BERBAGI

Assalamualikum, Bu Latifatul Izzah. Apa kabar Bu? Saya berdoa agar Ibu selalu dalam lindungan Allah Swt. Maaf kalau saya baru mengirim doa untukmu, Bu. Saya belum sempat main ke ibu. Ada beberapa hal yang memaksa saya mengurangi intensitas keistiqomaan  mendoakanmu  bermain ke kampus sastra bu. Salah satunya Skripsi. Ya, Skripsi hampir membuat saya lupa bahwa saya masih lelakimu mahasiswamu di Fakultas Sastra Universitas Jember (FSUJ). Artinya, saya masih punya hak untuk mengkudeta berbagi cerita atas apa yang saya temukan di Kampus Sastra ini. Barangkali nantinya bisa Ibu pertimbangkan jadi bahan diskusi dengan para petinggi FSUJ lainnya.

Sebelumya, saya patut mengapresiasi kinerja ibu yang  memoles FSUJ menjadi seperti taman kanak-kanak  kampus sejuta warna. Saya suka sesuatu yang warna-warni loh bu. Disitu kadang saya merasa ingin bernyanyi, Merah, kuning, hijau di langit yang biru. Yuk, nyanyikan bersama-sama. Jangan lupa tepuk tangan dan sesekali lambaikan tangan ke kamera atas ya.

Ada kalanya mengingat-ingat masa kecil menjadi penting, agar kita tahu seberapa jauh kita telah melangkah ke depan.   

Begini bu, saya lihat FSUJ sekarang sudah banyak berubah. Pembangunan terlihat masif di sana sini (sambil nunjuk-nunjuk pekerja bangunan biar kayak Bu Iik beberapa titik). Mulai dari halaman depan (parkir) sampai belakang (sekitar lapangan basket) ibu sulap jadi lebih menarik. Sah saja si bu jika ibu memilih memperbaiki FSUJ dari tampilan fisik. Saya hanya bisa bilang senang. Salah satu yang membuat saya senang adalah soal nama. Saya termasuk orang yang masih mengamini bahwa nama adalah doa loh bu. Setidaknya doa yang menjadi pengharapan orang tua kepada anak lewat sebuah nama. Sebuah nama, Sebuah cerita, kata Noah Band bu.

Betul bu, nama gedung yang terletak di halaman tengah FSUJ maksud saya. Gedung yang dulunya biasa disebut gedung baru itu sekarang diganti dengan nama  Ki Hajar Dewantara. Barangkali ibu dan segenap petinggi FSUJ sedang berikhtiar lewat gedung itu. Tentu ikhtiar agar tiap personal baik itu dosen maupun mahasiswa mau mempelajari kembali buah pemikiran Bapak Pendidikan Nasional itu. Bukan begitu bu?

Tapi nanti dulu bu, jika memang demikian, ibu patut berpikir ulang. Saya merasa kok sepertinya ibu abai dengan permasalahan yang lebih substantif. Ibarat tubuh, ibu cenderung menghias tubuh dengan berbagai asesoris mahal tapi melupakan kondisi tubuh yang sebetulnya butuh pengobatan dari dalam. Hal itu bisa dilihat dari beberapa hal bu. Pertama, perpustakaan. Yuk tengok kondisi perpustakaan FSUJ bu. Lalu cobalah munculkan pertanyaan begini, Apa yang baru dari perpustakaan? Saya yakin ini pertanyaan sulit mudah kok bu. Gak mudah gimana, coba apa jawabannya? Ibu mau menjawab loh bukunya baru kok! Ya, bu bukunya baru. Baru diterima dari sumbangan mahasiswa yang baru saja diwisuda dan alumni. Adakah niatan dari pihak atas untuk mendatangkan buku-buku baru? Saya sudah enggan bertanya pada rumput yang bergoyang.

Selain itu, beberapa waktu yang lalu, saya hendak mengembalikan buku yang saya pinjam di perpus FSUJ. Saya sampai di kamus ketika jam tangan saya menunjukkan pukul 09.15. Jam segitu tentu perpus sudah buka pikir saya. Sial bu, ternyata perpus belum buka. Parahnya lagi, saya mendapati adik Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) yang biasa bantu-bantu di perpustakaan FSUJ di kunci dari luar oleh petugas perpus, bu.

Saya sempat bertanya pada adik tersebut. Tepat di depan pintu perpus yang menjadi batas antara dia dengan saya. “Loh kok dikunci, dek?” tanya saya. “Iya mas, bapaknya masih keluar”, jawabnya. “kira-kira kapan balik ke perpus, dek?’’saya melanjutkan. Ia menjawab,“Gak tau ya mas, bapak tadi hanya bilang mau pulang”. “Lah terus adik gimana? Gak bisa keluar lo!”. “Gak pa-pa mas, paling sebentar lagi datang”. Dua jam lebih saya menunggu di depan perpus tapi bapak itu tak kunjung datang. Saya memutuskan kembali ke parkiran. Sampai di parkiran, saya bertemu dengan beberapa teman dan kakak angkatan yang juga ingin mengembalikan buku. Setelah ngobrol sebentar, mereka dan saya memutuskan kembali ke kos masing-masing.

