BAGIKAN

Beberapa penjaga kebun siksakampus.com telah menyongsong babak baru. Masyarakat telah menunggu peran mereka dalam bidang masing-masing. Lalu bagaimana kelanjutan siksakampus.com?

Jangan khawatir, para penjaga kebun siksakampus.com sudah merancang siasat jahat untuk keep in touch dengan para penulis dan pembaca.

Menghindari dugaan kurang baik kenapa siksakampus.com kembali terbit menjelang Pemilu, kami pastikan siksakampus.com tidak akan mengadakan quickcount pada 17 April mendatang, apalagi untuk menjadi media partisan. Siksakampus.com tetap pada jalan suci, tanpa intervensi siapa pun dalam menyikapi isu tertentu.

Siksakampus.com hadir menjadi media alternatif, wadah menulis tanpa sensor dan tanpa sumbangan korporat. Kami berharap kontributor siksakampus.com memiliki visi yang sama dengan kami. Mengambil bagian dari keramaian informasi dengan kacamata lebih terang dan selera humor yang beragam. Siksakampus.com ingin mengajak pembaca melihat isu dengan berbagai perspektif tapi tetap santai kayak di pantai.

Kami tertarik dengan tulisan seputar persoalan kampus. Di ranah ini, mahasiswa menjadi subjek paling dekat untuk angkat bicara. 20 tahun reformasi, kampus dan sistem pendidikan masih begitu-begitu saja. Bukankah miris mendengar kabar pembatasan kegiatan mahasiswa, pelecehan seksual, korupsi, pembangunan, Uang Kuliah Tunggal, wajib kuliah lima tahun, akreditasi kampus, keberpihakan kampus pada partai politik dan korporat, serta tetek bengek lain yang memuakkan.

Mari ambil contoh, beberapa bulan terakhir isu seputar perguruan tinggi santer terdengar. Media massa hadir, tetapi tidak semua bisa menulis disana. Jika Anda dari kampus bersangkutan atau merasakan hal yang sama, kami ingin Anda turut berbicara melalui tulisan.

Tak hanya mahasiswa, kami menerima tulisan dari segala status mulai dari pelajar, pekerja, petani, bahkan pengangguran. Karena tidak ada yang paling pantas bicara soal pendidikan selain pelajar dan guru. Tidak ada yang paling pantas bicara soal beban kerja hingga tunjangan jika bukan pekerja. Tidak ada yang paling pantas bicara soal kerugian impor jagung jika bukan petani. Dan tidak ada yang paling pantas bicara soal lapangan kerja jika bukan pengangguran.

Di atas itu semua, seberapa pantaskah engkau tulisanmu tuk ku tunggu? Silakan kirim naskah pada redaksi. Jangan lupa, pegang teguh marwah bercanda dengan serius dalam setiap naskah yang kalian kirim.

Kami ingin siksakampus.com mengisi hari-hari pembaca dua kali tiap pekan. Anda juga dapat mengirim tulisan ke surel siksakampus@gmail.com. Empat rubrik siksakampus.com siap menjadi ladang subur dengan tulisan-tulisan kalian.

Agar tidak obral janji seperti caleg yang spanduknya tidak estetik, kami tidak bisa memberi reward kepada kontributor seperti sebelumnya.

Sebagai gantinya, kami berencana memberi kenang-kenangan pada kontributor. Uang bisa jadi hal sensitif. Tetapi memberi kenang-kenangan, sama seperti kasih ibu, tak terhingga sepanjang masa. Sekali lagi, itu masih rencana, maka untuk melancarkan rencana, kami harus usaha. Di tengah pusaran ke-misqeen-an, penjaga kebun sepakat membuka kios kecil online yang akan menawarkan beberapa produk. Mungkin kaos, totebag dan/atau lainnya. Tentu sembari kembali mencoba usaha sebelumnya berupa membuka ruang iklan untuk produk lokal, interlokal bahkan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh).

Kami, para penjaga kebun, hanya bisa berencana, selebihnya biarkan MUI yang memberi fatwa.

Sekian,

Tukang Pupuk