BERBAGI

I dont want to talk about it, how you broke my heart – cuplikan lagu yang dilantunkan oleh Rod Stewart. Siapkan lagu ini ketika nanti ada yang bertanya, “IP-mu berapa?”

Selain menjadi siksaan, Indeks Prestasi (IP) biasnya menjadi tolak ukur giat atau tidak seorang mahasiswa dalam perkuliahannya. Giat maksudnya rajin kuliah dan mengumpulkan tugas. Entah mereka mendapatkannya dengan cara titip absen (TA) atau menghimpun beberapa informasi dari internet lalu menempelkannya pada tugas kuliah, itu bukan urusan saya. Yang jelas, bagus tidaknya IP mempengaruhi masa depan keberlangsungan perkuliahan pemuda harapan bangsa. Mahasiswa memiliki berbagai alasan mengapa mereka mengincar IP tinggi. Agar dapat menempuh 24 SKS semester depan, agar cepat lulus, agar mudah mendapat kerja, agar tidak terjadi reduksi uang bulanan, agar selalu diingat mantan, dan agar-agar lainnya. Pada akhirnya semua terorientasi pada IP.

Hal ini juga dipengaruhi oleh pemikiran khalayak yang masih mengukur kecerdasan seorang mahasiswa dari IP-nya. Dosen pembimbing akademik, keluarga, tetangga, pacar, bahkan mantan setidaknya akan bangga ketika anda mendapat IP kumlot. Namun jarang ada yang bertanya, sedalam apa ilmu yang anda dapat dengan IP sedemikian?

Kakak-kakak aktipis sering dibingungkan dengan masalah ini. Mereka berjuang mempertahankan ideologinya di tengah tuntutan sistem perkuliahan yang membuat mereka menjadi seperti robot. This is robolution, baby!

Ada teman yang memiliki IP lebih tinggi dari saya tetapi ‘gak bisa apa-apa’. Bahasa Inggris gak bisa, ngedit film gak bisa, persentasi hanya jadi operator leptop, jurnalistik nol, tugas hanya bisa copy paste. Bahkan (amit-amit jabang bayi) kata pengantar pun copy paste dari internet. Subahanowloh! Saya bertanya-tanya, apakah mereka memikirkan apa guna kehidupannya bagi masyarakat nanti? Apakah mereka memikirkan bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa? Jangan-jangan yang dipikirannya hanya, bagaimana membagi waktu dengan pacar dan selingkuhannya. Sedangkan teman saya yang lain, meski tak terlalu rajin tetapi dia tetap mengerjakan tugas, dia aktif di organisasi mahasiswa, rajin membaca buku, dan fokus pada satu bidang tertentu. Bidang yang saya kira bakal berguna bagi kemajuan bangsa. Namun sayang, IP-nya hancur. Ditambah lagi perjalanan cintanya yang terjal.

Lalu apa tolak ukur kualitas seorang mahasiswa di era kekinian? Era dimana orang-orang sibuk dengan smartphone-nya masing-masing ketika sedang ngopi.

Di momen Ujian Akhir Semester (UAS) ini, saya hanya ingin mengingatkan: jangan terlalu berambisi pada IP tinggi. Saya bukan mahasiswa baru, juga bukan mahasiswa tingkat akhir. Saya hanya mahasiswa, eh mahasiswi tidak solehah yang terkena azab.

Bayangkan, saya rajin kuliah tetapi tetap saja tidak boleh mengikuti UAS. Alasannya “Absen kurang dari 75%”. Saya tanya pada pelayanan kelas, “Bukan urusan saya! Tanya sama dosen yang bersangkutan!” dia bilang. Saya menurut. Saya mencari Mbah Dosen. “Loh? Saya tidak tahu. Itu bukan urusan saya. Tanya ke pelayanan kelas,” jawab Mbah Dosen. Saat itu saya hanya bisa diam, berjalan menuju sekret, lalu tidur.

Dalam mimpi saya bercakap-cakap dengan Tuhan, apakah saya harus bertanya pada rumput yang bergoyang? Atau tidak bergoyang? Tuhan malah menyuruh saya bangun dan memeriksa sister. Ternyata kesalahan ada pada entri presensi. Tanggal saat saya mendapat dispensasi untuk melakukan semedi, ditulis alpha. Padahal saya sudah menyerahkan surat dispensasi dengan tanda tangan Pembantu Dekan (PD) III tercinta di atasnya. Percuma mengurus dispensasi kesana kemari, nyatanya tidak dianggap. Kandaslah perjuangan untuk mempertahankan IP baik namun tetap aktif di organisasi. Karena kampus sastra yang suci hanya untuk mahasiswa yang giat kuliah dan menempelkan kata pengantar milik orang lain pada makalahnya.

Nilai E, IP jelek, kekecewaan orang tua, dan nasib perkuliahan di semester depan membayang-bayangi saya bak tembelek njoget.

Ah, sudahlah!

Setidaknya ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Ketika pulang ke kampung halaman dan orang tua bertanya, “IP-mu berapa?” Nyanyikan saja lagu I Dont Want To Talk About It yang dilantunkan oleh Rod Stewart di hadapan mereka. []