BAGIKAN

Kurang nasionalisme apa coba saya, buktinya saya rela menunggu pertandingan Indonesia kontra Thailand sejak 4 jam sebelum kick off dimulai. Saya rela dan tulus sebagai anak muda kekinian menunggu dan berkumpul dengan teman-teman untuk nobar sebagai bagian dari bela negara. Bukan tanpa sebab saya melakukan hal ini, karena memang inilah yang bisa saya berikan sebagai bentuk kecil dari rasa cinta kepada negara. Apa daya saya tidak bisa memberikan dukungan langsung. Tapi tak apalah dan kuharap kalian bisa mengerti.

Dibandingkan rasa tulusku mencintaimu, dan tulusnya pejabat negara yang lekat dengan sematan sebagai abdi negara yang sibuk menghabiskan duit negara, serta tulusnya Abdee Slank kepada bandnya, masih jauh lebih tulus hati saya yang mendukung tim nasional. Setia mana lagi yang kau dustkakan wahai mantan yang meninggalkan saya?

Saya juga sudah membuktikan rasa cinta itu kepada negara. Saya sudah memberikannya dengan tulus. Saya tidak menuntut negara untuk membalas cinta saya. Sayapun juga ikut serta dalam bagian dari bela negara yang digagas Om Ryamizard Ryacidu meskipun tidak diakui secara legal-formal oleh negara, karena saya tidak membutuhkan pengakuan untuk diakui dan  mencatatkan diri sebagai pahlawan yang tidurya siang. Justru yang saya dan kalian butuhkan sekarang ini adalah aksi nyata yang tidak sekadar omong-omong, omong kosong, omong kopong, omong kobong atau omong apalah, toh pada akhirmya kita tidak akan terus-terusan makan janji untuk kenyang. Apalagi janjimu, Dek!

Saya jadi teringat Quotes Kakek John F Kennedy yang pernah mengatakan “Jangan tanya apa yang sudah negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan kepada negara”. Frasa ‘apa yang sudah kamu berikan kepada negara’ bukan melulu tentang hal-hal yang besar, tapi dia juga terwakili dari hal-hal yang kecil yang tidak sulit untuk dilakukan.

Nasionalisme tidak mengkategorikan sesuatu dilakukan adalah besar atau kecil. Bukankah sesuatu yang besar berangkat dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Jangan nunggu jadi presiden baru melakukan hal yang bermanfaat bagi negara. Jangan nunggu ganteng baru menembak cewek. Negara terkadang lebaynya juga minta ampun dech, layaknya seorang cewek dia tidak menuntut kamu harus sempurna, kalau tak percaya silahkan tanya saya. Akan tetapi kalau dipikir ada benarnya juga cewek tidak menuntut sesuatu itu harus sempurna. Logikanya kalau kamu dilahirkan dengan wajah yang tak terlalu ganteng-ganteng amat, dan cewek menunggu sebuah keajaiban dan menantikan kegantenganmu, sampai kiamat pun wajahmu akan seperti itu. Begitu juga halnya negara tidak menunggu kamu menjadi orang besar atau seorang pejabat negara telebih dahulu

Dengan begitu silahkan instropeksi diri terlebih dahulu apa yang kira-kira bisa diberikan kepada negara. Sesuaikan dengan kemampuan saja, dan kebetulan yang saya lakukan hanyalah bagian yang paling kecil dari yang kecil, hanya bisa menonton tim nasional Indonesia yang diserang 7 hari 7 malam oleh tim nasional Thailand, walaupun saya sudah mengadakan gerakan doa bersama 1812, tapi apalah arti doa saya yang penuh dosa dan kalian yang suci wahai Habib Rizieq dkk. Pertandingan yang  meminjam harinya orang pacaran dan wakuncar alias waktu kunjung pacar tersebut semua berakhir dengan ‘kekecewaan’.

Tapi jangan terjebak dengan penilaian saya kepada konsep nasionalisme yang terkesan  terlalu dipaksakan ini. Saya juga tidak bermaksud mereduksi konsep nasionalisme yang luas dengan mencontohkannya kepada hal-hal yang remeh-temeh seperti menonton bola. Atau mungkin hal-hal yang kecil yang dipandang tidak terlalu memberikan sumbangsih kepada negara, apalagi sumbangsih kepadamu duhai perempuanku. Semua ini ku lakukan karena aku trisno karo koe. Walau badai menerjang, tsunami, tsunamo, kiamat, bahkan sampai mati pun saya tetap menjadi bagian darimu.

Maka dari itu berbahagialah wahai rakyat Indonesia, wabilkhusus suporter tim nasional, Anda sekalian mendapat predikat paling nasionalisme dari saya. Apalah arti tim nasional kalau tak ada suporter, apalah arti saya tanpa dirimu. Yeah!!!