BERBAGI

Kapan lulus??? Kapan lulus??? Kapan lulus??? Kapan saya bisa lulus kuliah??? Jawabannya: KAPAN-KAPAN!

Kiranya itulah yang pernah ada dibenak saya dua tahun yang lalu. Ketika pulang kerumah, berkunjung ke kampung halaman ibu di Lumajang, ke rumah kerabat ayah di Sampit, selalu pertanyaan itu yang terlontar. Tidak hanya pertanyaan itu saja, semisal “Nanti kalau lulus mau kerja dimana?” atau “Habis lulus kuliah mau lanjut sekolah atau mau nikah dulu?” dan kemudian mereka tertawa lepas, menertawakan anak ingusan yang waktu itu mereka pikir sedang dipusingkan dengan mutan bernama skripsi. Padahal sekian pertanyaan itu diarahkan pada saya yang baru menginjak semester 6, dimana untuk kultur di Kalimantan semester 6 sudah merupakan batas akhir seseorang menjadi mahasiswa. Saya yakin pertanyaan yang dianggap momoknya kakak-kakak tingkat akhir ini juga pernah atau tengah kalian rasakan ketika pulang saat ini.

Akhirnya saya pun mendapatkan gelar sarjana setahun yang lalu.

Tapi ada penyesalan dalam benak saya ketika saya dinyatakan sudah bukan mahasiswa lagi. Semacam ada rasa berkecamuk dipikiran ketika saya lulus lebih cepat diusia yang terbilang masih ingin bermain. Orang tua mana yang tidak bangga putrinya lulus dengan masa kuliah 4 tahun (standar) diusia 20 tahun (yang padahal kalau dihitung dari akta kelahiran berusia 22 tahun dan jika berpatokan pada hasil wawancara dengan ibu saya berusia 21 tahun), menyandang gelar lulusan terbaik pertama baik ditingkat fakultas maupun universitas dengan IPK yang hampir sempurna, serta tawaran kerja dimana-mana (maaf agak sombong, biar lebih barokah). Itulah yang saya rasakan setahun yang lalu. Saya sarankan untuk kalian (terutama kakak-kakak aktipis) yang biasanya juga berpikir untuk segera lulus agar berpikir seribu kali lagi sebelum menjadi seperti saya.

Pernah beberapa saat terpikir kalau ternyata saya tengah merasa sangat iri tingkat akut pada teman-teman yang masih menikmati sisa-sisa status mahasiswanya di kampus. Bagaimana saya tidak merasa sangat iri jika seharusnya otak saya diistirahatkan dulu barang beberapa waktu dari segala hal berbau akademik eh sudah harus menjadi buruh. Apalagi perasaan ini makin menjadi ketika saya diterima menjadi buruh di salah satu perusahaan swasta di Banjarmasin. Gaji besar dan sekarang bisa mewujudkan apapun yang ada tidak akan bisa membeli keinginan-keinginan saya yang terlewat.

Andai saya bisa bertemu dengan Tuhan, saya ingin meminta semuanya kembali dan saya ingin menjadi seperti biasa-biasa saja. Ya, biasa-biasa saja. Jika saya boleh sedikit curhat, kadang menjadi yang terlihat sempurna itu sangat tidak menyenangkan. Semua melihat saya tidak pernah dapat kendala apapun ketika kuliah. Perihal saya yang tidak pernah mendapatkan nilai C+ dan hanya pernah sekali dapat nilai B pun selama kuliah menjadi guyonan teman-teman dikampus. Padahal mereka tidak pernah merasakan bagaimana saya yang terus menggerutu ketika bibit-bibit koruptor dan orang-orang munafik itu meminta bantuan saya; menjadi joki mereka untuk ujian mata kuliah tertentu, mengerjakan tugas-tugas kuliah mereka dengan harga nego, dan lainnya yang terlalu banyak jika saya sebutkan.

Ditambah lagi kampus saya yang lebih mengedepankan kuantitas dibanding kualitas lulusannya. Untuk sekelas kampus tertua di Kalimantan dimana saya kuliah dulu, meluluskan mereka yang memiliki IPK diatas standar dan siap kerja adalah yang utama. Itulah mengapa dulu saya pernah nangis guling-guling karena orang tua saya tidak setuju saya merantau dan kuliah di salah satu kampus di Surabaya. Bagi saya, IPK yang hampir sempurna yang saya raih itu tidak sebanding dengan kualitas yang saya miliki. Pernah dulu saya minta diuji lagi untuk satu mata kuliah yang saya rasa itu bukan hasil murni saya. Bagaimana saya tidak meminta untuk diuji ulang, dosen yang mengajar saja jarang masuk dan memberikan materi perkuliahan dan tiba-tiba saja ketika ujian akhir saya mendapatkan nilai A. Ujung-ujungnya oleh salah satu dosen yang mengajar mata kuliah tersebut saya dikatakan orang gila dan hal itu menjadi gosip murahan dikampus. Sangat menyebalkan!

Tiba-tiba saja saya membayangkan Tuhan berkata pada saya, “Sudahlah, Puspa. Itulah takdirmu yang Ku berikan. Disyukuri dan dibikin asyik aja.” Iya, bersyukur adalah jalan satu-satunya agar hati saya tak selalu merasa kesal.

Dear kakak-kakak tingkat akhir khususnya yang ngaku-ngaku aktipis. Menjadi lebih itu membanggakan, tapi menjadi biasa-biasa saja itu mengasyikkan. Jadi, nikmati sajalah kopi, kretek, buku, dan segalanya yang ingin kau nikmati sekarang. Jangan sampai menjadi seperti saya yang jangankan untuk menulis, untuk menikmati kopi dan kretek yang biasa dulu saya nikmati pun sekarang sangat sulit. Jika tak kuat iman, tundalah dulu kelulusanmu dan jika orang tuamu masih bertanya kapan lulus? Jawab saja: KAPAN-KAPAN!