Kedua, model mengajar dosen.  Sejak pertama  menginjakkan sepatu saya di FSUJ hingga semester tujuh kemarin, saya mengikuti perkuliahan dengan model mengajar dosen yang sama sekali tak ada perubahan. Misalnya, dosen sering kali mengawali perkuliahan dengan melontarkan pertanyaan, Siapa yang ingin jadi guru? Atau siapa yang ingin menjadi dosen? Ini apa sih! Ya, walaupun pertanyaannya tak sesulit pertanyaan calon mertua tapi ini menjemukan, bu. Okelah.. kalau semester pertama diperlakukan begitu tidak masalah. Barangkali masih tahap orientasi yang sebetulnya hanya basa-basi. Tapi kalau sudah semester-semester lanjut buat apa ditanya demikian? Pertanyaan itu hanya membuat mahasiswa lebih banyak menghayal dari pada bertidak lebih dulu, bu.

Ini masih terjadi lo pada kawan saya Kholid Rafsanjani yang notabene sudah sepuh keren. Tak percaya bu? Sila kunjungi curhatannya di kholidraf.wordpress.com

Selain itu, kebiasaan lain yang belum juga dihentikan yaitu dosen meminta flasdisk mahasiswa dengan maksud mengcopykan file materi kuliah yang berformat  power point. Ini mulia sebenarnya bu karena secara langsung dosen masih mau berbagi atau katakanlah mentransfer ilmu pada mahasiswa dengan cara yang sederhana. Hal itu cukup membuat mahasiswa lebih giat bu. Giat untuk mencetak file materi kuliah itu ke ukuran sekecil-kecilya. Makin kecil ukuran cetakan makin siap pula mereka masuk kelas untuk mengikuti ujian.

Memang tidak semua dosen seperti itu sih. Tapi apa salahnya mendiskusikan ulang dengan beberapa dosen terkait model pembelajaran di atas yang sebetulnya berpotensi menjadi bibit kemalasan, bu.

Ketiga, seminar proposal. Loh ada apa dengan seminar proposal? Sepintas memang tidak ada yang aneh kok bu. Tapi saya jadi tak enak rasa ketika dengar cerita dari teman saya, bu. Tentu bukan karena saya iri pada teman saya itu yang sudah lebih dulu seminar. Melainkan pengakuannya kalau seminar ini direkayasa. Saya tak mengada-ada loh bu. Dia bilang bahwa sebelum dia menyampaikan proposalnya, ia sudah lebih dulu menyiapkan dua temannya untuk bertanya ketika  ia selesai memaparkan proposalnya.

Hal ini menurut teman saya atas permintaan salah satu dosen penguji seminar proposal tersebut loh bu. Kata teman saya, alasannya biar menyingkat waktu dan tidak ada pertanyaan diluar dari mahasiswa yang sudah dipersiapkan. Dia mengaku khawatir tidak siap menjawab. Lah terus gimana kalau seminar proposal digelar terburu-buru begitu bu? Cukupkah hanya dilaksanakan dengan durasi satu jam bu? Seminar itu kan setidaknya mendengar masukan dari berbagai pihak yang hadir kan bu.

Oh iya bu, saran saya hanya dua bu. Pertama, kurangi intensitas berkelilingnya di kampus bu. Mengontrol gak tiap hari blusukan kan bu? Ada baiknya ibu duduk manis di ruang kerja sambil sesekali menirukan gaya patung termasyhur yang dibuat Aguste Rodin.

Kedua, ibu I’ik sudah baca curhatannya Sadam? Kalau belum coba deh baca dulu ya bu. Kemudian ada baiknya ibu sekali-kali menemuinya bu. Ya meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya bu. Saya yakin Sadam sayang sama ibu. Tapi ibu tidak pernah membalas cintanya surat cintanya lo. Sudah dua surat yang Sadam buat untuk ibu tapi gak ibu balas.

Pada akhirnya saya hanya bisa bercerita dan memberikan sedikit saran bu. Selebihnya adalah tekad ibu dan pemangku kekuasaan lainnya untuk menindaklanjuti. Sebab, apa sih saya ini, hanya mahasiswa yang diciptakan dari butir-butir tanah yang kelak akan kembali kepangkuanmu  ke tanah, Bu.

Eh lupa, nama saya Mohammad Farhan bu. Wasalam…