BERBAGI

Dear dik Nurul Aini,
Yang sesungguhnya tidak saya kenal sama sekali.

Saya juga pernah menjadi mahasiswa, tapi syukurnya saya tidak pernah sebercanda tulisanmu untuk mengulas persoalaan kemanusiaan. Apa lagi menyangkut perjuangan, perlawanan buruh dan korban-korban perkosaan.

Apa yang dik Nurul pikirkan, ketika dengan bertele-tele membandingkan kasus YY yang diperkosa 14 manusia laki-laki, dengan penolakan 14 gebetan? Apakah ke-14 gebetan itu juga pelaku kejahatan seksual? Jika iya, saya pikir tidak ada yang perlu digalaukan, apa lagi dikhawatirkan. Paling tidak, adik-adik gemes yang kamu maksudkan itu tidak jadi korban selanjutnya. Coba pikir ulang dik, sama sekali tidak ada hubungannya. Apakah persoalan perkosaan bisa kita kerucutkan sesederhana itu? Apakah sebercanda itu dik?

Lalu, saranmu untuk menyiapkan wajan dengan tebal 15 cm itu, apa pula maksudnya? Kamu mau kasih tahu, betapa memalukannya mengalami penolakan dari 14 gebetan? Dik, kamu lupa kalau perkara jatuh cinta adalah tanggungjawab masing-masing. Orang yang siap akan hal itu, tentu tahu resikonya. Penolakan itu bagian dari cinta. Tidak ada yang lebih memalukan, dari tidak mengungkapkannya. Perkara itu diterima atau tidak, biarlah itu menjadi urusan mereka.

Dik Nurul tidak perlu bersusah hati memikirkannya. Karena langkah paling suci saat mengalami penolakan adalah menerimanya. Iya, menerima diri ditolak. Jadi, tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kasus perkosaan, penganiayaan, dan pembunuhan yang di alami YY. Tidak ada sama sekali dik.

Kasus SM yang kamu tuliskan tanpa inisal itu juga adalah kasus paling menggemparkan dik. Tapi media kita yang asik dengan panggung politik waktu itu, mengabaikannya. Makanya dik Nurul baru tahu. Kamu tahu, istilah PHP itu digunakan untuk urusan apa? dan istilah itu muncul karena apa? Coba kamu cek, koran-koran nasional yang kredibel. Mereka sama sekali tidak akan pernah mau mencoba menggunakan kata PHP untuk merujuk pada persoalan konstitusi, kebijakan, terlebih persoalan kemanusiaan.

Kata PHP untuk merujuk persoalan yang serius, sering digunakan koran lokal untuk menarik minat baca kelas menengah yang butuh berita apa saja dik. Untuk mencapai rating di media online dan peningkatan oplah koran lokal. Dan dik Nurul yang katanya aktivis pers kampus juga menggunakan istilah-istilah guyon itu untuk membandingkan betapa cacatnya hukum di negara kita. Lantas, apa bedanya jurnalis kampus dengan jurnalis amplop di luar sana?

Dik, sepertinya kamu harus banyak baca data, agar kamu tahu, bahwa setiap hari ada 35 korban kekerasan dan perkosaan, semuanya perempuan. Artinya, ada tiga perempuan yang menjadi korban setiap dua jam. Artinya lagi, jika dik Nurul asyik berdiskusi di warung kopi selama empat jam membahas kemanusiaan, negara dan media kita yang sedang kacau ini, ada enam perempuan yang bisa jadi dik nurul kenal menjadi korban. Karena semua orang berpeluang menjadi korban. Semua orang dik.

“nah, kamu di PHP cowok sudah mau bunuh diri?”, tidak ada orang yang dengan entengnya ingin mati, jika ia tidak mengalami hal lebih serius ketimbang yang kamu tuduhkan. Apa kamu pernah dengar, orang mati karena ia sedang bahagia? Tidak ada dik. Bahkan Albert Camus di buku Mati Bahagia tidak mencatat bahwa ia memilih mati karena ia bahagia. Tapi ia memilih mati dengan cara bahagia, atas semua persoalan yang ada di lingkungannya. Semacam jalan paling suci, melewati patah hati dik.

Pilihan untuk mati adalah jalan paling terakhir, setelah semua jalan seolah-olah tidak ada lagi yang terbuka. Setelah semua persoalan yang kita hadapi tidak kita temukan jawabannya. Tidak ada orang yang ingin mati tanpa sebab dik. Apa lagi perkara patah hati. Dik Nurul terlalu banyak baca berita online yang tidak tahu siapa Redaksinya. Lalu lanjut like share, like share. Begitu kah?

