BAGIKAN

Setelah lebih dari satu tahun bergabung dengan pers mahasiswa, pada suatu malam, saya mendengar kabar bahwa majalah Lentera, majalah milik lembaga pers mahasiswa Lentera, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dibredel oleh tentara dan birokrat kampus. Majalahnya dibredel karena memuat laporan seputar pembantaian anggota Partai Komunis Indonesia di Salatiga. Urusan komunis-komunisan ini memang selalu menyita perhatian, baik itu dari saya sendiri maupun publik. Nenek saya pada suatu siang saat saya masih duduk di bangku SMA pernah berujar bahwa ada seseorang yang ia kenal yang pernah melarikan diri ke Gunung Muria, gunung dengan tinggi 1601 mdpl yang terletak di kabupaten Kudus, karena terlibat dengan PKI-PKIan ini. Saya masih ingat betul bagaimana nenek saya melarang dengan nada agak tinggi, agar saya tak pernah membicarakan hal itu lagi, juga agar saya tak cerita kepada siapapun. Maklum, saat itu saya memang sedang gemar menulis status di facebook. Sehari setelah mendengar kabar pembredelan, saya bergabung dengan rombongan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota (DK) Semarang, menuju ke UKSW, Salatiga. Butuh waktu sekitar 45 menit dari Semarang untuk tiba di sana. Sore itu, selepas Maghrib, adalah kali pertama saya mulai mengenal kawan-kawan aktivis dalam skala yang lebih luas.

Saya menulis ini tak lebih dari sekedar romantisme belaka. Hampir dua bulan saya tak mengerjakan apapun di rumah, selain menulis surat lamaran, membuka laman jobstreet, dan mengikuti job fair ke sana ke mari. Semuanya dilakukan berulang-ulang dengan harapan segera mendapat pekerjaan tapi toh ternyata mencari pekerjaan tak semudah menebar sepik ke kakak senior.  Alhasil pikiran saya sering nganggur. Demi mencegah terserang pikun lebih dini, maka saya mulai menggali kenangan. Kecuali kenangan tentangnya L

Sebelumnya, barangkali ada baiknya jika dibuat kesepakatan bahwa yang disebut aktivis pada tulisan ini adalah mereka yang aktif bergiat baik itu di dalam dan di luar kampus, melalui tulisan maupun sejumlah kegiatan. Juga mereka yang berpihak pada kaum marginal atau terpinggirkan, orang-orang yang kalah. Mengapa perlu ada kesepakatan? Karena biasanya mereka selalu beralasan setiap kali disebut sebagai aktivis.

“Masnya aktivis yah?”

“Ah, endak mbak. Cuma nganu…”

Kadang-kadang juga hanya dijawab dengan derai tawa. Itu ciri khas pertama.

Berkawan dengan aktivis adalah perihal kekuatan menahan bau. Makin kuat menahan bau, makin akrab persahabatan. Meskipun hal ini sebenarnya tidak berlaku bagi mbak-mbak aktivis. Sepertinya sudah sering dibahas bahkan mungkin sudah jadi semacam stereotype bahwa aktivis kerap diidentikkan dengan rambut gondrong (jika pria), celana sobek-sobek, dan bau. Karena jarang mandi, jarang ganti baju, jarang ganti kaos kaki. Huhuhu. Tapi beruntungnya, ada juga dari mereka yang pacarnya banyak. Wkwkwk.

Seiring makin akrabnya pertemanan, bau-bauan ini biasanya bukan lagi hal yang mengganggu. Terutama karena setiap kali ngobrol, entah di warung kopi atau di sekretariat, atau di kosan, di burjo (yang ini favoritnya kakak adlun) atau dimana pun tempatnya,  teman-teman aktivis punya banyak wacana yang bisa dijadikan bahan diskusi. Jadi, alih-alih terganggu dengan bau, yang terjadi justru  tiga kemungkinan ini:

  1. Fokus menyimak

Saking asyiknya menyimak, cuek saja kalau ada bau. Kecuali baunya keterlaluan. Hih gemas.

