BAGIKAN

Hai kak Grasia Renata Lingga! Terima kasih telah mengapresiasi tulisan saya dengan amat sangat serius. Sekaligus saya menyampaikan penyesalan karena tulisan balasan ini terpaksa datang terlambat.

Rabu pagi, saya membaca tulisan Kak Grasia. Saat itu saya sedang berada di perpustakaan, tepatnya di ruang koleksi skripsi. Tak banyak orang di ruang itu, mungkin karena saya terlalu pagi. Setelah membaca tulisan anda, sejenak saya terdiam, lalu tersenyum sendiri. Betapa lebih berguna saya menulis artikel dua halaman di media daripada menulis skripsi. Ribuan skripsi di ruang ini kak, tak banyak dibaca. Sedangkan tulisan saya yang ditulis beberapa jam saja dibaca seorang aktivis perempuan macam Kak Grasia. Sial sekali rasanya terbelenggu skripsi.

Kak Grasia, saya merasa gagal menyampaikan pesan dalam tulisan itu jika saya harus menjelaskan maksudnya. Tapi tak apalah untuk Kak Grasia perlu saya luruskan. Jadi begini kak, jika Kak Grasia merasa perlu marah saat mendapati angka kasus pelecehan terhadap perempuan terus meningkat, saya juga merasa perlu marah melihat teman-teman saya (anak-anak hits, unyu nan manja) tidak memiliki kepedulian terhadap penderitaan perempuan lain di luar sana. Mereka justru disibukkan dengan persoalan-persoalan sepele. Sama seperti yang diharapkan Pram, “…juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu…” saya juga mengharapkan demikian.

Kak Grasia, saya tidak sedang menyepelekan sebuah kasus pemerkosaan. Saya juga tidak merendahkan perjuangan buruh perempuan bernama Marsinah dan buruh-buruh lainnya. Saya sedang berbicara pada generasi saya, generasi patah hati yang tak tahu menahu tentang kondisi perempuan lain di luar sana. Generasi yang dibuai cinta pasaran. Berbicara dengan mereka Kak, tidak bisa dengan teori yang sulit, tidak bisa dengan data berupa angka-angka, statistik, apalagi dengan bahasa orasi yang mendakik-dakik. Maka langkah tercerdik adalah dengan mendekatkan pada kehidupan mereka sehari-hari. Tulisan saya itu bukan berita acara seminar, bukan laporan ilmiah, bukan pula berita. Dengan begitu saya bisa lebih leluasa memilih kata sehari-hari untuk digunakan.

Bukankah mereka ini yang rawan menjadi korban pelecehan kak. Dengan atau tanpa mereka sadari, mereka kerap menjadi korban pelecehan oleh kekasih mereka sendiri. Atas nama cinta, tubuh bisa jadi milik bersama. Padahal yang menjadi korban selalu perempuan. Saya rasa mereka perlu diingatkan agar tidak menambah data korban pelecehan yang kak Grasia baca. Mereka harus menjadi perempuan yang memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya sendiri. Jika pendapat saya salah, bolehlah saya ditegur.

Kak Grasia, Saya tidak sedang bercanda ketika menulis, “Untuk YY kita pantas menangis. Tapi kamu yang ditolak 14 gebetan jangan pernah menangis, terus berjuang karena kamu dek, tidak akan mati karena ditolak.” Karena yang sebenarnya ingin saya sampaikan disitu, “Goblok sekali kamu, menangis cuma karena ditolak. Jadilah perempuan yang kuat, lihat di sekitarmu ada yang lebih pantas ditangisi, ada YY yang telah diperkosa dan dibunuh.” Saya tidak bermaksud menyamakan kasus pemerkosaan dengan penolakan, keduanya jelas berbeda.

Lalu, kenapa saya tidak menulis yang sesungguhnya ingin saya tulis? Karena mbak-mbak dan dedek-dedek emes itu kak, tidak akan membacanya. Mereka terlalu sering membaca sesuatu yang menghibur yang mereka anggap dapat membantu hidup mereka. Misalnya, trik mendekati gebetan, tips menghadapi mantan atau tutorial membuat alis. Jadi tulisan yang bersifat menghakimi kemungkinan kecil akan mereka baca.

Saya menulis tulisan itu kak, bukan karena ingin dianggap aktivis, bukan pula ikut-ikutan membicarakan isu yang sedang ‘booming’. Tapi karena keresahan saya melihat fenomena patah hati yang keterlaluan. Saya ingin setelah mereka membaca tulisan saya, mereka akan menertawakan diri sendiri. Menertawakan diri mereka yang cengeng, menertawakan diri mereka yang asik dengan romantisme cinta dan tetek bengeknya. Kemudian ketika mereka berhenti menertawakan diri sendiri, saya berharap mereka bisa membuka mata, melihat kondisi di sekitar mereka, peka terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi. Syukur-syukur kalau mereka konsen pada masalah-masalah perempuan, seperti yang kak Grasia geluti saat ini.

