari ilmu, saya beranikan diri.

Ini adalah bentuk sabotase terhadap celana terbaik milik saya,. Celana yang baru saja terbeli dan masih emes-emesnya. Tidak ada sobekan sekecil apapun. Celana yang menyelamatkan saya dari pandangan miring mahasiswa UIN. Celana ini adalah penyelamat untuk mendapatkan perhatian dedek-dedek emes. Saya merasa sangat-sangat kehilangan. Masalahnya bukan hanya soal dedek emes saja sebenarnya, ada banyak lagi.

***

“Aktivis sekarang sudah tidak zamannya lagi memakai celana sobek-sobek. Itu aktivis zaman jadul. Tahun 70-an.” Begitu sindir presiden DEMA ketika melihat saya nongkrong di kantin memakai celana yang sobek-sobek. Aku tahu itu adalah sindiran yang ditujukan kepada saya, karena hanya  saya yang berada di situ dengan celana seperti itu.

Kemudian ditambah lagi dengan sindiran dari aktivis terkemuka di kampus. Aktivis yang dengan kehadirannya selalu dielu-elukan. Karena perjalanan keaktivisannya yang sudah melalang buana. Demo sudah menjadi hal yang sangat biasa. Apalagi revolusi dan pengabdian masyarakat sudah dia lakukan semua. Sindirannya hampir sama dengan apa yang sudah dilakukan oleh pak Pres DEMA. Tentang aktivisme di era sekarang.

Selain sindirian Pak Pres, juga ada bentakan dari Dosen Tafsir yang bermuka serem, karena sama sekali tak pernah senyum tergambarkan diwajah angkernya. Bapak itu mengancam “Jika kamu besok masih memakai celana tersebut. Kamu mau pergi dari kelas ini atau pindah kelas? Atau tidak lulus dari makul ini?” Seingat saya seperti itu. Padahal sebelumnya dia menawari untuk memberikan celananya di rumah. Dengan polosnya saya bertanya, “Tidak tahu rumahe bapak, alamatnya dimana ya?” bukannya dijawab malahan dia balas bertanya, “Kamu mau pakai celana saya?” Kemudian saya menjawab mau. Tapi malahan dibentak seperti itu. Lha ini maksudnya gimana bapak dosen.

Karena celana baru saya hilang, maka kali ini terfikirkan untuk menjawab sindiran mahasiswa ngaktivis dan bentakan mematikan dosen serem di akhir-akhir semester.  Rasanya sangat tertekan sekali diperjalanan ketika menuju gedung Mikael UNIKA, kepikiran dengan celana baru yang tidak tahu rimbanya. Dari hal itu akhirnya merembet-rembet ke soal aktivis yang katanya sudah tidak zamannya lagi. Kemudian kepikiran bagaimana nasib saya nanti di depan bapak-bapak rektorat (soalnya masih ada beban wawancara yang belum selesai). Selain itu, yang paling penting lagi, nasib saya di depan dedek-dedek emes nanti sangat dipertaruhkan. Karena setiap kali saya memakai celana sobek, selalu saja ada yang memandangi, sambil berbisik-bisik. “Bagaikan langit dan bumi.”. Ketika saya berada di UNIKA, semuanya melihat dengan biasa-biasa saja. Dihormati, dan tidak dipandang sebelah mata.

Kali ini saya menjawab Pak dosen, Pak pres dan Pak ngaktivis. Pertama adalah menyoal aktivis. Saya tekankan kepada Presiden DEMA dan aktivis kampus yang terhormat dan sudah melalang buana kemana-mana. Saya bukan aktivis seperti kamu-kamu. Saya hanya manusia biasa yang tidak punya daya apa-apa. Makan sekali sehari jika ada. Mandi sekali jika ada air. Ganti baju seminggu jika ada yang bersih. Saya bukanlah mahasiswa yang berkoar-koar di bawah terik matahari. Bukan mahasiswa yang bisa menakut-nakuti dedek-dedek emes dengan sertifikat OPAK. Bukan juga mahasiswa yang bisa membentak dengan gagahnya kesana kemari di saat OPAK. Juga bukan mahasiswa yang bisa berbla-bla ria di depan dedek-dedek emes. Juga bukan mahasiswa yang memberikan harapan-harapan besar untuk negerinya, apalagi prestasi. Sama sekali tidak punya. Bukan juga mahasiswa yang kehadirannya selalu dinanti-nantikan di lingkungan kampus. Jadi, sudah jelas saya hanya mahasiswa biasa yang kebetulan dulu pernah tidur di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) kampus, karena tidak punya kos-kosan. Itu yang jelas kepada pak pres dan pak ngaktivis.