  1. Terdesak

Biasanya ini terjadi kalau ada pendapat yang terlontar gak masuk akal atau sulit diterima. Kalau sudah begini, yang terdesak biasanya makin gencar menyerang atau malah bertahan alias diam cengar-cengir hehehe. Pada suatu kelas, Muhidin M. Dahlan, esais yang juga tukang arsip itu pernah berpesan, “Adu argumen saja terus. Tantang orang-orang supaya namamu makin dikenal dan jadi rajin baca buku,” ya kira-kira gitu, seingat saya.  Betul juga. Kalau sering terlibat dalam diskusi dan sering terdesak, usaha untuk melawan hanya dengan banyak-banyak baca buku. Dan diskusi sepertinya sudah jadi kegemaran teman-teman aktivis. Kalau sudah terdesak begini, lha kok bau, ada mantan lewat saja, ya tetap melirik sih hehehe.

  1. Jatuh cinta

Kalau untuk ini, biasanya yang disimak sudah bukan lagi wacananya tapi orangnya. Setiap kali terlibat diskusi, perut melintir semacam ada kupu-kupu yang terbang di sekitar lambung dan terus meliuk ke usus.  Bau-bauan pun terutama bau badan bukan lagi masalah. Tai saja bisa jadi rasa coklat. Apalagi hanya bau?

 

Teman-teman aktivis kebanyakan adalah pendengar yang baik. Mereka lebih banyak diam menyimak sebelum akhirnya mengeluarkan pendapat. Tapi, mereka juga sekaligus pecinta yang buruk.

Sering saya mendapati kisah asmara mereka yang kandas sebagai akibat dari aktivismenya. Penyebabnya macam-macam, mulai dari perhatian yang terbagi dengan banyaknya agenda kegiatan, terlibat perselingkuhan karena cinta lokasi, atau terhalang restu orangtua.  Yang terakhir ini, Soe Hok Gie sudah pernah memberi contoh. “Orang-orang ini senang kepada saya karena saya berani, jujur, dan berkepribadian. Tapi ketika saya ingin masuk, mereka menolak,” tulis Gie pada jurnal hariannya. ‘Soe baik tapi tdak untuk keluarga kita’ tambahnya. Barangkali ini sudah jadi resiko atas jalan yang diambil teman-teman aktivis.

Berkawan dengan aktivis sepintas terasa sama saja seperti berkawan dengan teman-teman yang lain. Hanya saja kadang mereka sering merupa seperti hantu. Menghantui alam pikiran saat hidup sehari-hari sudah mendekati kenyamanan. Banyak dari mereka yang keluar masuk hutan demi pendidikan anak-anak di pedalaman, atau mereka yang menyisihkan uang sakunya bahkan ada juga yang mencari uang tambahan hanya ntuk menutup biaya berkegiatan, terancam hukuman penjara karena menyuarakan kecurangan, bermusuhan dengan dosen karena mempertahankan sikap/pendapat, atau yang paling sering: terkena ultimatum orangtua karena tak kunjung lulus.

Setidaknya berkawan dengan mereka jadi sebentuk medium untuk mengingatkan. Bahwa apa yang saya lakukan sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding usaha mereka. Menyelesaikan kuliah tepat waktu jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan misalnya, berhadapan dengan hukuman penjara karena menyuarakan ketidakadilan.

Jadi, mulai nanti malam atau lusa misalkan berjumpa dengan mas-mas berambut gondrong atau mbak-mbak dengan celana sobek-sobek sedang melamun di warung kopi ada baiknya ditegur, kasih senyum paling manis. Siapa tahu dia aktivis dan kalian bisa berteman. Asal jangan sampai jatuh cinta saja. Tahu sendiri resikonya.