BERBAGI

Menjadi anak yang baru lulus SMA bukan perkara mudah. Bila tak dipaksa orang tua untuk segera mencari lowongan kerja, maka pilihan berikutnya adalah segera menikahi gadis desa. Dua pilihan itu sering saya dengar saat mendengar curhatan beberapa remaja berseragam abu-abu putih, di Warung Buleck beberapa hari terakhir. Kuliah, nyaris tak ada dalam kamus tawaran orang tua mereka atas masa depan generasi bangsa.

Bagaimana realitas di sekitar anak-anak SMA itu membentuk mereka? Saya jadi penasaran tidak karuan.

Barangkali mereka sama seperti beberapa teman saya, yang belakangan merasa tersiksa oleh kehidupan kampus. Jauh di dalam nurani mereka telah tumbuh benih-benih pobhia atas slogan perguruan tinggi, sebagai wadah distribusi pengetahuan khas intelektual organik. Namun di beberapa titik justru menggembok rapat gagang pintu pengetahuan itu. Kampus telah membangun portal, mencegah pemulung dan pengemis berkeliaran.

Kini saya hanya ingin mencatat beberapa perguruan tinggi. Barangkali masih layak dipertimbangkan, setelah lulus sekolah kelak.

 

Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta

Siapa tak kenal UGM. Kebanyakan tukang becak dan tukang ojek di kawasan Bulaksumur, Yogyakarta, tentu tahu di mana letak kampus ini. Bila enggan bertanya pada tukang becak dan tukang  ojek, cukup amati kawasan yang penuh dengan pemuda-pemudi nan berseri penuh harapan.Maka di situlah kampus UGM yang tersohor itu. Maka Fakultas Teknik UGM layak dipertimbangkan.

Beberapa waktu kemarin, rombongan ibu-ibu dari Rembang, Jawa Tengah, pun bebarengan datang ke UGM. Mereka rela berpanas-panas kena sengatan sinar matahari, hendak menemui pimpinan kampus serta jajaran akademisinya.

Konon, akademisi di kampus Fakultas Teknik UGM hampir berhasil mengalahkan para petani di Rembang. Hanya berbekal teori geologi dan sedikit sentuhan metode penelitihan ilmiah saja, bisa mengalahkan tradisi pertanian ibu-ibu petani Rembang yang berlangsung turun-temurun. Meminjam istilah ibu-ibu petani Rembang yang bertandang ke kampus UGM, para akademisi di kampus ini sangat sakti dalam menyulap, ”analisis ilmiah menjadi dalih rasional pembela perusahaan semen.”

 

Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya (UB), Malang

Siapa kira kuliah administrasi adalah hal yang membosankan. Justru menjadi sebuah keberuntungan besar dalam hidupmu, jika memutuskan untuk kuliah di fakultas ini. Lihat saja berapa banyak orang yang tak lihai dalam urusan administrasi dan surat menyurat. Paling hanya bisa dihitung sejumlah jemari tangan.

Urusan surat menyurat memang perkara sepele. Menulis pesan di kertas, membungkus amplop, dan mengantar ke alamat tujuan. Itu saja. Tapi akan jadi rumit bila terjadi kesalahan administratif. Nama dan alamat pengirim surat yang seharusnya ditulis di bagian luar amplop, justru ditulis di dinding kantor pos.

Lantas mengapa Fakultas Ilmu Administrasi UB? Pertanyaan menarik. Karena kampus ini telah mengamalkan amanat rezim otoriterian penolak mazhab dialektis. Bak sebuah lokomotif kereta, sabda dosen dan pimpinan kampus adalah dalil sahih. Mereka adalah masinis yang memberi komando, sedangkan mahasiswa adalah penumpang yang harus mematuhi segala perintah dan larangannya.

Terakhir, bila kalian menjadi mahasiswa di kampus ini dan berani menentang komando dosen atau dekan, maka bersiaplah menerima surat panggilan untuk orang tuamu nun jauh di pelosok desa. Mirip murid sekolahan bukan?

 

Fakultas Sastra, Universitas Jember (UNEJ), Jember

Jika masih bingung mencari lokasi kota Jember. Silakan pakai perangkat ponsel pintarmu dengan program peta digital. Lalu ikuti petunjuk untuk menuju kampus ini.

Alasan objektif mengapa kampus UNEJ layak diperhitungkan, tentu saja karena segudang kekayaan intelektual negara yang tersembunyi di kampus ini. Terlebih, kampus ini memberikan beasiswa pendidikan pada mahasiswa penghafal Al-Quran berprestasi. Tak perlu nilai cumlaude atau manipulasi surat keterangan miskin lagi.

Akhirnya Fakultas Sastra UNEJ lah yang menjadi tempat yang strategis para mahasiswa penghafal Al Quran berprestasi. Dalam setahun saja pimpinan kampus Fakultas Sastra UNEJ berhasil membangun tembok pembatas dan portal yang dikunci rapat dengan rantai kapal peradaban feodal. Pimpinan adalah ratu dan raja, mahasiswa adalah kambing hitam sumber kesalahan.

Oh ya jangan kaget bila banyak mahasiswa berpeci, berjenggot, dan bercelana setinggi mata kaki. Karena mereka, barangkali, sedang menempa diri dan ingatan untuk mendapat beasiswa. Agar lekas lulus dari jeratan portal dan tembok beton.