BAGIKAN

Saya mempunyai karir pendidikan di kampus yang tidak mulus. Sebab lingkungan, aturan tidak sesuai dengan passion dan kadar keimanan. Tidak mempunyai kompetensi dengan aturan yang ketat, misalnya. Telah membentuk jiwa akademis yang barbarian (tokoh pejuang yang brutal dalam permainan Clash of Clans) dengan memangsa apapun yang ada di depan nya.

Hidup bersama barbarian di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang ada di Jember cukup menjenuhkan. Meski ada aturan keilmuan yang ketat tidak menjadikan akademisi kampus –dosen dan mahasiswa pandai dan selektif. Akibatnya, dialog akademis yang terjadi tidak mempunyai dasar yang kuat bahkan ngawur.

Awal Maret lalu terjadi aksi oleh puluhan mahasiswa yang berkelompok. Mereka mengatasnamakan diri sebagai “Aliansi Mahasiswa IAIN Jember”. Anehnya, tidak ada strategi pengawalan dan data kuat yang menjadi dasar aksi mereka. Bahkan nama yang mereka gunakan terlalu beresiko dan tanpa pertimbangan. Ada upaya generalisasi untuk mahasiswa sebagai kunci revolusi di tingkat kampus.

Saya sedikit kecewa dengan aksi massa kelompok itu. Sebagai mahasiswa yang ingin mendokumentasikan rutinitas di kampus, bukan diminta bergabung dalam gerombolan aksi tapi sebaliknya. Saya diminta untuk segera meninggalkan gerombolan aksi saat sudah selesai mengambil beberapa gambar. Betapa eksklusif nya kelompok ini. Mungkin saya dianggap sebagai mahasiswa yang hedon, indon, dan najis masuk dalam gerombolan aksi. Hal ini sangat bertentangan dengan entitas aksi yang mensyaratkan massa dengan jumlah yang besar. Satu kata: Ngeri!

Detektif Conan Edogawa memberikan bocoran dari balik meja melalui dasi kupu-kupu pengubah suara. Gagal paham dalam aksi kelompok itu terletak dari minimnya data dan diskusi untuk menyusun strategi aksi. Ganjil kiranya jika nama yang dipakai “Aliansi Mahasiswa IAIN Jember” tapi tidak melibatkan mahasiswa IAIN Jember secara massal, massif dan terorganisir. Indikasi yang muncul bukan perjuangan mahasiswa, melainkan perjuangan kelompok tertentu. Inilah yang ditakutkan oleh para eyang revolusi. Suara rakjat pecah, kaum intelektual hanya berebut kuasa dengan membentuk tembok tebal yang penuh dengan eksklusifitas. Revolusi terhenti. Sekali lagi, Ngeri!

Gilanya saya terlanjur mengamini bocoran dari detektif Conan. Narsisnya, saya menganggap aksi dari kelompok itu sebagai bentuk lanjutan dari tulisan saya pada 26 Februari 2016 tentang statuta kampus. Sangat tidak kreatif jika dinilai sebagai bentuk eksistensi diri. Jika demi cita-cita revolusi yang dikendaki, aksi ini harus didukung dengan sepenuhnya oleh semua mahasiswa. Warung-warung kopi harus dipenuhi untuk diskusi membahas revolusi kampus. Namun penting dicatat juga. Saya mengutuk aksi pesanan, tidak mempunyai data yang kuat, sekadar bawa tulisan berbentuk banner maupun kertas, megaphone saudara megazord, mengandung SARA dan tidak bercita-cita revolusi. Seperti yang sempat dilakukan oleh Ha-Em-Iy cabang Jakarta Raya dalam menolak acara belokkiri.fest yang rencananya diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk membahas kejahatan 1965.

Mahasiswa yang ingin kritis semakin terpuruk dan tak tahu arah jalan pulang saat mempunyai dosen dengan kompetensi yang rendah. Diskusi searah masih dipraktikan dengan dosen sebagai yang maha tahu. Mitos dosen pembimbing sebagai tuhan masih dilanggengkan meski sudah mempunyai pedoman karya tulis ilmiah. Memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan dari mahasiswa meskipun tidak tahu.

Hal itu juga dilakukan oleh beberapa mahasiswa yang merasa (sok) paling kritis. Padahal sumber dari argumen nya tidak ada. Idealnya, antara mahasiswa dan dosen jangan sok tahu jika tidak tahu. Tuhan menciptakan manusia dengan kepandaian agar selekif. Tidak meniru perilaku barbarian yang serampangan tanpa pertimbangan dasar dan strategi argumentasi yang kuat data. Bukan hanya otot pernapasan yang kuat. Semoga mahasiswa PTAIN di Jember segera mandiri secara data dan tetap berjarak dengan penguasa demi menjaga independensinya. Juga agar detektif Conan tak perlu repot lagi untuk memberikan bocoran karena mahasiswa nya sudah tidak gampang gagal paham.

Menyitir lagu Kesempurnaan Cinta milik Rizky; Bersama dengan mahasiswa, mengajarkanku apa artinya diskusi, ngopi-ngopi, revolusi.