BAGIKAN

Sebelum saya bicara inti permasalahan akhir-akhir ini, utamanya pasca kasus kaburnya gerombolan preman plat ijo setelah menghabiskan isi warung sak dandang-dandangnya. Kawan-kawan perlu catat dan camken ialah jangan biasakan gebyah uyah, organisasi plat ijo itu memang ngangon bigot yang alergi komunis tapi toh organisasi plat ijo itu juga yang melahirkan tokoh-tokoh intelektuil kelas wahid macam Nurcholis Majid yang konon katanya setara Gus Dur itu. Lalu Selebtwit yang hari ini paling ditunggu tulisan-tulisan tentang kemanusiaan dan keperempuanannya juga jebolan LK (bukan Lawak Klub lho, tapi Latian Kader) kok. Siapa lagi kalo bukan kang Arman Dhani, perkara Mas Dhani aktif atau kurang aktif di HaeMIh itu perkara lain. Opo masih kurang jeneng-jeneng pendekar jebulan plat ijo? kenal Akhmad Sahal? Pria kecil kandidat PhD dari Universitas Pennsylvania yang kerjaannya nyocot dari Freedom Institute yang katanya kandang Neolib, sampai kantor Nahdatul Ulama di daerah-daerah, dia itu juga alumni plat ijo, Rek. Come one, mari adil sejenak!

Hari ini aktipis organisasi ektra plat-platan sedang dikeroyok dari beberapa penjuru mata angin. Jenderal perang yang dibawa gerombolan ini juga tidak tanggung-tanggung. Sekian pendekar dengan nama besar dan jumlah pengikut yang tumpeh-tumpeh memimpin serangan pada aktipis plat-platan. Ada Kang Windu Jusuf dan Cak Andre Barahamin dari kubu kiri mentok di Indoprogress.com. Ada juga Om Puthut EA kepala suku Mojok.co, sebuah situs web yang seandainya dijadikan parpol bisa mengantarkannya duduk manis di kursi DKI I. Tentunya jika mampu lolos dari kedegilan militansi Teman Ahok yang memuja tanpa reserve itu. Selain itu ada juga dari kubu Siksakampus.com, yang akhir-akhir ini menayangkan artikel tentang aktipis mahasiswa plat-platan.

Kampus dengan segala ketandusan keilmuan dan kemanisan mahasiswi berhijab modisnya ini, ternyata masih memiliki secercah cahaya harapan. Detak jantung intelektual yang diramalkan akan mati itu kini perlahan mulai kembali terdengar. Aktipis plat-platan yang bisanya cuma molitisir kampus ini seharusnya matur sembah nuwun ke konco-konco Mojok, Indoprogress dan aktipis pers mahasiswa (persma) yang progresif serta cerdik cendekia menulis di Siksakampus karena sudah menggelitik ketikak para aktipis plat-platan. Tapi apakah aktipis plat-platan akan tetap diam ketika digelitiki ketiaknya? Baiklah, cekidot dan jangan lupa siapkan kopi serta camilan sebagai teman.

Kita seakan bersepakat bahwa standar aktipis ideal idaman dedek atau mbak mahasiswi berhijab modis adalah aktipis yang steril dari kuasa politik macam apapun. Mari sebut satu contohnya, katakanlah Soe Hok Gie. Apakah Gie steril dari posisi politik? Oh tunggu dulu! Gie merupakan corong propaganda garis depan Gerakan Mahasiswa Sosialis, organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi kepada Partai Sosialis Indonesia. Gie juga menjadi sosok tulang punggung penguatan basis isu di Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yang menurut Kang Windu Jusuf merupakan komplotan mahasiwa kontra-revolusioner target bancakan angkatan darat untuk mengkooptasi kekuatan NASAKOM. Apakah jika kemudian kawan-kawan Gie di KAMI menjilat pantat Orde Baru, untuk masuk di DPR lantas mahasisiwa aktipis apolitis akan gebyah uyah, KAMI jancuk, KAMI ng-anu, KAMI ng-asu? Padahal di dalamnya juga ada mahasiwa aktipis ideal yang ora urus urusan politik praksis. Gie di KAMI atau Ahmad Wahib di HaeMIh salah duanya.