Kemudian adalah soal celana. Begini Pak dosen, Pak pres dan Pak ngaktivis, sebenarnya saya tidak mau membukanya tapi demi meluruskan semua itu. Juga demi kepentingan bersama. Saya akan menyampaikan dengan tanpa rasa malu. Begini, saya hanya punya berapa celana. Ada tujuh celana. Empat sobek-sobek, sobekannya karena alami, celana jeans yang sudah terlalu lama dipakai sejak empat tahun yang lalu. Sisanya tiga, masih normal akan tetapi yang satu kekecilan, yang satunya lagi kebesaran, dan satunya lagi baru tadi pagi hilang. Jelas? Jadi bukan masalah saya meniru aktivis tahun 70an. Saya hanya mahasiswa yang tidak punya celana yang bagus-bagus seperti Pak dosen, Pak pres dan Pak ngaktivis.  Lha wong diberi kesempatan untuk kuliah saja sudah syukur Alhamdulillah kok, mau macem-macem jadi aktivis.

Yang membuat gemes adalah ketika Pak dosen menawari tapi ternyata dia hanya memberi harapan palsu. Sedangkan Pak pres dan Pak ngaktivis, punya celana bagus-bagus bermerk dan pasti mahal harganya. Tidak mau memberi. Menawarkan saja tidak, hanya nyinyir melihat saya memakai celana seadanya ini.

Sebenarnya melihat tingkah polah dua aktivis itu, saya suka bingung. Di jalan-jalan berkoar-koar menolak kapitalisme yang saya kurang begitu paham maksudnya. Tapi mereka masih memakai produk-produk kapitalisme. Berkoar-koar melindungi lingkungan, eh tak tahunya buang sampah sembarangan, naik gunung dengan modal tak sedikit yang ujung-ujungnya juga membuang sampah sembarangan. Banyak di kampus ini seperti itu. Dilihat saja sepatunya, bajunya, tasnya, gelangnya, jamnya, celananya. Semua merknya dari luar dan kayaknya menyitir pendapat mereka sendiri, itu adalah produk kapitalisme. Jujur, saya baru tahu namanya ketika kuliah di sini. Coba kalau tidak, pasti tidak kenal. Kenalnya pun juga dari kedua aktivis tersebut. Sumpah saya bingung dengan tingkah polah kedua aktivis ini. Dasar aktivis!

Ada lagi yang berkoar-koar pendidikan humanis. Eh, ternyata dia sendiri tidak humanis. Bagaimana disebut humanis, jika dedek-dedek emes saja ditakut-takuti dengan sertifikat OPAK. Kan kasihan mereka. Tidak bisa sebebas-bebasnya sebagai manusia. Harus merasa takut menghadapi kakak-kakaknya yang gagah dan tegas itu. Apalagi nanti semisal kalau tidak mendapatkan sertifikat. Bisa-bisa percuma datangnya empat hari di OPAK kemarin.

Dua paragraf tadi anggap saja hanya sebagai selingan saja, anggap, saya iri dengan mereka. Saya jelaskan lagi Pak dosen, Pak pres dan Pak ngaktivis. Oh ya saya teringat lagi dengan aktivis-aktivis lain. Aktivis ini sukanya mengambil pakaian dan barang-barang yang bisa diambil di sekretariat, bisa televisi, sound sistem, banyak hal pokoknya. Sempat mau buat jebakan tikus. Tapi tidak tega melihatnya. Karena melihat aktivis ini yang keren-keren dan dapat menghibur para mahasiswa yang sedang gundah gulana hatinya. Jadi sebenarnya banyak pakaian berkurang ketika di PKM, adalah ulah para aktivis ini. Saya hanya bisa mengelus dada sambil mendoakan semoga saja para aktivis ini taubat. Kalau tidak cepet-cepet taubat semoga saja nantinya ketika beliau-beliau meninggal, tidak ada kejadian seperti dalam judul Majalah Alkisah, Mengambil pakaian rakyat jelata, Aktivis tidak diterima dikebumikan. Semoga saja tidak.

Kembali lagi ke soal pakaian. Kali ini kepada Pak dosen yang terhormat. Sebenarnya Pak dosen membaca bukunya Om Bertenz atau tidak, yang berjudul Etika. Di awal-awal buku ini sudah dijelaskan, bahwa etika dan etiket itu beda. Lebih penting etika daripada etiket.

Penjelasannya begini, etika itu soal isi sedangkan etiket soal kulit. Jadi, sebenarnya tidak ada pengaruh apapun ketika mahasiswa memakai kaos oblong, celana sobek, baju rapi, celana kain, ketika nanti berada di dunia kerja. Apalagi yang tidak punya pakaian seperti saya. Sah-sah saja memakai pakaian apapun, asal tidak telanjang saja. Jadi, tidak ada kaitannya dengan orientasi mahasiswa pendidikan kedepan nanti menjadi guru harus berpakaian seperti guru sejak jadi mahasiswa. Nah lho!

Sering bingung dengan kampus ini, mengapa lebih dipentingkan pakaian daripada akhlak dan keilmuan ya? Yang etiket diperjuangkan mati-matian yang etika sama sekali tidak diperhatikan. Memperihatinkan sekali. Dimana kemanusiaan dan peradaban berada. Jika masih saja mengurusi hal-hal sepele seperti ini.

Nasib celana sobek. Selalu dipandang sebelah mata oleh aktivis dan Pak dosen, yang lebih rapi dan necis. Padahal seingatku kalau dulu yang begitu-begituan disebut dengan perlente.