BERBAGI

Belakangan ini saya sering ngopi dengan para aktipis baik mahasiswa atau dosen. Salah satunya Pramoedya Krisna, seorang yang berjiwa Sastrawan kontekstual, namun potensi itu masih terlelap dalam dirinya. Suatu sore dia bercerita pada saya tentang Doraemon. Tentang sosok boneka kucing biru putih yang panjang kumisnya tak sepanjang penyesalan. Bagi Krisna, kebiruan Doraemon menyimpan daya magis dari ombak lautan. Warna mereka sama-sama biru. Tentu akan sama-sama mengombang-ambingkan Krisna ketika menyelami salah satunya. Apa alasannya?

Mungkin saja karena ada arsitektur bayang-bayang masa lalu yang menginap dalam benda itu. Dia bilang, Doraemon adalah bagian terpenting dari kekasihnya di era sebelum kegelapan. Iya memang, mantannya sangat suka dengan karakter Doraemon. Nah hal itu yang justru membuat Krisna sering memaki-maki dirinya karena tak sanggup menjadi sosok Doraemon bagi kekasihnya. Pernah hadir suatu massa yang mengagetkan, seperti senja yang tiba-tiba hilang jatuh di batas bumi. Kisah cintanya mendadak kelam, pekat, lebih gelap dari struktur imanen aspal cair yang gigantik.

Pasca pengajuan perizinan untuk memutus hubungan percintaan dari kekasihnya, bagi Krisna dunia seketika berubah seperti jaman sebelum cahaya. Hampa. Tak ada apa-apa yang bisa dilihat, selain menyesalan yang mengambang di dalam matanya. Menggenaskan.

Akan tetapi ketika masih kanak-kanak dulu, saya juga pernah suka dengan Doraemon. Setiap Minggu pagi, saya selalu berupaya menggagalkan segala bentuk kesibukan. Tentu saja demi ritus duduk manis di depan televisi menanti tayangan Doraemon.

Satu hal yang kerap membuat saya merasa haru, Doraemon berani melakukan apapun demi menolong Nobita. Nobita mirip dengan masa kecil saya, rapuh, mudah roboh diterpa masalah macam apapun. Termasuk masalah yang pernah saya hadapi ketika awal merasakan haid, bisa jadi. Dampaknya dalam kehidupan sehari-hari, saya selalu mencari sosok yang patut dijadikan sebagai Doraemon.

Lalu saya Googling sosok Doraemon, saya tak menumukannya. Dengan jengkel saya lantas mencarinya di kehidupan nyata. Belakangan ini saya baru menemukan sosok Doraemon itu dalam realitas. Dia adalah salah satu dosen dari perguruan tinggi yang identik dengan patung Tiga Diva. Dia adalah Romdhi Faktur Rozi,

Ketika ngobrol di warung kopi, susah membedakan antara Om Romdhi sebagai dosen atau sebagai kawan karib. Dia melebur begitu saja, menjadikan tak ada kesenjangan antar personal dalam satu meja warung kopi.

Bertahun-tahun orang ini sulit ditemukan keberadaannya. Eksistensinya serupa mitos belaka, tak ada meteri fisiknya tapi dia selalu dijadikan bahan obrolan di tiap lapis jaman.

Dulu semenjak saya sangat aktif di Pers Mahasiwa LPMS Ideas, saya berulangkali menjenguk tempat Om Romdhi biasa melabuhkan masa mudanya, yaitu UKPKM Tegalboto. Sudah pasti yang saya lakukan ialah melakukan pelacakan kekaryaan. Kemudian saya menemukan beberapa helai foto karya Om Romdhi. Fotonya black and white sepertinya dipotret dengan menggunakan kamera SLR.

Pernah suatu kali Om Romdhi mengajari saya memotret black and white ajaran Ansel Adam. Dia bilang ke saya, “Yuk Nobita tak ajarin cara motret hitam putih tapi gak pake kamera SLR. Motretnya cukup pake perasaan. Sementara ketika membidik objek, kita gak pake kedua bola mata yang di tempelin ke view finder, cukup pakai mata hati saja.”

Saya hanya bisa mengangguk dengan ekspresi nanar tak berdaya. Lantas saya bertanya, “Hasilnya bakal black and white juga Om Doraemon?”

“Iyalah black and white, tapi kamu akan sulit menemukan batas antara keduanya. Di era kekinian yang rame perbincangan buzzer termasuk saya sebagai salah satu agennya, tak ada itu hitam atau putih. Malah yang sering kita dapat warna abu-abu, warna yang tak jelas. Batas keduanya bias atau kabur,” ujar Om Romdhi yang budiman dan bertaqwa pada imagine community itu.

Saya langsung meng-iya-kan tafsiran dia yang melampaui kelas menengah ngehe yang kerasukan style alay. Bener juga, apapun yang kau temukan di dunia ini akan berujung pada abu-abu. Meski awalnya berwarna mencolok dan tegas, tapi warna itu hanya halusinasi belaka. Antara penegak hukum dan cara menegakkan hukum gak jelas. Koruptor berduit banyak mampu membeli hukum. Denny JA juga mampu menguasai dunia sastra dengan cara membeli para sastrawan. Sementara banyak orang kecil yang dihukum berat hanya karena memungut beberapa gelintir kayu. Wiji Thukul dan mahasiswa era 98 diculik dan dihilangkan sampai hari ini.

Lantas saya bilang ke Om Romdhi, “Kalau saya tak mau dapat yang hitam putih, gimana caranya Om Doraemon?”