Jika, “mana yang lebih menyakitkan melihat pelaku perkosaan bebas dari hukum atau melihat mantan menggandeng orang lain di pelaminan”, adalah pertanyaan. Saya justru ragu, apakah dik Nurul mengerti soal hukum dan mengerti soal patah hati. Keduanya tidak ada kaitan sama sekali dik. Bagaimana mungkin seorang aktivis pers kampus mempertanyakan itu?

Lalu apa pula hubungannya: diputusi setelah keluar modal besar dan tidak dapat restu dari orang tua pacar dengan gerakan buruh yang dilakukan Marsinah? Saya tebak, dik Nurul pasti baru baca berita di Rappler Indonesia dengan judul 5 hal yang perlu kamu ketahui mengenai aktivis buruh Marsinah dan tidak mengkajinya lebih dalam. Sehingga yang terjadi, hanya semacam review tulisan.

Tahu apa dik Nurul soal gerakan buruh? Kemaren 1 Mei kemana aja? Piknik? Apakah sesederhana itu, menyimpulkan perjuangan buruh yang dilakukan Marsinah, sehingga bisa disamakan dengan perjuangan dapetin hati calon mertua? Kamu pikir, aksi menaikkan UMR lokal itu, sama dengan menaikkan standar cari muka ke calon mertua? Lawan Marsinah bukan kekasih dan calon mertuanya dik, lawannya adalah nasib menjadi miskin, kebijakan yang tak dipenuhi dan penindasan terstruktur. Dan itu tidak bisa selesai hanya dengan mengubah gaya dandanan di depan gebetan dik.

Selanjutnya dik, perkara yang lagi-lagi kamu tuduhkan “sudah dijanjikan nikah sama pasangan ternyata ditinggal nikah dengan orang lain?” Apakah kamu pernah merasakannya? Sehingga, kamu begitu entengnya mengajak orang untuk haha hihi setelah gagal nikah. Dengan menambahkan “Tidak perlu merasa dunia kiamat, karena ada janji yang lebih manis dari itu” janji siapa lagi yang kamu tawarkan? Jika saya ada di posisi dedek-dedek gemes yang kamu tuduhkan, tentu saya akan menangis sejadi-jadinya. Karena tidak akan ada orang yang dengan gampangnya bilang “oh, gue gak jadi nikah. Besok cari laki-laki lain deh”.

Apakah pernikahan sudah menjadi lelucon dik? Atau apakah gagal menikah itu persoalan remeh temeh, sehingga dik Nurul bisa menyamakannya dengan penolakan-penolakan yang dik Nurul alami? Yang paling gregetnya lagi, apa hubungannya dengan buku Pram itu dik? Harusnya, setelah membaca itu, kamu tahu apa yang harus dilakukan untuk teman-teman perempuanmu dik. Tidak hanya sekedar “menyedihkan bukan?”.

Bukannya Pram sudah mengingatkannya sebelum kamu selesai membacanya dik, di sampul belakang. Itu yang penting “…Kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu… Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat…” bahkan, setelah bertahun-tahun silam, Pram memohon untuk kita terus setia memperjuangkan kebenaran. Memperjuangkan kemanusiaan. Memperjuangkan keadilan bagi mereka yang lebih dahulu meninggalkan.

Kamu pikir, kenapa Pram tidak bersedia menerima maaf dari semua orang atas apa yang dia alami? Karena ini, bukan perkara maaf memaafkan dik. Bukan perkara ditinggal pasangan cari yang lain, bukan pula soal betapa PHPnya gebetan. Bukan. Ini persoalan kemanusiaan yang rasa sakitnya tidak bisa diterjemahkan dalam puisi apapun. Sehingga, jika dik Nurul mengulas persoalan kemanusiaan sebercanda tulisan dik Nurul, lewat “Wanita-wanita yang Menggugat” saya tentu menjawabnya dengan sinis. Walaupun saya tidak menginginkannya.

Dari judulnya saja, saya pikir dik Nurul tidak mengerti sama sekali soal gerakan perempuan, tapi dengan iseng menggugat. Penggunaan kata wanita dik Nurul terlalu orba dik. Belajar lagi ya. Menjadi aktivis kampus itu, butuh modal besar dik. Tidak sekedar comot-comot isu, biar dikira update. Harus lebih dalam, lebih luas dan tentu harus selapang-lapangnya hati.

Selamat mengerjakan tugas-tugas kuliah dik, jangan lupa sarapan dan bangun pagi. Kapitalis bekerja pada pagi hari. Sehingga, jika kamu bangun kesiangan, persoalan negara ini semakin besar. Lalu, nanti kalian kembali asik berdebat di warung kopi, dan mempertanyakan “kenapa kapitalis semakin merajalela?”. Jangan pula terlalu asyik diskusi, sampai lupa ada 3 perempuan menjadi korban setiap jam jam yang kamu habiskan di warung kopi.

Salam!