BAGIKAN

Piu adalah seorang calon penulis besar, bakat sastranya bukan main. Tak usah ditanyakan. Pokoknya hebat dia. Nama besar seperti Neruda, Orwell, Hermingway, Mark Twain, hingga yang sepurba Shakespeare seharusnya lewat. Begitupun dengan Ciu, seharusnya ia jadi pelukis besar melampaui Picasso maupun Da Vinci. Sekarang mereka adalah mahasiswa jurusan psikologi semester sekian, di salah satu Universitas di Makassar. Keduanya sempat tetap menjalani bakatnya di sela kesibukan kuliah, meski perkembangannya sangat lamban dan jauh dari harapan. Sampai kemudian keduanya memilih menyerah karena tak mampu membagi waktu antara bakat dan kewajiban studi.

Ada waktu di mana Piu dan Ciu menyesali pilihannya karena memilih studi yang tidak benar-benar diminatinya. Piu seharusnya kuliah sastra, dan Ciu seharusnya kuliah seni. Mereka terpaksa memilih kuliah Psikologi, karena pilihan mereka untuk kuliah sastra dan seni ditentang orang tua. Alasan orang tua mereka menentang pilihan kuliah seni dan sastra hanya dikemas dalam 3 kata sederhana, “mauko jadi apa …..”

Perlu diketahui, istilah “mauko jadi apa…..” pada kasus Piu dan Ciu, dalam tradisi masyarakat yang kami tempati punya tafsir seperti ini: kuliah di bidang seni dan sastra bisa kerja apa? Gajinya berapa? Dihormati atau tidak? Kemudian yang kedua: percayalah nak, kuliah seni dan sastra tidak akan membuatmu punya gaji banyak, dihormati, punya istri cantik, dan anak-anak unyu. Pada bagian ini, kalimat “mauko jadi apa…..” akan berakhir dengan tanda seru.

Yang lucu, hal tersebut tidak hanya terjadi pada Piu dan Ciu. Nyaris separuh lulusan SMA yang memilih kuliah, harus mengambil jurusan pilihan orang tua. Bukan jurusan yang benar-benar diinginkannya. Hal lucu lainnya, adalah kesalahan berpikir masyarakat kita yang menganggap kampus sebagai tiket masuk belaka menuju dunia kerja. Bukan ruang belajar untuk mengasah nalar, dan mengembangkan berbagai keahlian. Sehingga hasil akhir yang diharapkan dari setiap angkatan kelulusan, bukanlah sekumpulan anak-anak jenius yang berempati. Melainkan sekumpulan orang dewasa tanggung yang siap mengerjakan apa saja asal bayarannya cukup tinggi.

Dengan melangkahi satu tahapan berpikir mengenai konsep kampus yang seharusnya. Maka tak perlu heran jika produk yang dihasilkan kampus secara dominan justru: guru dan dosen yang mengajar secara impoten, pejabat yang korupsi, ilmuwan yang menghamba bukan pada kemajuan pengetahuan, pengusaha egois yang malas sedekah dan senang merampas milik orang lain, dan seterusnya.

Tahapan berpikir mengenai konsepsi luhur kampus, seharusnya mencerdaskan dan melahirkan manusia. Bukan menciptakan setengah manusia dengan perspektif baik-buruk dan rasa keadilan yang serba bias. Tapi Piu dan Ciu tak peduli soal ini, setidaknya di masa awal perkuliahan. Bagi Piu dan Ciu waktu itu, konsep kampus tidak perlu melulu soal menjadi manusia utuh atau lulus dan bekerja. Tapi menjalani realitas imajiner yang menawarkan kepuasan bagi setiap obsesi impulsif, seperti dalam tiap sinetron dan drama FTV yang menceritakan tentang kampus. Maksudnya begini, bagi Piu dan Ciu kampus adalah semacam ruang banal yang akan memberimu kehidupan seksual romantis bersama para mantan, dan kesenangan nongkrong di tempat-tempat mahal, dan seterusnya.

Baru beberapa tahun setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, Piu dan Ciu mulai mencoba sesuatu selain membaca buku ajar mata kuliah dan bersenang-senang. Mereka berdua sama-sama mengkhatamkan Who Rules the World dan How the World Works yang ditulis Noam Chomsky. Kemudian bacaan mereka mulai berlanjut ke buku-buku lain. Mereka bahkan mulai mengajakku berdiskusi soal Marxisma dan Kuminisma. Mereka bahkan mengoreksi kekeliruanku mengenai anarkesma. Mereka sangat rajin mengomentari situasi ekonomi dan politik, memaki para perusak lingkungan, dan mengutuk perampasan tanah.

Entah apa yang merasuki mereka sehingga mulai membaca buku-buku aneh itu. Mulanya aku menduga mereka hanya tertarik pada konspirasi yang tercium dari buku-buku itu sejak dari judul. Sebab waktu kuliah, aku tahu mereka adalah aktivis pseudosayens dari lingkaran Flat Earth yang mengutuk-ngutuk Hukum Newton.

Nanti beberapa lama sejak kesadaran mereka mulai bergeser secara radikal. Aku mendengar mereka mengungkap penyesalan, soal betapa terlambat mereka menyadari hal-hal penting yang lebih dekat dengan hidupnya, ketimbang memusingkan bumi itu datar atau tidak, atau ada dan tiadanya Tuhan.

Aku dengar mereka menyalahkan kampus atas semua kebodohan mereka di masa lalu; kampus yang mengurung mereka dari kenyataan sebenarnya, kampus yang menghabiskan uang orang tua mereka, kampus yang mematikan nalar, model pendidikan kampus yang katanya mirip sistem bank, dan seterusnya.

Konon mereka habis membaca buku yang ditulis oleh seseorang bernama Paulo Freire, judulnya kalau tidak salah “Pedagogy of the Opressed” dan menurut mereka buku itu sangat bagus untuk merancang konstruksi ideal model pendidikan.

Tapi aku sedang malas menanggapi omongan mereka, aku masih depresi sebab mata kuliah statistik lanjut yang kuambil untuk ke-sekian kali hanya mendapat nilai tanggung. Berarti harus aku ulang di tahun berikutnya. Jadi aku tidak berkomentar sama sekali saat mereka mulai berbicara mengenai upah murah, dan kampus yang sering kali terlibat menjerumuskan kita ke sana.

Tapi mereka terus berbicara, sehingga aku pikir harus mulai mengambil sikap. Jadi kuhisap saja rokokku dengan meniru gaya Chairil Anwar, kemudian aku hembus asapnya ke wajah mereka, lantas kubilang “mampus kau dikoyak-koyak kampus” kemudian mereka bungkam seperti para mayat di Karawang-Bekasi.