Saya tak paham ketika Kak Grasia menyinggung waktu ngopi saya lalu membandingkan dengan data korban kekerasan seksual, “Artinya ketika dik nurul asik berdiskusi di warung kopi selama empat jam membahas kemanusiaan, negara dan media kita yang sedang kacau ini, ada enam perempuan yang bisa jadi dik nurul kenal menjadi korban.” Mungkin, kak Grasia menganggap kami hanya membuang-buang waktu dengan berdiskusi yang isinya omong kosong. Mungkin, apa yang kami lakukan tak terlalu berarti bagi perempuan korban pelecehan di luar sana. Kak Grasia, kami memang tidak sedang melakukan revolusi yang berdarah-darah tapi setidaknya ketika kami berdiskusi di warung kopi itu, kami bisa memastikan diantara kami tidak sedang menjadi pelaku ataupun korban kejahatan seksual. Kalau ada hal lain yang lebih baik kami lakukan daripada diskusi warung kopi, tolong beri tau saya kak.

Kak Grasia, saya bukan aktivis perempuan seperti halnya kakak. Saya tidak update data-data kekerasan seksual terhadap perempuan setiap hari. Jadi yang bisa saya lakukan hanya mengingatkan orang-orang yang bisa saya jangkau, salah satunya dengan tulisan. Bolehlah saya berharap mereka bisa menjadi perempuan yang kuat, mandiri, bisa menjaga diri sendiri. Karena saya sadar kak, saya tidak mampu melindungi mereka setiap hari, mereka harus sadar untuk melindungi diri sendiri dari kemungkinan kejahatan seksual.

Nah, mengenai judul tulisan saya itu kak, mungkin editor siksa kampus yang bisa menjawab. Tapi saya juga tak mau menyalahkan mereka yang telah mengganti judul tulisan saya. Mungkin judul yang saya buat terlalu biasa dan tak akan laku di pasar pembaca. Mungkin, dengan ada kata “menggungat” akan lebih menarik minat pembaca. Hanya untuk kata ganti wanita, saya sendiri juga tidak menyukainya. Kalau Kak Grasia perlu bukti, anda boleh lihat dalam revisian skripsi saya, tak satupun saya menggunakan kata wanita disana.

Tulisan yang kata kak Grasia terlalu becanda itu judul asalnya, “YY, Marsinah dan kita yang terluka”. Semoga Kakak tidak lebih kecewa dengan judul yang saya buat sendiri itu. Saya hanya ingin berkata semua pasti pernah terluka. Mengalami penolakan, penghianatan, ditinggal menikah, dilecehkan, diperkosa, dibunuh, semua itu luka yang boleh saja ditangisi. Tapi luka mana yang lebih pantas ditangisi lebih lama? Begitu kak Grasia.

Tulisan ini tidak hanya untuk menjawab keresahan Kak Grasia karena tulisan saya. Saya juga ingin menyampaikan keluh kesah pada Kak Sadam. Kak Sadam telah membagikan tulisan saya di media sosial dengan kalimat “Ngeri, Nurul Aini calon feminis.” Jujur, saya tidak suka dengan kalimat itu. Saya tak pernah ingin disebut feminis meskipun masih calon. Hati saya kak, selalu ketakutan dengan julukan itu. Siapa saya ini hingga bisa jadi feminis. Saya hanya seorang mahasiswa yang belum lulus-lulus. Sok-sok-an menggunakan teori feminis dalam penelitiannya padahal tak mengerti dengan benar.

Sedangkan menjadi seorang feminis bagi saya tak sekedar bisa berbicara tentang perempuan, tak sekedar menghafal data berupa angka-angka atau statistik pelanggaran atas perempuan, tak hanya berani meneriakkan tuntutan demi kesetaraan gender. Seorang feminis kak, bagi saya harus bisa berbicara mewakili perempuan secara menyeluruh. Melabas kelas sosial, tingkat intelektual, suku, hingga agama. Saya belum bisa menjadi seperti itu. Saya menanggapi sebuah persoalan perempuan dengan perspektif saya sendiri yang belum tentu mewakili perempuan lain. Jadi begitu kak Sadam, jangan diulangi lagi ya.

Pada akhirnya jika Kak Grasia dan Kak Sadam ada waktu bolehlah kita ngopi bersama-sama atau lebih dari sekedar ngopi juga boleh. Sepertinya Kak Grasia butuh piknik dan saya tahu Kak Sadam butuh kasih sayang.