BAGIKAN

Putuskan lah hari kelulusan kalian wahai para mahasiswa tingkat akhir, sebelum menderita pesakitan. Bertemu dosen yang tak kalian harapkan, bertemu Kaprodi yang setiap hari mengingatkan kalian untuk cepat lulus. Apalagi bertemu dedek-dedek unyu yang membuat kita menunda kembali kelulusan. Astagfirullah.

Lain ladang lain ikannya. Wisuda adalah kata gelap bagi sebagian mahasiswa yang mendaku dirinya sebagai ‘aktivis mahasiswa’. Atas nama keadilan dan kebenaran para aktivis mahasiswa menganggap wisuda sebagai penghambat laju perjuangan bagi kaum tertindas.

Tidak heran setiap kali ada perayaan wisuda, ‘aktivis mahasiswa’ ini melakukan dua hal: Pertama, tidak menghadiri wisuda teman-temannya. Mereka cukup memantau sosmed untuk melihat postingan proses wisuda sembari mengucapkan kata umpatan yang mereka hapal. Kedua, menghadiri wisuda teman untuk bersolidaritas. Berfoto bersama kawan meski dalam lubuk hatinya nelangsa melihatnya wisuda lebih dulu. Akhirnya memutuskan pulang lebih awal dengan berbagai alasan. Lagi-lagi umpatan adalah obat penenang sementara.

Fenomena ini layak dibedah sebagai sebuah pengetahuan. Apakah wisuda adalah sebuah permintaan, kebutuhan atau keinginan pada diri mahasiswa? Artikel ini untuk menanggapi tulisan Sadam yang bercerita panjang lebar tentang diri dan orang sekelilingnya dengan judul Wisuda Adalah Kesunyian Masing-Masing. Walaupun agak berat membahasanya karena saya sendiri belum wisuda. Tapi berbagi gagasan itu adalah ibadah yang tak ternilai harganya melebihi karangan bunga dan boneka wisuda. Wajib kiranya kalian harus selalu berbagi apapun yang kalian punya. Termasuk berbagi pacar kalian jika berkenan membaginya. Ops kok jadi ngelantur, fokus dulu lah.

Menurut Phil Hill, penulis buku Lacan untuk Pemula, kebutuhan itu adalah sesuatu yang dapat dipuaskan sepenuhnya. Ini berarti mahasiswa yang berpandangan bahwa wisuda itu adalah sebuah kebutuhan, maka ia akan mendapatkan kepuasaan sesaat selama 3 jam proses wisuda. Sedangkan kebutuhan aktivis kampus adalah berjuang untuk rakyat, membela kaum tertindas. Itulah yang dirasakan Sadam selama menjalani hidup di Fakultas Sastra, Universitas Jember.

Perihal butuh wisuda atau tidak, Sadam mengungkapkan, “kebahagian itu saya simpan rapat-rapat karena kadang kebanggan bisa menjadi bomerang”. Ini sebuah kekonyolan yang dibuatnya. Satu sisi ia butuh wisuda dan bahagia tapi ia simpan rapat-rapat. Memang benar Sadam itu hidup untuk dirinya sendiri. Hingga melampiaskan nafsunya di kamar mandi.

Jika tahap kebutuhan sudah selesai, selanjutnya akan masuk ke tahap permintaan yang kemudian bertemu pada titik keinginan. Menjelaskan permintaan lebih sukar daripada kebutuhan. Ketika permintaan ini tidak tercapai bisa-bisa dunia dan seisinya hancur. Saat itu pula kita tidak akan merasakan mati rasa. Umumnya permintaan wisuda itu dari orang tua atau Kaprodi dan bukan dari pacar ataupun mantan.

Namun permintaan dari orang tualah yang paling dominan dan bersifat otoriter. Maka ketika orang tua sudah meminta kepada anaknya agar menyegerakan wisuda. Saat itu juga sang anak harus patuh pada permintaan orang tua. Inilah yang sedikit memberatkan mahasiswa yang sibuk melawan tirani kuasa yang sulit ditembus. Seperti yang dialami Sadam dan teman-teman nya, yang memilih menunda kelulusan dalam menjalankan hidupnya akibat efek dari kesulitan menerima permintaan orang tua mereka.

Tidak salah jika Sadam melampiaskan pikiranya dalam bentuk tulisan. Saya pikir itu adalah kedok untuk membela dirinya dari serangan balik rekan kuliah dan keluarganya yang bertubi-tubi. Sadam tidak punya pertahanan kuat untuk membela apa yang menjadi idealismenya. Karena sudah tertekan dia berusaha mengeluarkan maklumat yang berisi gambaran kondisi dirinya. Ingat kawan, bagian ini adalah pembelaanya karena belum mampu berperang ke lembah wisudah.

Akhirnya Son Goku menawarkan awan kintonya kepada Sadam agar bisa pergi sejauh mungkin dari euforia wisuda. Mengurung dirinya berhari-hari di dalam kamar hanya untuk tidak melihat kenyataan bahwa teman nya telah wisuda. Akibat proses permintaan itulah Sadam mengalami represi yang berakibat pada gejala-gejala yang lain, seperti tidak mau pulang sebelum wisuda, rela tidak menerima uang jajan hanya karena ingin membuktikan jika ia bisa wisuda tanpa diberikan uang dari keluarga, atau bahkan memilih kerja agar hidupnya bahagia.

“Wahai kawan-kawanku yang sudah mendapat gelar sarjana, perjuangan akan lebih berat, kekejaman negara adalah pintu pertama yang harus dilewati”. Saya menduga dalam pikiran Sadam hanya ada satu, pengen cepat wisuda. Belum bisa karena ada persoalan dalam satuan elektron-elektron yang saat menjadi satu dapat membuat letupan quantum yang besar pada dirinya. Itu saja. Gak lebih kok, hanya itu. Mungkin setelah ia dinyatakan lulus dan diwisuda, akan berbeda cara pikirnya.

Pertanyaan selanjutnya, apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Sadam? “Percayalah bahwa kebahagian kalian saat wisuda tak pernah sia-sia. Dan satu lagi, percayalah bahwa saya akan menyusul sebagai seorang wisudawan dan menjadi masyarakat seutuhnya”. Model bertutur seperti rohaniawan, ustadz dan motivator. Bisa kita lihat bagaimana akhirnya keinginan Sadam sebenarnya adalah ‘wisuda’. Walaupun nasib bercerita lain.

Asumsi saya atas pola pikir Sadam untuk wisuda merupakan hasil hegemoni oleh perilaku kawannya yang telah wisuda. Ia tidak bebas dalam menemukan dirinya sendiri. Kalaupun ia berani berdikari harusnya ia tegas katakan, “saya tidak mau wisuda, yang saya mau hanya satu, keluar dari kampus dengan hati bahagia. Wisuda adalah persoalan administrasi. Wisuda yang sebenarnya adalah diwisuda masyarakat”. Begitu dong.

Untuk Sadam cobalah mendalami kalimat yang pernah diungkapkan oleh Sokraters, Freud dan Lacan. Mereka mengatakan bahwa kehidupan adalah sebuah penyakit dan penyembuhannya adalah kematian. Semoga kamu bisa lulus dan wisuda kawan!!!