Om Romdhi langsung mengurungkan mengetik beberapa patah kata untuk ‘Sayang Cantik’ di BBM-nya. Lalu dia menyilangkan kakinya. Menegakkan punggungnya. Setelah sejenak tatap matanya ditujukan jauh ke atap warung kopi, dia bilang, “Kau pasti taulah cara meminang warna!”

Saya mengiyakan kembali remahan sabda dari Doraemon yang terdidik itu. Benar juga, barangkali saya bisa menjaring berbagai bentuk warna di warung kopi. Ada daya kemajemukan yang telipat di sana. Sebab warung kopi adalah terminal sosial yang penuh dialog dua arah. Tentu tak seperti waktu-waktu monoton yang biasa kita habiskan di bangku perkuliahan yang seperti Juma’tan. Dosen selalu berceramah satu arah, kita berbicara atau berpendapat apapun pasti disela. Misalnya Bu Ikk, dia tak pernah mau membiarkan mahasiswanya terlihat lebih pintar daripada dirinya. Makanya ibu necis itu kerap mengalihkan topik, menggerutu, mempreasure, atau malah mengakhiri jam perkuliahan. Gengsinya tinggi meskipun wacananya jongkok.

Begitulah kira-kira percakapan saya yang imajiner tersebut dengan sosok Om Doraemon Faktur Rozi. Satu hal yang membedakan dirinya dengan Doraemon hanyalah, dia bukan mesin. Maka dari itu, pernah suatu kali saya ngopi dengan teman saya Si Pawang Hujan. Dia adalah Sada Husaen Mohamad, sosok pria kekinian yang sanggup membendung permasalahan apapun dalam organisasi. Akan tetapi dia selalu saja tak mampu menjadi pawang bagi air matanya sendiri, bagi kegelisahannya sendiri. Sejauh ini dia hanya butuh mantannya sang vokalis melankoli yang ramah itu, kembali untuk dirinya. Maksud saya dia butuh sosok Doraemon. Anggap saja saya khilaf tentang mengapa Sang Pawang Hujan mendadak ingin jadi vokalis karena ingin berduet bersama mantannya. Tidak, bukan begitu maksud saya.

Justru yang ingin saya ceritakan di sini, ketika saya ngopi dengan Si Pawang Hujan, Om Romdhi datang. Lalu tanpa basa-basi, tanpa salammolekum, tanpa celana dalam, Om Romdhi melontarkan curhatan pada kami. Sontak dia membeberkan berbagai bentuk beban yang dia pikul selama ini. Mengharukan sekali. Saya dan Si Pawang Hujan kala itu sampai menghabiskan lima puluh tiga koma dua truk tissue toilet. Bukan. Bukan untuk menghapus air mata saya atau Si Pawang Hujan. Melainkan untuk menyeka air mata yang membludak tak terbendung dari sudut mata Om Romdhi. Sungguh menyesakkan sekali mengingat momen itu, saya dibuat terharu berulangkali jika harus mengingatnya.

Kala itu Om Romdhi bercerita banyak hal. Mulai dari beban sks mengajar yang diampu begitu berjubel. Buku-buku jurnal ilmiah internasional yang tak sempat selesai dia baca karena terlalu sibuk. Gelar professor filmmaker hyper-post-surrealism yang terpaksa harus dia tunda sejenak. Mengenai tanggung jawabnya untuk mencerdaskan anak bangsa di era kekinian. Seputar tugas heroiknya untuk mendidik kondisi perfilman Indonesia. Sampai pengabdiannya sebagai tulang punggung yang memotivasi para followernya. Seperti itulah beban berat yang harus dipikulnya sebagai sosok Doraemon di era tuna identitas ini.

Di sisi tugas berat itu, harus diakui bahwa ternyata dia bukan mesin. Dia hanya manusia biasa yang hasrat mbribiknya tak lekang oleh koneksi internet. Maka dari itu lantas saya bilang ke Si Pawang Hujan, barangkali itu yang membuatnya selama ini lebih terkesan sok hyperpostmo etnicologi. Bayangkan saja, sebagai Doraemon, dia lebih gemar mencover lagu-lagu alay di era super hipokrit ini. Bukankah seharusnya dia lebih memilih untuk merekam kajian atau wacana yang diperlukan kaumnya secara verbal. Kemudian yang lebih tragis, dia lebih memilih merayakan kegamangan di sosial media. Sebuah upaya pengalihan beban dengan cara merayakan teks-teks multi-interteks absurd di twitter. Bukankah seharusnya dia lebih memilih untuk membanyakkan dialog dengan pengikutnya, dalam warung kopi yang membenamkan strata sosial.

Ya tapi begitulah, bagaimanapun juga Om Romdhi atau Krisna bukanlah mesin. Mereka adalah sosok yang telah sekuat-kuatnya, mencoba membantu apapun yang mereka bisa pada sesama yang dikasihinya. Makanya tak heran jika adakalanya mereka lebih akrab dengan pola rumit kaum hipster ortodoks masa kini, yaitu berkomunikasi dengan sepi. Tak ada yang lebih karib dari hujan di bola matanya sendiri.

Mari sejenak merenung atas apa yang telah mereka lakukan demi kita. Ambillah nikmatnya hikmahnya. Sebab mereka telah rela berlelah-lelah merengkuh senggang, guna merenungkan dan bergelisah diri dengan kondisi jaman yang terombang-ambing ini. Dari mereka kita bisa belajar tentang arti berkorban demi kemanusiaan. Tentu bagi mereka, hidup hanyalah usaha panjang untuk menanggalkan ego pribadi. Semoga mereka tenang di sana, meski setelah tulisan ini dipublish, saya tak akan bisa tenang. []