BERBAGI

Membaca judul di atas, ingatan kita pasti akan mengingat perihal jodoh. Ya jodoh, masalah pelik yang sekarang sedang kita hadapai. Kita? Lo aja kale.

Anda pasti hapal kan jargon para motivator cinta, bahwa jodoh kita adalah cermin dari kita. Kalo kita alim, jodoh kita pasti alim. Kalo kita rajin solat, jodoh kita pasti rajin solat. Kalo kita rajin sarapan, jodoh kita pasti suka sarapan. Pokoknya, jodoh itu ibarat cermin. Siapa kita, begitulah jodohmu kelak. Anda percaya? Saya tidak.

Kenapa saya tidak percaya. Karena ustad saya dulu pernah bilang, kalau kita itu harus jadi pelengkap bagi pasangan kita kelak. Yang dimaksud pelengkap itu ya apa yang pasangan kita tidak miliki, kita lah yang harusnya melengkapi. Misalnya, dia sering bangun kesiangan, kamu harusnya orang yang suka bangun pagi. Dia orangnya jorok, kamu harusnya orang yang suka kebersihan. Nah, coba anda renungkan, kalo konsep jodoh adalah cermin. Dia jorok, kamu jorok. Dia mbangkong, kamu mbangkong. Bisa ancur tuh hubungan. Bisa bubrah tuh keluarga. Iya kan! Iya aja deh.

Prinsip di atas bisa juga diaplikasin ke android. Eh, ke kampus yang akan kita pilih.

Misalnya kamu anak desa yang jauh dari peradaban, biar maju dan gaul, maka kampus pilihanmu haruslah di kota-kota besar. Misalnya, UGM di Jogja, ITB di Bandung, UI di Jakarta, UNAIR di Surabaya. Dengan memilih kampus-kampus tersebut ketika kelak kamu pulang kamu untuk liburan, kamu bisa pamer ke teman-teman dan tetangga. Cerita mengenai kehidupan di kota, cerita mengenai betapa gaul dan kerennya orang-orang di kota. Di kampung itu pertanyaan yang sering muncul bukan kamu kuliah jurusan apa, apa yang diajarkan, berapa IPK, aktif di organisasi apa. Melainkan, “piye cah penak urip nok kuto?”

Kedua, misalnya kamu itu orangnya suka . Maka tempat kuliah yang cocok adalah yang lulus dengan jaminan kerja, semacam STAN. Dengan kuliah di kampus yang menjanjikan kepastian kerja maka masa depan hidupmu sudah jelas dan terang benderang. Tidak perlu repot-repot resah dan gelisah selepas wisuda.

Ketiga, kuliah karena gaya hidup. Ini tipe calon mahasiswa yang sebenarnya sudah jelas warisannya. Mereka kuliah sebagai bagian dari mendongkrak nama baik. Tipe calon mahasiswa ini butuh kampus yang menawarkan biaya yang mahal. Semacam Presiden University, Universitas Ciputra, BINUS, dll. Kuliah itu gaya hidup, dengan menyebutkan nama kampus maka orang akan langsung memandangmu sebagai orang kaya.

Keempat, kuliah karena tidak ingin nganggur. Nah, model calon mahasiswa terakhir ini sepertinya tipe kebanyakan calon mahasiswa. Belum siap langsung kerja karena susah ninggalin subsidi orang tua, mau menikah dini juga belum siap. Dari pada menganggur di rumah dan jadi cibiran orang, ya kuliah saja. Calon mahasiswa seperti ini tidak pernah peduli mo kuliah di kampus apa. Bagi mereka apapun jenis kampusnya, yang penting pacaran jalan terus. Eh.

Kalo dulu, penulis memilih kuliah di Fak. Sastra Universitas Jember. Itu karena memang kampus sastra lah yang memilih saya. Dulu penulis sempat ikut ujian SMPTN mengambil sosiologi di Brawijaya Malang dan FKIP Bahasa Indonesia di UM Malang. Tidak ada yang lolos. Trus, ikut lagi SMPTN tahun berikutnya. Masih ngeyel ambil sosiologi Brawijaya, tidak lolos lagi. Dan pilihan kedua Sastra Indonesia Universitas Jember, pilihan kedua lolos.

UNEJ telah memilih penulis sebagai jodohnya. Brawijaya dan UM malang yang sangat diminati oleh penulis, gagal ia miliki. Ini artinya, tak perlu memilih kampus, kampuslah yang akan memilihmu. Salam gembira. []