BAGIKAN

Saya pernah memiliki satu set konsol game saat masih kecil. Di dalamnya menyimpan banyak pilihan permainan dan salah satu yang menjadi favorit adalah Super Mario Bros. Permainan ini mempunyai misi menyelamatkan seorang putri dengan melewati berbagai rintangan dan mengalahkan seekor monster. Awalnya saya menikmati permainan dengan gerakan maju-mundur-loncat ini. Hubungan kami hanya bertahan satu bulan. Saya mulai bosan dengan ‘kepala jamur’ karena gerakannya monoton lalu membiarkan konsol game itu rusak karena tidak pernah digunakan.

Waktu remaja, saat duduk di bangku SMP-SMA dihadapkan kembali dengan permainan. Banyak teman saya yang rela tidak masuk sekolah hanya untuk bermain playstation di rental-rental 2500-an per satu jam. Padahal sekolah itu sangat penting untuk bangsa dan negara kita. Kalau saya kurang lebih hanya bermain satu jam, itu pun di akhir pekan. Jika dibilang tidak mempunyai skill yang mumpuni, saya pikir tidak juga, karena kemenangan juga sering saya dapat. Saya tidak tahu kenapa masa remaja begitu jauh dengan dunia game. Ya, saya terlalu mudah cepat bosan melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Lain ladang lain belalang. Memasuki bangku kuliah, rasa bosan untuk bermain game itu sirna. Tepatnya  saat komputer jinjing saya rusak muncul desakan dari berbagai pihak untuk bermain game moba. Saya putuskan untuk mengunduh Mobile Legends: Bang Bang atau orang kebanyakan menyebutnya ‘ML’.

Pertama kali bermain saya merasakan sebuah semangat yang telah lama hilang. Semangat itu merasuk lewat nafas, dan menyebar melalui pembulu darah. Semangat yang saya kira telah hilang oleh sistem kerja, telah dikikis oleh uang dan dikekang oleh moral telah menemukan bentuknya kembali lewat permainan virtual.

Entah benar atau salah, nenek moyang kita selalu mengobarkan semangat ini setiap hari. Ketika mereka ingin makan, mereka menyalakan semangat untuk berburu, ketika ada kelompok lain menyerang semangat untuk menaklukkan akan diteriakkan. Semangat berburu dan menaklukkan ini yang saya kira telah hilang. Saat kita ingin makan harus kerja dan mendapatkan uang. Jika ingin menaklukkan lawan kita harus beradu argumen sampai lelah. Tidak ada darah di sana, tidak ada kemenangan yang mutlak, hanya anggapan semu, kita dapat makan dengan uang, kita berhasil mengubah pikiran orang.

‘ML’ memberikan darah dan kemenangan yang mutlak. Pemain bisa memburu monster hutan agar lebih kuat. Kita bisa bebas membunuh orang lain tanpa ada rasa dosa.

Walaupun begitu, sifat dasar saya yang mudah bosan kumat lagi. Saya rasa membunuh manusia lewat media virtual dengan darah yang virtual pula hanya bayangan semu. Saya sebagai pembunuh tidak bisa mendengar nafas terakhir dari korban. Apalah daya, Moonton sebagai pengembang ‘ML’ telah membentuk kelompok penghilang rasa bosan secara militan untuk memerangi kesemuan dunia ini.

Game ini memiliki banyak sekali pemain yang tersebar di pojok-pojok warung kopi. Mereka fokus pada posisi layar gawai yang landscape. Pemain-pemain ini bisa kita undang dalam satu pertempuran yang sama. Tapi bukan pertempuran geng motor atau STMan. Moonton membatasi peserta tempur dengan formasi lima lawan lima. Saat bertempur bersama, saya merasakan nafas pembunuhan yang saya rindukan. Ya, nafas teman sebelah saya berubah lebih cepat saat memburu lawan yang sekarat. Tapi juga berubah helaan nafas menyerah karena puluhan kali mati dan merelakan kemenangan untuk lawannya.

Kebosanan semakin hilang ketika nafas menyerang atau menyerah berubah jadi sentilan-sentilan lucu saat bermain bersama. “Bismillah dulu sebelum ulti,” kata seorang teman saat menggunakan Yi Sun-shin, hero yang bisa menyerang semua musuh sekaligus. Atau “ada kondangan, jalan ditutup” ketika dia sedang menggunakan Grock, satu-satunya hero yang bisa membuat tembok di manapun dia suka. Kalau pun ada orang lain yang merasa terganggu, mungkin karena anda tidak ada dalam satu dunia yang sama dengan kita. Toh dunia hanya sebesar otak manusia yang kecil. Maka dari itu saya merekomendasikan anda untuk turut andil dalam dunia Mobile Legends: Bang Bang.

Jangan takut kehilangan komunikasi ketika kita berada dalam dunia yang sama. Komunikasi akan berjalan dengan lancar seperti yang saya alami saat bertemu teman SMP di salah satu warung kopi. Selayaknya bertemu teman lama, kita akan menanyakan kabar sembari bernostalgia dengan masa lalu. Ketika stok masa lalu habis kami terdiam. Untungnya teman saya itu bermain Mobile Legends:Bang Bang. Obrolan beralih membahas kegunaan hero, build apa yang bagus, meta line agar lebih mudah menang. Sayangnya dia sudah Mytic, tiga peringkat lebih atas dari milik saya: Grandmaster.

Mobile Legends:Bang Bang juga berhasil membuat saya berkenalan dengan orang-orang baru. Saat itu sedang mati lampu di salah satu warung kopi, daya baterai komputer jinjing saya sudah habis, baca buku tidak nyaman karena hujan sangat lebat dan penerangan kurang. Ketika saya bermain ‘ML’, tiba-tiba ada teriakan dari bangku sebelah. “Jancok, ono seng AFK,” -AFK akronim dari Away From Kayboard atau lebih mudahnya pemain yang meninggalkan permainan. Dengan semua itu, Mobile Legends:Bang Bang berhasil menghilangkan kepenatan saya setelah seharian tidak melakukan apa-apa.

Terakhir, ketika tulisan ini dimuat, saya secara tidak langsung akan menjadi salah satu ujung tombak pemasaran game ini. Saya dengan ciamik menuliskan beberapa paragraf tentang indah dan menariknya Mobile Legends:Bang Bang, padahal saya tidak pernah mendapatkan apapun. Sebagai calon sarjana ekonomi saya merasa risih, bukan karena uang atau barang. Tapi karena saya tahu ada sebuah hegemoni yang masif dan terorganisir untuk menggunakan Mobile Legends: Bang Bang. Ini merusak pikiran dan pandangan manusia agar tidak bisa lupa untuk mengonsumsi game. Ada candu. Kita dipaksa ‘menghasrati’ game agar lupa terhadap negara dan bangsa yang sedang tidak baik-baik saja kualitas demokrasinya. Atau dipaksa ‘menghasrati’ permainan ‘ML’ daripada membentuk komunikasi yang haqiqi bersama qeqasi. Maka hari ini juga Mobile Legends:Bang Bang saya hilangkan dari telepon genggam. Tabik!