BERBAGI

Saya termasuk mahasiswa teladan, tidak sombong, dan rajin sembahyang. Tapi apa daya semua itu kalau skripsi tak kunjung usai di garap? Sungguh, itu sebuah kengerian. Beberapa kali rimbunan pertanyaan terus menghujam saya dengan deras. Baik di kalangan keluarga ataupun teman-teman sebaya. Kapan lulus? Kapan kerja? Kapan married? Fak betul lah! Mereka mungkin tak tahu menggarap sebuah karya agung macam skripsi ini, butuh keteguhan hati dan keimanan yang harus teruji betul. Tentunya, agar kuliah tidak menjadi sebuah langkah sia-sia. Saya kira cukup untuk basa-basinya, mari bercanda dengan serius!

Saya mulai mengenal kata aktivis dan kegiatannya sekitar 3 tahun yang lalu. Berawal dari keinginan untuk menyalurkan tulisan dan berdiskusi. Seiring berjalannya waktu, saya aktif dalam organisasi pers mahasiswa. Lama-kelamaan tak hanya awak aktivis pers mahasiswa saja yang saya kenal, tetapi juga kakak-kakak aktivis keren cum kekinian lain yang gemar mengkritik di luar jalur penulisan.

Tahun lalu, saat saya berkunjung ke Universitas Brawijaya (UB) Malang. Saya melihat solidaritas para aktivis melakukan orasi di depan gedung Rektorat, meminta keadilan atas dilarangnya diskusi film yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa DIANNS Fakultas Iilmu Administrasi UB. Pemimpin orasi, berteriak-teriak penuh semangat mengutuk kampus yang melarang jalannya berdiskusi dan membatasi hak-hak mahasiswa. Hingga akhirnya, pihak birokrasi turun dan sepakat melakukan audiensi.

Sebagai seorang mahasiswa, decak kagum saya tak henti-hentinya mengucur deras, melihat orasi-orasi yang menggebu-gebu. Penuh dengan teriakan hingga urat leher mencuat ke permukaan. Toa dipegang erat-erat. Tangan mengepal terangkat ke atas. Wow, apalagi kata-katanya itu padat dengan kritik. Terlebih lagi yang dibela adalah rakjat dan buruh. Setiap kata-kata yang terlontar, selalu membela kaum tertindas. Sungguh itu sebuah revolusi, melawan penindasan birokrasi dan pihak-pihak yang tak menghargai hak asasi.

Tapi kemarin malam, saat ngopi bersama kedua orang kawan, kami bertiga membahas tentang kerupuk sebagai bagian dari budaya rakjat. Dimana lewat makan kerupuk kita sudah menghargai rakjat kecil. Hidup kerupuk! Setelah itu, saya mulai berpikir cukup dalam mengenai pola kinerja aktivis hari ini.

Kekaguman saya kepada para aktivis tiba-tiba sirna dan lenyap. Hari ini, saya melihat perjuangan aktivis hanya sebatas pencarian panggung eksistensi diri. Dengan lantang mengeluarkan kata-kata membela kaum tertindas. Kemudian lenyap dengan nasi bungkus dan amplop impian. Warbyasa! Terlebih lagi, berbicara panjang lebar tentang anti kapitalisme yang merugikan buruh dan rakjat kecil di warung kopi. Tapi malah lebih memilih KFC dibanding warung kopi pinggiran. Ngopi pun tak mau ditempat sederhana yang tak bisa dibuat selfie-selfie. Takut dengan kebersihan air kopi seharga Rp. 2500 dan memilih kopi di café kekinian dengan harga Rp. 25000. Lantas, kemana omongan tentang anti kapitalisme tadi?

Terlebih lagi, baru-baru ini salah satu organisasi yang menghasilkan aktivis macam Mahfud MD, HaeMIh benar-benar menodai citra aktivis sebagai kaum pembela rakjat. Kongres HaeMIh di Riau beberapa waktu lalu, telah menghasilkan generasi bar-bar yang makan tak mau bayar. Dana kongresnya Milyaran, tapi makan di warung rakjat tak mau bayar. Apa kata dunia? Ditambah, melarang acara Belok Kiri.Fest di Taman Ismail Marzuki, dengan Toa dan spanduk bertuliskan kalimat yang mengada-ada.

Saya melihat perilaku macam itu tak ada bedanya dengan FPI. Bertindak kasar, rasis, arogan dan bar-bar demi nasi bungkus dan amplop penyambung hidup. Mengganggap dirinya paling suci dan mendepak yang tidak sesuai dengan ideologi mereka. Diskusi mengenai Marxisma, Leninisma, sampai Ndasma tapi cuma manis dimulut doang.

Aktivis hari ini lebih banyak melihat jabatan yang akan diperoleh dan tak segan-segan mendukung kepentingan elite ataupun birokrasi. Demi apa coba? Ya demi hidup yang tak sengsara dong. Rakjat dipanggil-panggil hanya saat orasi dan tersedia nasi bungkus. Tapi kalau tak ada orasi, yang mending ngopi dan selfie-selfie di tempat-tempat borju lah.

Apa kata Paulo Freire jika yang digadang-gadang sebagai intelektual organik keluakuannya tak jauh-jauh dari apa yang disebut oleh Marx sebagai kelas borjuis. Semoga saya tidak seperti itu agar Freire beristirahat dengan tenang di alam kuburnya.

Alangkah indahnya kalau kakak aktivis nan keren dan rupawan membela rakjat dengan tulus tanpa ada susupan kepentingan penguasa. Seperti kata Bung Hatta “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur, itu sulit diperbaiki”. Bagaimana kita mau membela rakjat, kalau pada diri sendiri saja masih tidak jujur. Gitu mau bela rakjat, kak.. kak..

Ngaca dulu dong!

 

*Foto didapat dari sini