BERBAGI

Seorang kawan awak di perantauan tak berani pulang. Sebabnya, mantan-mantanya sudah pada nikah semua. Kawan awak itu, takut jikalau pulang nanti dia harus ketemu mantannya dan terpaksa mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Sedangkan kawan awak itu, sampai sekarang pun masih sendri, jomblo dia! Awak heran, tak tau kenapa para orang tua dan tetangga, kerabat dekat, sanak famili pula, kalau sudah lebaran itu jadi sekumpulan orang kejam. Dalam anggapan mereka, pertanyaan “kapan nikah,” yang diucapkan dengan kesungguhan jiwa, seolah tak manimbulkan luka apa pun. Tambah menderita saja kawan awak itu.

Dalam pikiran kawan awak itu, hari raya selalu jadi catatan tragis!

Tentu, hal macam itu bukan jadi perkara kawan awak saja, tapi juga kalian-kalian. Hari raya harusnya jadi penyambung silaturahmi, namun, dengan berat hati kalian harus melaluinya dengan penuh tangisan dan darah. Awak prihatin. Usia di atas dua puluhan tahun, dan kau masih sendiri saja saat hari raya, maka lingkungan akan melihat itu sebagai sebuah kesalahan. Orang jomblo, digolongkan sebagai kelompok masyarakat cacat sosaial. Alamak! Hari raya, harusnya jadi sebuah peristiwa dimana kita semua memaknai ulang arti kemenangan. Iya awak kira begitu.

Kiranya benar puisi Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan. Kalian, yang masih sendiri, macam mana memaknai puisi itu?

Awak melihat, puisi ini memang diperuntukkan untuk para jomblo di perantauan yang tak berani pulang. Tragisnya ditanyai kapan nikah itu, lebih menyakitkan dari kejombloan itu sendiri. Serasa bagai kematian.

Bulan di atas kuburan, berarti Do’a di atas kematian. Kau, yang jomblo itu sedang berdoa, semoga saja kesendirianmu segera berakhir. Puisi itu penuh darah, dan diperuntukkan buat para jomblo yang gagal mendapatkan kemenangan di ujung ramadhan. Sudah puasa tiga puluh hari, dan masih saja harus menangis menahan lapar, lapar menunggu pasangan tak kunjung datang.

Para jomblo, adalah orang berdosa di mata orangtua, keluarga dan sanak famili. Mereka amat sulit memaafkan kekurangan seseorang, kekurangan berupa kesendirian. Para tetangga, orang tua, dan sanak famili, mungkin tak pernah dengar nasehat Goenawan Mohammad, begini kata dia “Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. … Di ujung sana, Tuhan lebih tahu”

Katakanlah itu ke keluargamu, atau siapa saja yang kurang ajar, mengatai kau seorang jomblo, di malam lebaran. Mereka gagal menerima kekuranganmu, mblo. Mereka tidak pernah tahu, di ujung sana, Tuhan lebih tahu. Iya, Tuhan tahu sampai kapan kau sendiri.

Awak tahu, sulit memang menjalani hari-hari sepi, sendiri tak ada kawan. Berteman dengan gadget yang berfasilitaskan internet, sedikit-sedikit bikin setatus absurd, yang aslinya itu adalah tangisanmu soal kejombloan yang sepertinya tak berujung. Sudah lah kawan, ramadhan berlalu, do-doa mu waktu puasa itu, sudah di dengar sama Tuhan. Kau sudah tidak lapar lagi, kau sudah bisa makan siang hari, makan kue kering seenaknya sampai kau kenyang. Dan, kau sudah harus tak sendiri lagi. Kau tak harus puasa pacaran, segera carilah.

Kawan, awak pingin katakan ke semua orang yang seenaknya saja tanya kapan nikah…kapan nikah…kapan nikah, tanpa memikirkan perasaan orang yang ditanyai. Bagaimana kalau belum punya jawaban. Sudah, kau pulang saja lah ke rumah, mungkin orang tua kau mau mendoakan bisa segera punya pasangan. Awak kira manjur lah doa orang tua itu. Kalau kau malas ketemu tetangga, malas ketemu sanak famili, sudah lah, kau di kamar saja. Kau bisa katakan sakit perut, sakit kepala, atau kau bisa katakan sedang mengerjakan tugas di kamar. Katakan saja kau sedang menyelesaikan skripsi. Eh, tapi jangan, nanti kau malah ditanyai lagi, kapan lulus?

Kalau sudah begitu, awak Cuma bisa bilang, menyerah saja lah kawan.