BAGIKAN

Kami biasanya menelepon setiap pekan, meski tidak setiap hari. Saling bertanya kabar dan beberapa hal yang tidak penting. Akhir pekan kemarin, saya kembali ditelepon. Karena efek lembur sampai pagi dan saya bangun terlalu siang, panggilan video pagi itu tidak terjawab. Sebetulnya saya sangat ingin mengangkat panggilan itu, karena berasal dari Ibu saya.

Biasanya saya akan menelepon balik, jika ada panggilan dari teman atau keluarga yang tidak terjawab. Tapi siang itu saya sudah mengira, bahwa Ibu mungkin hanya ingin memberi tahu, bahwa ia sedang datang ke acara wisuda sepupu saya di sebuah kampus negeri terkenal di Jawa Timur. Sehari sebelumnya, saya telah menerima kabar itu dari Ibu lewat pesan singkat. Tentu saja ditutup pertanyaan yang paling sulit dijawab, “Kapan wisuda, nak?” Hhhhh!

Saya tidak paham sebab apa yang membuat para orang tua, seperti Ibu saya, bahagia saat datang ke acara resepsi wisuda kelulusan anaknya yang menjadi mahasiswa. Apakah karena wisuda adalah puncak dari sebuah gunung yang telah ditaklukkan anaknya, tiap semester demi semester. Mungkin hanya bisa dijawab oleh perwakilan Persatuan Orang Tua dan Sanak Saudara Wisudawan Indonesia.

Rasa penasaran itu memotivasi saya menonton rekaman video resepsi wisuda, yang berlangsung awal Februari kemarin, di sebuah kampus internasional bernama Universitas Jember. Satu jam pertama saat melihat video itu membuat saya mengantuk. Entah karena saya tidak merasakan atmosfer wisuda di dalam gedung itu, atau memang acara wisuda memang membosankan. Tapi saya tidak jadi mengantuk, karena ada penampilan kakak-kakak penari Gambyong dan Manuk Rawa.

Awalnya saya ingin menjeda video, lalu menyeduh kopi untuk mengusir kantuk. Rupanya tabung gas di dapur sedang habis dan mulai langka di beberapa toko kelontong terdekat. Akhirnya sayat terpaksa mempercepat video dan melewati beberapa bagian. Misalnya pembawa acara yang tidak tertib memakai bahasa Indonesia, iring-iringan para pejabat yang memasuki ruangan, serta nyanyian mars dan lagu kebangsaan yang mitosnya bisa menumbuhkan jiwa nasionalisme.

Satu-satunya momen penting saat wisuda, saya kira adalah orasi rektor. Beliau menyebut bahwa setelah prosesi wisuda, para mahasiswa akan berhadapan peradaban keras bernama revolusi industri jilid 4. Bahwa sebuah peradaban—yang dijelaskan dalam orasi itu—tidak lagi mengonsumsi kualitas, tetapi nilai lebih memilih seberapa mudah harganya dijangkau. “Distruptive tecnology telah bener-bener merasuk ke masyarakat, termasuk di dalamnya adalah bioteknologi.”

Saya tidak paham bioteknologi dan istilah distruptive technology, yang dijelaskan dalam orasi tersebut. Tapi bagaimana istilah distruptive technology dalam orasi itu dijelaskan, justru membuat saya bingung dan penasaran.

Saya berusaha mengingat-ingat makna dari istilah itu, sebagaimana dijelaskan oleh Rhenald Kasali, profesor ilmu ekonomi dan bisnis di Universitas Indonesia. Bahwa era disrupsi adalah perubahan besar-besaran di semua lini bisnis, baik di bidang ritel atau jasa. Sebuah makalah ilmiah yang disampaikan pada konferensi internasional untuk ilmu sistem di Amerika, menandai revolusi industri jilid 4 dengan integrasi Internet of Things (IoT) atau di hampir semua industri.

Tetapi apakah benar semua wisudawan akan menghadapi revolusi industri jilid 4 setelah diwisuda?

Saya kira tidak. Beberapa kenalan saya justru tidak memilih untuk tenggelam dalam arus revolusi industri. Beberapa dari mereka justru tetap melanjutkan mimpinya sebagai pegawai negeri, petani, mencalonkan diri sebagai kepala dusun, dan bahkan tidak memiliki profesi yang layak dimasukkan dalam kolom KTP—seperti penyair, penari, dan musisi.

Persoalan sepele semacam ini memang tidak perlu digugat panjang lebar, apalagi karena momen resepsi wisuda teramat sakral dan formal. Toh, resepsi wisuda juga bukan ruang dialogis layaknya diskusi di warung kopi. Tapi saya bersyukur, setidaknya, kebiasaan mencampuradukkan istilah asing dengan bahasa Indonesia dalam sebuah orasi ilmiah, bisa membuat saya berpikir dan tidak ngantuk lagi.

Meminjam kalimat rektor dalam orasi ilmiahnya, wisuda adalah momen “untuk menyaksikan kebahagiaan dari kita semua”. Kebahagiaan yang diukur dengan berapa banyak mahasiswa yang lulus dan mendapat predikat memuaskan. Soal gugat-menggugat kesalahan berbahasa Indonesia, karena mencampuradukkan istilah asing, cukup terjadi di Fakultas Sastra (yang sekarang berubah Ilmu Budaya) saja.

Bagaimanapun, para wisudawan seperti disebut oleh rektor, adalah “pejuang-pejuang tangguh dari Universitas Jember, yang semoga nanti menyinari bangsa ini”. Saya sepakat jika mereka disebut pejuang, setidaknya setelah menonton video rekaman wisuda. Bagaimana tidak, mereka cukup kuat duduk selama berjam-jam untuk menunggu giliran bersalaman dengan rektor. “Oleh karena itu kita beri applouse semuanya untuk para wisudawan”.

Ingat, “applouse“, ya! Bukan “tepuk tangan” seperti dalam kosa kata bahasa Indonesia, kita rayakan dengan genit saat hari peringatan Sumpah Pemuda.

Akhirnya, hampir lima jam saya menghabiskan waktu menonton video rekaman resepsi wisuda. Resepsi ditutup dengan pengambilan janji alumni oleh para mereka yang diwisuda hari itu.

Astaga! Ternyata sudah lima jam, saya belum menelepon balik panggilan telepon dari Ibu saya, yang tidak terjawab. Apalagi menjawab pertanyaannya, “Kapan wisuda, nak?” Bulan depan, Bu ~~~