BAGIKAN

“Saya sendiri, tapi tidak kesepian.” Begitulah caption dari foto salah seorang teman saya di Instagram. Lebih jelasnya teman saya itu foto sendirian di pintu sebuah situs kebudayaan di Yogyakarta. Mungkin yang ingin disampaikan adalah dia jomblo tapi tidak kesepian. Lalu kejombloannya itu dilambangkan dengan berfoto sendirian. Dari semua fotonya di tempat yang sama, saya tidak menemukan caption yang mengulas tentang situs yang ia kunjungi.

Ada juga foto bergaya memangku dagu dengan caption “sedang menunggumu.” Okey, saya mengakui tren caption puitis saat ini memang sedang populer-populernya, sebagian menggunakannya untuk ajang promosi status kejombloannya. “SubhanAllah, hari gini masih sendirian, helloww,” gumam saya sambil ejek diri sendiri. Bak ajang kompetisi yang harus dipersiapkan beberapa hari sebelum tanding.

Suatu siang saya bertandang ke kos kakak saya. Adik kosnya, katanya, punya memo pribadi yang berisi kata-kata bijak dan mutiara yang sudah dipersiapkan jauh hari. Ia tinggal mengambil foto di tempat-tempat bagus, lalu mencocok-cocokkan dengan kata-kata yang sudah dipersiapkan. Bahkan ia sampai meminta saran ke kakak saya.

Caption mana ya kak yang cocok sama foto ini?”

“Kira-kira orang bakal aku gimana ya?” sungguh luar binasa.

Saat ini fenomena di atas sedang terjadi. Gak pake caption itu gak keren cui. Rata-rata yang melakukannya adalah kelompok generasi Z. Mereka lahir sekitar tahun 1990 hingga 2001. Secara umum generasi ini memang sangat bergantung pada teknologi dan gadget. Mereka sangat mementingkan popularitas, sangat percaya diri dan suka jadi pusat perhatian. Wajar saja jika untuk caption sebuah foto saja harus dipersiapakan dengan begitu matang. Karena kalau asal-asalan, bisa ancam popularitas cui. Follower bisa lari, yang like akan sedikit. Yang lebih parah, gebetan akan menjauh. Karena biasanya ada juga caption yang bermakna kode pada gebetan. Okeh, semangat perjuangkan gebetan ea.

Ada juga yang rela googling untuk cari kata-kata bijak dari motivator hingga ilmuan. Mungkin mereka ingin belajar jadi ilmuan juga. Syukur-syukur kalau apa yang ditulis juga dilakukan. Sayangnya, banyak anak kos saya yang sering bijak di media sosial saat nilai ujian anjlok saja sudah mengeluh dan nangis. Ujungnya nonton drama korea melow.

Parahnya ada yang langsung upload foto dengan caption kegagalan adalah awal dari kesuksesan atau nilai bukanlah segalanya. Padahal dibalik itu, mewek-mewek di kamar kosan sambil chat gebetan (eh). Its okey, kalian setidaknya bisa bijak dan berpikir positif meski hanya untuk pencitraan di media sosial. Semoga itu awal yang baik untuk menjadi motivator.

Apa yang dilakukan generasi ini, sebetulnya bagus. Mereka turut mempromosikan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia. Mereka secara tidak langsung menjadi humas pemilik tempat wisata tertentu. Ditambah lagi, uang masuk ke tempat wisata bisa jadi pemasukan bagi negara atau warga yang mengelola. Siapa tahu berkat mereka, utang negara bisa segera lunas. Sungguh mulia bukan?

Namun sepertinya ada yang hilaf. Kok sepertinya, tempat wisata seperti situs-situs kebudayaan dan candi-candi kini hanya dijadikan studio foto ya? Memang sih ada juga yang sebelum masuk tempat wisata, mereka mencari tahu asal-usul kebudayaan setempat. Namun banyak juga yang hanya memanfaatkan keindahan tempat wisata untuk properti menjaga eksistensi diri di media sosial. Coba tanya saja pada teman-teman kita di Instagram, “Jadi gimana sejarah situs yang kemarin kamu kunjungi?” syukur-syukur ada yang tahu.

Tempat wisata dibuka salah satunya untuk melestarikan kebudayaan yang ada. Namun jika yang terjadi seperti di atas, kebudayaan kini hanya jadi properti belaka. Dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan eksistensi diri. Semakin banyak tempat wisata yang kamu kunjungi, maka semakin hits lah kamu.

Seperti 2015 silam, saya dan media tempat saya belajar meliput sebuah situs di daerah Umbulharjo. Namanya situs Warungboto. Kala itu, menurut penjaga situs, pengunjung hanya bule, peneliti, dan wartawan, itu pun setahun bisa dihitung jari. Waktu itu, kondisi situs memang memprihatinkan. Karena belum dipugar banyak yang tidak mengetahui keberadaanya. Menurut cerita situs itu adalah tempat peristirahatan salah satu Sultan Yogyakarta bila sedang bertugas. Saya lupa yang ke berapa. Tahun 2016 ketika usai dipugar, banyak yang berdatangan. Semoga saja mereka tak hanya mengabadikan gambar dan jadikan situs sebagai properti. Tapi mempelajari sejarahnya.

Contoh saja Kartini Kendeng, WTT, dan kakak-kakak aktipis yang sedang perjuangkan tanah rakyat, mereka tak butuh upload foto dengan caption bijak untuk berjuang melawan ketidakadilan gebetan  eh penguasa maksudnya.

Sudah nulis caption apa kamu hari ini?