BAGIKAN

Hari ini saya berjalan mengelilingi kampus untuk menghibur diri dari ocehan dosen yang hanya bisa membaca slide power point untuk mengajar. Selain itu, semoga bisa membuat saya lupa dengan orang-orang cacat pikir. Saya sudah lelah dengan banyak sekali kecacatan pikir akhir-akhir ini. Tentang Partai Komunis Indonesia (PKI), tentang Hari Anti Tembakau, tentang materialisme dialektis yang diilhami Karl Marx dari Plato dan Aristoteles, tentang HMI yang sampai sekarang masih jadi bahan bullyan, tentang GMNI yang mengutuki komunisme. Oh Tuhan, jauhkan saya dari godaan cacat pikir yang terkutuk.

Tapi setelah capek berkeliling dan melihat dedek-dedek gemes, saya masih tak bisa mengusir pikiran tentang berbagai macam cacat pikir tersebut. Akhirnya saya memutuskan singgah sejenak di UKPKM Tegalboto, sebuah tempat yang melahirkan manusia macam Arman Dhani, Nuran Wibisono dan manusia-manusia sejenis mereka berdua. Saya masuk dan disambut oleh Harian Kompas yang tergeletak di lantai. Saya sambar Harian Kompas itu, kemudian membuka rubrik opini dan binggo, PKI lagi! PKI lagi!

Saya lihat siapa penulisnya, Ternyata Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Purnabakti STF Driyakara. Saya pun bersemangat membacanya. Franz Magnis menulis opini di dengan judul ‘50 Tahun TAP MPRS No 25/1966’ (Kompas, Rabu 1 Juni 2016). Yah, isinya tak jauh dari isu-isu komunisme yang sedang nge-trend sekarang.

Membaca opini tersebut membuat saya ingat pada Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) TNI, Kivlan Zen. Kivlan sangat dekat dengan isu komunisme, bahkan beliau sekarang sedang menjadi pembicaraan khalayak sosmedsentris karena berbagai statemennya tentang PKI. Jarang-jarang lho ada mayor jendral jadi artis media sosial, Agnes Monica mah kalah.

Jadi begini, berbagai pemberitaan di media menulis tentang kecurigaan Kivlan terhadap munculnya gerakan PKI yang dipimpin oleh Wahyu Setiaji dengan jumlah pengikut sekitar 15 juta orang, sampai tindakan makar pada negara yang bakalan dilakukan oleh PKI. Saya membaca banyak sekali berita dengan nama Kivlan Zen sebagai judulnya. Begitu membosankan. Setiap membuka laman facebook, pasti yang muncul berita dengan judul yang mencantumkan nama Kivlan Zen terus.

Selain Kivlan, saya juga teringat pada film besutan Joko Anwar yang berjudul Modus Anomali. Apa hubungannya Joko Anwar dan Kivlan Zen? Tidak ada. Yang saya bicarakan bukan Joko Anwar, tapi Filmnya. Sekali lagi filmnya; Modus Anomali. Sebuah film yang menceritakan tentang seorang psikopat yang menjadikan pembunuhan berencana sebuah keluarga sebagai sebuah permainan.

Rio Dewanto memerankan John Evans, tokoh utama dalam film itu. John Evans, seorang psikopat merencanakan pembunuhan terhadap sebuah keluarga yang sedang berlibur di sebuah pondokan di dalam hutan. John meloloskan dua orang anak dan membunuh kedua orang tua mereka. Tapi itu hanya permulaan, John sedang melakukan sebuah permainan. Dengan bekal obat tidur yang dicampur dengan obat penghilang ingatan, John merubah perannya dari seorang pembunuh menjadi korban.

John menyuntikkan obat tidur dan obat penghilang ingatan itu pada dirinya dan saat terbangun dia menempatkan dirinya sebagai sang ayah yang sebelumnya sudah dia bunuh. Caranya dengan menyimpan foto keluarga korbannya yang bagian foto ayahnya sudah disobek dan hanya menyisakan foto ibu dan dua orang anak.

Dengan ingatan bahwa dia adalah seorang ayah dari keluarga korbannya, John mencoba untuk mencari istri dan kedua anaknya. Tapi dia menemukan sang istri telah meninggal di pondokan. John pun merasa bahwa nyawanya juga sedang terancam oleh seorang pembunuh yang sudah membunuh istrinya, yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.