Sedikitnya ada dua sampai empat tuduhan serius yang diarahkan ke ulu hati aktipis plat-platan oleh tulisan Kanda Immanuel Yudhistira yang seorang persma. Berikut ini potongan tulisan Kanda Yudis, “Kekaguman saya kepada para aktivis tiba-tiba sirna dan lenyap. Hari ini, saya melihat perjuangan aktivis hanya sebatas pencarian panggung eksistensi diri. Dengan lantang mengeluarkan kata-kata membela kaum tertindas. Kemudian lenyap dengan nasi bungkus dan amplop impian. Warbyasa! Terlebih lagi, berbicara panjang lebar tentang anti kapitalisme yang merugikan buruh dan rakjat kecil di warung kopi. Tapi malah lebih memilih KFC dibanding warung kopi pinggiran. Ngopi pun tak mau ditempat sederhana yang tak bisa dibuat selfie-selfie. Takut dengan kebersihan air kopi seharga Rp. 2500 dan memilih kopi di café kekinian dengan harga Rp. 25000. Lantas, kemana omongan tentang anti kapitalisme tadi?”

Bukan main tuduhan yang dilayangkan oleh Kanda Yudis ini. Pertama tentang nasi bungkus dan amplop impian, memangnya sampean pernah lihat aktipis plat-platan yang babak belur setelah demo karena digasak sama om-om pulisi dikasih nasi bungkus terus dimakan bareng-bareng di depan Kantor Dewan atau Kantor Pemerintah Kabupaten? Nasi bungkus dari Hongkong! Paling banter cuma dapet satu kardus air minum kemasan, itupun kadang tidak cukup lho Kanda Yudis. Terus masalah amplop impian yang sampean maksudkan di sini amplop apaan ceh? Saya yang sudah 4 tahun lebih bergelut di dunia aktipis plat-platan berani bersumpah kalo saya belum pernah merasakan uang panas-haram-jaddah model begituan, tak sudi diriku menerimanya, Kanda.

Berikutnya urusan pilihan warung kopi yang menurut Kanda Yudis kurang merakyat. Lho terus urusan kita dengan pilihan warung kopi kuwi opo? Apa mau gebyah uyah lagi kalo semua aktipis plat-platan tempat ngopinya di tempat-tempat yang menjadi simbol kuasa kapital? Lhawong setiap harinya saya dengan teman-teman masih banyak menemuken kakak dan adek aktipis plat-platan yang ngopinya di warung-warung pinggiran. Nah, karena saya kuliah di Jember, begitupun Kanda Yudis, maka saya sebutkan tempat-tempatnya. Saya sering melihat aktipis plat-platan di Mak Mai depan Prosalina, Buk Yon Jl. Karimata, Sampai di Warung Buleck tepat nongkrong Kanda Yudis bersama kawan-kawan. Ini masalah wong per wong, saya juga percaya bahwa tidak semua awak persma ngopinya di Warung Buleck toh?

Terakhir Kanda Yudis juga meminjam Paulo Freire tentang intelektual organik. Apa kanda mau menyamakan kerja intelektual organik yang kongkrit turun ke bawah, dengan intelektual salon yang kerjanya tidur di sekret sembari bersajak tentang perut lapar petani, mahalnya pendidikan bagi anak kurang mampu atau dirampasnya tanah rakyat oleh korporasi. Tetapi di sisi lain menyibukkan diri dengan nyinyir terhadap gerakan mahasiswa yang juga memekikkan permasalahan tersebut.

Saya sudah memenuhi perintah Kanda Yudis untuk ngaca, alangkah bijaknya kalau saya menjawab perintah itu dengan ajakan: Ayok ngaca bareng, kanda! Oiya, buat Cak Dieqy Hasbi Widhana, tulisan ini gak minta dibuatin alumni yang ada di DPR loh!