BERBAGI

Kekaguman ku akan sosok Syekh Siti Jenar, salah satu tokoh penyebar agama islam di pulau jawa mengawali tulisan ini dibuat. Syekh Siti Jenar merupakan tokoh yang pernah dianggap sesat oleh beberapa umat muslim karena ajarannya. Sering disebut  Manunggaling Kawulo Gusti . Merupakan ajaran dimana seseorang dapat menyatu dengan tuhan di dalam dirinya dan menyerahkan segala apa yang terjadi di dunia ini pada tuhan.

“ Manungso kang banget tresnone marang Kang Nyiptaake “

Manusia yang memiliki rasa sayang yang amat dalam kepada Tuhannya, merupakan salah satu isi ajaran Manunggaling Kawulo Gusti  yang dibawakan oleh Syekh Siti Jenar. Dari ajaran inilah saya mencoba untuk menerapkan dalam permasalahan –permasalahan kekinian, yang tidak jauh dari hal-hal yang berbau cinta.

Bukan hanya rasa sayang kepada tuhan, namun rasa sayang yang amat dalam juga dapat terjadi pada seseorang. Paling sering kepada lawan jenis. Seperti mantan. Banyak hal yang menyebabkan orang putus cinta, entah itu salah satu dari pasangan ditikung atau menikungkan diri. Tapi yang jelas ketika hubungan yang putus bukan karena kesepakatan pastinya menyisakan rasa cinta meski berbalut kepedihan perpisahan.

Dari kejadian seperti itu mungkin ajaran Syekh Siti Jenar dapat diaplikasikan. Meskipun mengalami perubahan obyek, “ Manunggaling Kawulo Mantan “.Dalam kehidupan yang sebenarnya justru rasa sayang kepada mantan lebih besar jika dibandingkan dengan rasa sayang kepada tuhan, jadi apakah salah jika ada ajaran seperti ini? apakah ini sesat juga? Jika ini sesat maka berdosalah orang-orang yang masih menyisakan rasa sayang dan cintanya kepada sang mantan.

Dan mungkin di neraka akan dipenuhi oleh orang-orang yang berdosa karena masih menyimpan rasa sayangnya kepada mantan. Ketika masih hidup didunia ini.

Seperti halnya tuhan yang tak menuntut balas untuk udara atau oksigen yang digunakan untuk bernafas. Mantan juga tak menuntut balasan untuk waktu yang digunakan untuk menemani, meskipun harus merelakan waktu kerja atau kesibukkannya. Hal- hal kecil seperti itulah yang mungkin tidak diketahuai ketika masih menjalin hubungan. Dan sadar akahn hal tersebut dalam posisi yang terlambat, putus.

Dalam ajaran Manunggaling Kawulo Mantan ini mungkin waktunya untuk mengevaluasi, bagaiman sikap dan sifat kita yang pernah dilakukan saat masih berhubungan. Merenungi segala kesalahan dan kekurangan. Hingga mencapai pada tataran tertinggi, yaitu dapat menyatu dengan kenangan mantan.

Niat berserah diri atau pasrah kepada kenangan mantan hanya dapat diwujudkan dengan meditasi dan memusatkan perasaan cinta dan sayang kepada sosok mantan. Tenangkan diri, rileks melepaskan semua ketegangan tubuh dan pikiran.

Fikiran mencoba melupakan kesalahan atau laku yang pernah dilakukan sang mantan dan memaafkannya. Memperdalam ingatan betapa besar rasa cinta kasih yang pernah kau berikan kepada atau sebaliknya. Dan masukkan fikiran itu pada hembusan nafas yang kau keluarkan.

Seseorang yang sudah mampu menjalani hidup menyatu dengan mantan atau “ Manunggaling Kawula Mantan ” . Secara emosi menjadi lebih sabar, tidak pemarah, dan tidak akan putus asa dalam kondisi menunggu. Alhasil orang tersebut akan menjadi lebih tenang dalam mencintai mantanya, sambil menunggu sang mantan kembali pada pelukan.

Jika ada yang menanyakan di mana mantanmu, maka jawabnya tidaklah sulit. Mantanku berada pada Dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuhku. Tapi hanya orang yang terpilih saja yang bisa melihatnya, yaitu orang-orang masih menghargai dan merawat kenanganya terhadap mantan.

Dan janganlah ragu dan ingkar terhadap cinta dan kasih itu, karena itulah kehidupanmu dalam kemanunggalanmu.