Sebuah permainan peran yang ciamik dilakukan oleh John Evans. Lalu apa hubungannya dengan Kivlan Zen? Apakah Kivlan adalah salah satu dari dua orang anak yang dibiarkan lolos oleh John Evans? Tentu bukan. Oke, ijinkan saya memakai ilmu the power of nepak-nepakno…

Mari kita awali dengan pertanyaan. Sejak kapan sih berita tentang Kivlan Zen muncul? Saya mencatat, Merdeka.com sembilan bulan yang lalu menurunkan berita yang memuat nama Kivlan Zen sebagai judulnya; “Kivlan Zen tantang berantem peserta diskusi ngaku keluarga PKI”. Mulai dari situ nama Kivlan kembali naik daun sebagai artis pemberitaan media yang sedang mengawal isu kebangkitan PKI.

Berbagai pernyataan Kivlan menjadi berita dan bodohnya pernyataan tersebut sebenarnya nggak penting-penting amat sih. Masa cuma karena Kivlan duduk satu meja bersama junjungan umat, Habib Rizieq aja jadi berita. Yah, memang begitu mental media di Indonesia sekarang, sukanya cari hal kecil yang bisa dibesar-besarkan. Sedangkan yang besar kayak punya Pamela Safitri nggak jadi perhatian.

Kivlan semakin naik daun, setelah pernyataannya tentang terbentuknya struktur PKI dan mereka siap untuk melakukan tindakan makar terhadap negara naik menjadi berita. Selain itu Kivlan juga mengungkapkan bahwa dia dan pasukannya siap berperang melawan PKI. Perang demi apa? Tentunya demi NKRI Harga Mati!

Demi Pancasila dan NKRI Harga Mati? Benarkah? Tunggu sebentar, pelan-pelan aja dong. Situ nggak sabaran banget sih, udah kayak para jendral yang sedang dikejar-kejar dosa masa lalu aja. Sabar dikit, Cinta aja masih mau nunggu Rangga selama ratusan purnama.

Kivlan Zen adalah seseorang yang benar-benar mencintai pancasila seutuhnya sebagai lambang negara. Tentunya untuk mempertahankan apa yang dicintainya, Kivlan akan melakukan berbagai cara. Ibarat cinta ditolak dukun bertindak. Kivlan pun melangkah lebih tangkas dibandingkan siapapun. Bayangkan, tak ada seorang pun yang tahu tentang kebangkitan PKI dan tetek bengek di belakangnya, tapi Kivlan sudah tahu sampai ke akar-akarnya. Mulai dari siapa pemimpinnya, berapa jumlah massanya, sampai pendanaan dan gerakannya. Itu adalah informasi yang tidak diketahui orang lain kecuali Kivlan. Sungguh ruaaaarrrr biasa!

Seperti John Evans yang sedang memainkan sebuah peran sebagai korban yang nyawanya sedang terancam oleh seorang pembunuh, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Menempatkan diri sebagai orang yang membela negara dari rongrongan tindakan makar PKI adalah hal yang wajar. Padahal yang merencanakan dan membuat isu tentang kemunculan PKI, Wahyu Setiaji, sampai massa yang berjumlah 15 juta itu adalah orang yang sama. Nah disini, saya kira Kivlan adalah orang yang sudah menonton film Modus Anomali berkali-kali.

Ini hanya tentang permainan peran kok. John Evans adalah seorang psikopat yang mendapatkan kepuasan dengan membunuh dan membuatnya sebagai sebuah permainan yang misterius. Tapi Bapak Kivlan bukan seorang psikopat kok, saya benar-benar yakin beliau bukan seorang Psikopat. Lha wong dia masih bisa menjadi pembicara di berbagai diskusi dan simposium anti PKI kok. Selain itu, psikopat kok bisa salah menebak bom yang meluluhlantakkan Legian itu buatan Amerika. Padahal bom itu buatan seseorang yang rumahnya berjarak beberapa desa dari rumah saya di Lamongan.

Selain itu saya benar-benar haqqul yakin, kalau bapak Kivlan Zen bukan psikopat. Karena tidak mungkin seorang psikopat menginginkan dana perang untuk membela negara dari gerakan makar yang tidak benar-benar ada.